Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 58


__ADS_3

Akhirnya, malam pun tiba setelah teman-temannya memasuki kamar yang telah disediakan. Dian perlahan duduk dan mulai mendekati kedua orang tuanya di ruang keluarga yang memang masih menonton televisi itu. Dia merasa gugup, tapi dia membayangi dengan dukungan dari teman-temannya, dia perlahan sambil mencoba untuk tetap tenang.


"Dian, apa yang ingin kamu bicarakan sebenarnya, Nak?" tanya Ibu Dian dengan penuh perhatian yang memang sudah curiga dengan gelagat dari anaknya tersebut.


Dian mengambil nafas dalam-dalam, "Ibu, Ayah, ada sesuatu yang ingin Dian ceritakan. Dian... saat ini sedang hamil."


Kedua orang tua Dian tampak terkejut mendengar pengakuan dari putri mereka. Ayah Dian menyentuh tangan Dian dengan lembut, "Kamu pasti merasa cemas untuk mengungkapkan ini, kan?"


Dian mengangguk, air matanya mulai berlinang. "Iya, Ayah. Dian merasa takut dan khawatir tentang bagaimana kalian akan merespon ini."


Ibu Dian menarik Dian ke dalam pelukannya, "Kami mungkin terkejut, tapi itu tidak berarti kami tidak mendukungmu, Nak. Kamu adalah anak kami, dan kami akan selalu mencintaimu tanpa syarat."


Ayah Dian menambahkan, "Kami menghargai kejujuranmu, Dian. Apapun keputusanmu, kami ada disini untukmu. Katakan pada Ayah, apa yang kamu inginkan?"


Dian merasa lega mendengar dukungan dan cinta dari orang tuanya. Dia menyeka air matanya dengan lembut dan menjawab, "Terima kasih, Ayah, Ibu. Dian tahu bahwa ini adalah keputusan besar yang mempengaruhi banyak hal, tapi Dian ingin bertanggung jawab atas perbuatan Dian sendiri."


Ibu Dian tersenyum lembut, "Kamu adalah anak yang baik, Nak. Kami tahu bahwa kamu akan menghadapinya dengan bijaksana."


Ayah Dian menambahkan, "Jangan merasa sendirian, Dian. Kami akan mendukungmu dalam setiap langkah yang kamu ambil."


Dian merasa lega karena orang tuanya menerima keputusannya dengan baik. Dian kemudian bercerita tentang bagaimana dia dan teman-temannya berusaha untuk menghadapi situasi ini dengan matang dan bertanggung jawab. Dian juga menjelaskan bahwa mereka berencana untuk menikah dan bertanggung jawab sebagai orang tua bagi bayi yang akan datang.


Meskipun awalnya terkejut, orang tua Dian menyaksikan keberanian dan tekad anak mereka untuk menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka. Mereka merasa bangga dengan Dian yang telah mencari dukungan dari teman-temannya dan merencanakan langkah selanjutnya dengan bijaksana.


Perlahan tapi pasti, akhirnya Dian dengan jujur dan terbuka menjelaskan bahwa ia hamil bukan oleh Raka, melainkan oleh Bobby, pria yang belum lama ia kenal. Dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada orang tuanya karena tidak berbicara terbuka sejak awal.


Dian pun menceritakan bahwa Raka sebenarnya adalah kekasihnya Rani. Raka setuju untuk menikahi Dian atas saran dan permintaan dari kekasihnya itu, Rani.


Orang tua Dian terkejut mendengar berita ini, tapi mereka juga menghargai kejujuran Dian. Ayah Dian menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Kami menghargai bahwa kamu berani mengakui kesalahanmu, Nak. Tapi kamu harus tahu bahwa apa yang telah terjadi adalah hal yang serius dan mempengaruhi masa depanmu."


Ibu Dian menambahkan, "Kami akan selalu mencintaimu, Dian, tapi sebagai orang tua, kami juga harus memikirkan konsekuensi dari keputusanmu. Kita harus mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak yang terlibat."


Dian mengangguk, "Dian mengerti, Ibu. Dian tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini, tapi Dian benar-benar merasa takut dan bingung saat itu."


Ayah Dian memahami perasaan putrinya dan berkata dengan lembut, "Tidak apa-apa, Nak. Kita semua pernah menghadapi ketakutan dan kebingungan dalam hidup. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita menyelesaikannya dengan bijaksana dan bertanggung jawab."


Ibu Dian menambahkan, "Kamu tahu bahwa kami akan selalu ada untukmu, Dian. Kita akan bersama-sama mencari jalan terbaik untuk menghadapi situasi ini."

__ADS_1


Dian merasa lega mendengar dukungan dari orang tuanya. Dia merasa bahagia bisa berbicara terbuka dengan mereka dan baru sadar bahwa mereka ternyata akan mendukungnya dengan sepenuh hati.


Dian tersenyum, merasa lega karena reaksi positif dari orang tuanya. Setelah obrolan itu berakhir, kedua orang tua Dian menyuruhnya untuk segera tidur dan beristirahat. Mereka berjanji akan melanjutkan pembicaraan besok hari bersama teman-teman Dian yang sudah hadir di rumah.


Setelah menyampaikan kabar penting kepada orang tuanya, Dian merasa beban dihatinya menjadi lebih ringan. Dia tahu bahwa perjalanan ini belum berakhir, namun dia merasa lebih percaya diri karena mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya, suasana di rumah Dian terasa lebih ringan. Dian dan kedua orang tuanya bangun pagi dan bersiap-siap untuk teman-teman Dian yang akan berkumpul kembali untuk melanjutkan pembicaraan dari hari sebelumnya.


Saat teman-teman Dian keluar dari kamarnya masing-masing, mereka disambut dengan hangat oleh kedua orang tua Dian. Ibu Dian menyediakan makanan dan minuman untuk semua orang, menciptakan suasana yang santai dan akrab di sekitar meja makan.


Saat di ruang makan,


"Bapak benar-benar terkesan dengan kalian semua," ucap Ayah Dian dengan tulus. "Kalian telah mendukung dan membantu Dian dengan begitu baik. Kami sangat berterima kasih."


Raka, Ryan, Ratna, dan Rani saling bertatapan dengan expresi wajah yang bingung setelah mendengar ucapan dari ayahnya Dian.


Dian yang saat itu berada ditempat yang sama dengan mereka hanya senyum-senyum saja menggambarkan expresi wajah yang lepas dan seakan masalahnya yang kemarin begitu rumit pun seakan menghilang begitu saja.


Rani tersenyum dan berkata, "Kami semua ingin yang terbaik untuk Dian dan Raka. Kalian berdua adalah orang tua yang tangguh dan penuh cinta, dan kami senang bisa mendukung kalian." Rani berusaha memahami kondisi saat ini.


Raka menambahkan, "Kami akan menjalani tanggung jawab ini dengan sepenuh hati. Kami berjanji akan mencintai dan merawat bayi ini dengan baik." Raka dan Rani mengungkapkan hal tersebut seolah-olah rahasia mereka sudah diketahui oleh kedua orang tuanya, Dian.


Kedua orang tua Dian merasa bangga dengan teman-temannya yang begitu dewasa dan penuh rasa tanggung jawab. Mereka menyadari betapa beruntungnya Dian memiliki teman-teman yang selalu siap berada di sisinya, terutama dalam momen yang sulit seperti ini.


"Kami tahu ini bukan hal yang mudah, tapi kami yakin kalian akan mampu menghadapinya dengan baik," kata Ibu Dian. "Kami akan selalu mendukung keputusan kalian dan membantu sebisa mungkin."


Ayah Dian menambahkan, "Kalian berdua telah menunjukkan keberanian dan kematangan dalam menghadapi situasi ini. Kami percaya bahwa kalian kelak akan menjadi orang tua yang luar biasa.” sambil menatap kearah Raka dan Rani.

__ADS_1


Setelah ditatap oleh ayahnya Dian, Raka dan Rani agak sedikit gelisah tapi mereka berusaha untuk menyikapinya dengan cara senormal mungkin.


Dian tersenyum bahagia melihat dukungan dan kebanggaan dari kedua orang tuanya. Dia merasa lega dan bersyukur atas cinta dan dukungan yang terus mengalir dari keluarga dan teman-temannya. Semua perjuangan dan tantangan yang mereka hadapi bersama akan menjadi landasan untuk masa depan yang lebih baik.


Setelah itu, Raka melanjutkan pembicaraan dengan lebih serius tentang rencana pernikahannya dengan Dian, serta persiapan untuk menyambut kelahiran bayi. Semua teman-temanya berkontribusi dengan ide-ide dan saran yang berharga, saling mendukung dalam setiap keputusan yang diambil.


Namun,


“Siapa yang akan menikah, nak Raka?” tanya ayahnya Dian.


Sesaat mereka semua terdiam. Raka, yang mendengarnya, pun terdiam sejenak atas pertanyaan dari ayahnya Dian. Dia mencoba memahami perlahan maksud dari kalimat itu. Lalu sesaat kemudian, dia menyadari sesuatu dan lantas melirik ke arah Dian. Raka melihat Dian tersenyum dengan lebar dan raut wajah yang nampak ceria, seperti pertama kali mereka bertemu. Semakin lama, Raka semakin menyadari bahwa Dian sudah menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya.


Terlihat wajah Raka yang sedikit bingung begitu juga dengan teman-temanya, tiba-tiba ayahnya Dian tertawa lepas sambil berkata.


“hahahahaha,,, Bapak sudah tahu semuanya, Nak. Kamu gak usah takut.”


Perlahan, Raka mengangguk mengerti dan juga ikut tersenyum. Dia merasa terharu dan bangga melihat keberanian Dian dalam menghadapi situasi ini dengan jujur. Raka tahu bahwa Dian telah berjuang keras dan dengan bijaksana mengambil langkah-langkah untuk menghadapi tanggung jawab yang ada di hadapannya.


"Nanti kita bicarakan lagi, ya, Nak," ucap ayahnya Dian kepada Raka. "Sekarang kita lekas makan saja, bicaranya nanti saja. Ayo... ayo..." lanjut ayahnya Dian kepada semua teman-teman Dian yang berada di sana.


Dengan senyum lega, mereka semua mengangguk setuju. Mereka pun lantas makan untuk menikmati sarapan bersama. Meskipun ada banyak hal yang harus dihadapi, saat ini mereka tahu bahwa yang terpenting adalah bersatu dan saling mendukung satu sama lain. Semangat persaudaraan dan kebersamaan terasa begitu kuat di antara mereka, dan mereka siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang dengan penuh keyakinan dan keberanian.


.


.


.


.


.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,😁🙏😁!

__ADS_1


__ADS_2