Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 62


__ADS_3

Dian merasa keterkejutan yang begitu besar melihat kehadiran Bobby di depan pintu rumahnya. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan campur aduk yang melanda hatinya.


Campuran perasaan terkejut, kesal, dan kecewa. Hatinya berdegup kencang, mengingat beberapa waktu lalu yang pahit ketika Bobby meninggalkannya begitu saja setelah mengetahui bahwa dia hamil.


"Bobby, apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Dian dengan nada tajam, tetapi juga sedikit tercekat karena berusaha menahan emosinya.


Bobby mencoba tersenyum, namun wajahnya terlihat tegang. "Dian, aku datang untuk minta maaf. Aku tahu bahwa aku telah membuatmu menderita, dan aku menyadari betapa bodohnya tindakan yang telah aku lakukan."


Dian merasa hatinya berkecamuk. Dia ingin marah dan mengusir Bobby dari rumahnya, tetapi dia juga merasa campur aduk dengan kehadiran pria itu. Sebagai ayah dari anak yang akan lahir, Bobby juga memiliki tanggung jawab.


"Sudah terlambat, Bobby. Aku sudah menerima kenyataan dan siap menghadapi masa depan bersama teman-temanku dan keluargaku," ujar Dian dengan tegas.


Dian menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan emosi yang memuncak di dalam dirinya. Dia merasa terluka dan kecewa dengan sikap Bobby yang menghilang tanpa penjelasan.


"Bobby, aku tidak bisa menyangkal bahwa aku pernah sangat terluka dengan apa yang kamu lakukan. Tapi sekarang, aku sudah menemukan kebahagiaan dan dukungan dalam hidupku, tanpa kamu," kata Dian dengan hati-hati.


Bobby terlihat menyesal, "Dian, aku sangat menyesal telah menyakitimu. Aku berharap bisa merubah waktu dan memperbaiki kesalahanku. Aku ingin bertanggung jawab sebagai ayah dari anak ini, anak kita, Dian."


Dian menggeleng lembut, "Bobby, aku akan menghormati keputusanmu untuk bertanggung jawab sebagai ayah. Tapi perlu kamu tahu, aku tidak akan memaksamu untuk terlibat dalam kehidupan anak ini jika kamu benar-benar tidak ingin."


Bobby menatap Dian dengan tulus, "Aku ingin menjadi bagian dari kehidupan anak ini, Dian. Meskipun aku tahu bahwa aku tidak bisa menghapus luka yang pernah aku sebabkan, aku ingin mencoba menjadi ayah yang baik."


Dian merasa hatinya terombang-ambing antara rasa marah dan rasa haru. Dia tahu bahwa memaafkan tidak berarti melupakan, tapi dia juga percaya bahwa manusia bisa belajar dan berubah dari kesalahan.


Orang tua Dian melihat keadaan yang sedang terjadi di depan pintu. Ibu Dian segera mendekati Dian dengan penuh perhatian dan mencoba menenangkan putrinya yang terlihat terguncang.


"Sayang, duduklah dulu sebentar. Mari kita bicarakan semuanya dengan tenang," ucap Ibu Dian dengan lembut.


Dian mengikuti saran ibunya dan duduk di sofa. Raka dan Rani juga ikut mendekat dan duduk di sebelahnya, memberikan dukungan dengan tatapan penuh pengertian.


Ayah Dian kemudian berbicara dengan Bobby, "Baiklah, mari kita masuk dulu. Kita akan bicarakan semuanya dengan kepala yang dingin. Mungkin ada banyak hal yang harus kita bicarakan."


Bobby mengangguk mengerti dan mengikuti Ayah Dian masuk ke dalam rumah. Ryan dan Ratna juga mengikuti ke dalam untuk memberikan dukungan pada Dian dan keluarganya.

__ADS_1


Setelah semua orang duduk di ruang keluarga, suasana menjadi lebih tenang. Mereka saling bertatap-tatapan, membiarkan waktu untuk meredam emosi yang tengah berkecamuk.


Ayah Dian kemudian berbicara dengan penuh kebijaksanaan, "Baiklah, mari kita bicarakan ini dengan hati yang tenang dan terbuka. Nak Bobby, kami menghargai keputusanmu untuk bertanggung jawab sebagai ayah. Tapi kita juga perlu berbicara tentang bagaimana kita akan mengatur hal ini dengan baik."


Bobby tampak tegang, namun dia berusaha untuk tetap tenang, "Saya mengerti, Pak. Saya tahu bahwa saya telah membuat anak Bapak, Dian. Menderita, dan saya ingin minta maaf sekaligus ingin berusaha memperbaikinya."


"Bagus, tapi ingat bahwa ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak pertimbangan yang harus kita pikirkan bersama," sambung Ayah Dian.


Ayah Dian menatap Bobby dengan serius, "Nak Bobby, sebelumnya kami ingin tahu alasan sebenarnya mengapa kamu meninggalkan Dian saat kamu tau, Dian positif hamil. Ini bukan keputusan yang ringan dan meninggalkan seorang wanita dalam kondisi seperti itu, itu sangat tidak bertanggung jawab."


Bobby menggigit bibirnya, tampak ragu untuk menjawab. Dia merasa malu dan menyesal atas keputusannya di saat itu, tapi dia juga tahu bahwa dia harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya.


"Saat itu, saya merasa ketakutan dan tidak siap untuk menerima kenyataan," ucap Bobby perlahan. "saya tahu bahwa itu bukanlah alasan yang tepat, tapi saya benar-benar panik saat itu dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan."


Ibu Dian menatap Bobby dengan tajam, "Kamu tidak bisa hanya menggunakan rasa takut sebagai alasan untuk meninggalkan Dian begitu saja. Seorang pria sejati harus bertanggung jawab atas perbuatannya dan tidak melarikan diri dari tanggung jawabnya."


Rani juga ikut bicara dengan tegas, "Kamu bisa saja mencari dukungan dari kami atau dari keluarga Dian jika kamu merasa takut atau bingung. Bukannya malah pergi tanpa sepatah kata pun membuat Dian harus menghadapi semuanya sendirian."


Bobby menunduk, merasa malu dan bersalah. "Saya tahu bahwa saya telah berbuat salah, dan saya sangat menyesal atas itu. Saya ingin mencoba memperbaikinya dan menjadi ayah yang baik untuk anak ini."


Raka, yang selama ini diam menyimak, akhirnya ikut berkata, "Kami semua harus mencari jalan terbaik untuk kepentingan anak ini. Aku berharap kamu bisa membuktikan dengan tindakanmu bahwa kamu benar-benar siap untuk bertanggung jawab sebagai ayah."


Bobby mengangguk, "Saya berjanji akan melakukan yang terbaik. Saya akan mendukung Dian dan anak ini, dan saya tidak akan pernah meninggalkan mereka lagi."


Ayah Dian mengangguk puas, "Baiklah. Kami akan memberikan kesempatan kedua padamu. Tapi ingat, kamu harus membuktikannya dengan tindakan nyata dan konsisten."


Semua orang di ruangan itu merasa haru dan terharu melihat perubahan sikap Bobby yang berani mengakui kesalahannya dan berusaha untuk memperbaiki semuanya.


Dian sedikit merasa lega bahwa Bobby akhirnya berani hadir untuk bertanggung jawab sebagai ayah, meskipun awalnya terasa sulit bagi mereka semua. Dia tahu bahwa perjalanan mereka ke depan tidak akan mudah, tapi dia percaya bahwa dengan dukungan dari teman-teman dan keluarganya, mereka akan melewati semua rintangan bersama-sama.


Setelah percakapan yang penuh emosi tadi, Ayah Dian merasa perlu untuk memberikan waktu bagi semua orang untuk merenungkan dan meredam perasaan masing-masing. Dia tahu bahwa setiap orang membutuhkan waktu untuk memproses apa yang telah terjadi dan menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan.


"Dian, Bobby, Raka, Rani, Ryan, dan Ratna, mari kita semua beristirahat sejenak. Setelah percakapan yang intens ini, mari biarkan pikiran dan hati kita kembali tenang. Kita bisa melanjutkan pembicaraan ini besok pagi dengan kepala yang lebih jernih," ucap Ayah Dian dengan bijaksana.

__ADS_1


Semua orang setuju dengan saran Ayah Dian. Mereka merasa bahwa perlu waktu untuk merenungkan dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan pembicaraan penting ini. Setelah saling memberikan salam dan dukungan, Bobby pun berpamitan untuk pulang sementara.


Setelah Bobby mengatakan berpamitan untuk pulang, Ayah Dian melihat bahwa waktu sudah terlalu larut malam dan pikiran masing-masing anggota keluarga masih kacau setelah percakapan yang intens. Dia merasa perlu untuk mengambil tindakan untuk menjaga keselamatan Bobby.


"Nak Bobby, mengapa kamu tidak menginap saja di sini untuk malam ini?" ucap Ayah Dian dengan penuh kebijaksanaan.


Dian memandang Bobby dengan ekspresi campur aduk. Meskipun dia sudah lega karena Bobby berani hadir untuk bertanggung jawab tapi di hatinya masih merasa ragu dengan kehadiran Bobby kembali, tapi dia tahu bahwa Ayahnya benar dalam memberikan saran untuk tidak pulang malam ini.


"Saya setuju dengan Bapak. Menginap saja di sini untuk malam ini, agar kita bisa melanjutkan pembicaraan besok dengan kepala yang lebih dingin, kamu juga tampaknya sangat lelah." tambah Raka, menunjukkan dukungan pada Ayah Dian.


Bobby mengangguk mengerti, "Baiklah, kalau begitu terima kasih. Saya akan menginap di sini."


Ryan yang selama ini diam, juga menambahkan, "Kamu bisa tidur dengan saya dan Raka. Agar kita bisa berbicara lebih lanjut besok pagi."


Setelah itu, mereka bersiap-siap untuk tidur. Bobby merasa campur aduk dengan perasaan cemas dan haru. Dia tahu bahwa ini adalah momen penting dalam hidupnya, dan dia berharap bisa menghadapinya dengan baik.


Saat semua orang berjalan menuju kamarnya masing-masing, Raka bergerak sebaliknya menuju pintu depan untuk merokok. Rani yang melihatnya pun akhirnya menyusul mengikuti Raka. Mereka berdua berdiri di luar rumah dalam keheningan malam.


Rani menatap Raka dengan ekspresi khawatir, "Kamu baik-baik saja, Mas?"


.


.


.


.


.


🌻🏡️🌸🌺🌷πŸ₯€πŸŒΉπŸŒΌπŸŒΉπŸ₯€πŸŒ·πŸŒΊπŸŒΈπŸ΅οΈπŸŒ»


** Hai readers, ini karya pertama ku. BenarΒ² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa πŸ‘ like kalian juga ku nanti.

__ADS_1


Terima kasih,πŸ˜πŸ™πŸ˜!


__ADS_2