
Ratna yang terkejut karena ada yang menarik tangannya dari arah belakang. Dia segera menoleh dan melihat Dian, teman baiknya, dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Dian? Kau sudah bangun?" tanya Ratna dengan penuh perhatian.
Dian mengangguk pelan, matanya terlihat sedikit sembab akibat menangis semalaman. "Ya, aku sudah bangun, Apa yang terjadi?"
Ratna terlihat ragu sejenak, tidak yakin apakah harus menceritakan apa yang dia lihat di balkon. Namun, dia merasa Dian adalah salah satu orang yang perlu mengetahui.
"Dian, aku tadi melihat Mas Raka dan Mbak Rani di balkon. Mereka terlihat bersedih dan berpelukan," ucap Ratna dengan hati-hati.
Dian tampak terkejut dan kembali meneteskan air mata. "Apa yang terjadi? Mengapa mereka bersedih?"
Ratna menggenggam tangan Dian dengan lembut. "Aku tidak tahu persis, tapi sepertinya ada masalah yang rumit di antara mereka berdua. Mungkin ini terkait dengan keputusan yang akan diambil Mas Raka."
Dian menarik nafas dalam-dalam, mencoba meredakan gejolak perasaannya. "Aku tahu Mbak Rani dan Mas Raka adalah sepasang kekasih yang sangat mencintai satu sama lain. Aku tidak ingin menjadi penyebab masalah di antara mereka."
Ratna menggenggam tangan Dian dengan lebih erat. "Dian, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Mereka berdua harus menghadapi masalah ini dan menemukan jalan keluarnya bersama. Kamu tidak sendirian dalam menghadapinya, kita semua ada di sini untukmu."
Sementara itu, di balkon, Raka dan Rani akhirnya melepaskan pelukan mereka. Wajah mereka masih menyiratkan perasaan campur aduk.
Rani menarik napas, mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara lebih jujur dengan Raka. "Mas, aku tahu ini tidak mudah untukmu, dan aku tidak ingin membuatmu bersedih."
Raka menatap Rani dengan penuh kasih sayang. "Rani, aku mencintaimu. Tapi Mas juga tidak bisa mengabaikan perasaanmu dan tanggung jawabmu terhadap Dian. Kamu harus berbicara dengan Dian dan mencari tahu apa yang sebenarnya dia butuhkan dan inginkan."
Rani mengangguk, air matanya masih berlinang. "Rani akan melakukannya. Tapi tolong jangan merasa terbebani oleh keputusanku, Mas. Rani hanya ingin menemukan jalan terbaik bagi kita semua."
Raka tersenyum lembut. "Mas tahu, Rani. Kita akan menemukan cara melalui ini bersama-sama. Ingat, Mas akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ryan yang baru saja keluar dari kamarnya dan akan sarapan pagi pun sedikit agak bingung saat ia sesaat ingin menuruni tangga. Karena ia samar-samar mendengar suara perempuan yang sedang berbicara dari kejauhan yang arahnya dari lorong yang akan menuju ke balkon.
Ryan pun lantas menyusuri suara itu sambil memikirkan sesuatu. Setelah Ryan sampai di ujung lorong tersebut Ryan sedikit terkejut melihat Ratna dan Dian yang berada di sana dengan kondisi Dian yang sedang bersedih dan Ratna yang sedang menguatkan Dian.
Ryan yang melihat Ratna dan Dian bersedih, langsung mendekati mereka dengan wajah penuh kekhawatiran. "Eh, Ratna, Dian, ada apa?"
Ratna menoleh ke arah Ryan dan mencoba tersenyum. "Eh, Mas Ryan. Ini, ehm, ada sedikit masalah yang telah kita bahas semalam."
Dian mengusap lembut air matanya dan mencoba tersenyum juga. "Ya, Mas. Ini adalah masalah antara aku, Mbak Rani, dan Mas Raka. Tapi jangan khawatir, kami akan mencoba menyelesaikannya."
Ryan tetap mengalihkan pandangannya antara Ratna dan Dian, merasa ada sesuatu yang mereka tutup-tutupi. "Baiklah, jika kalian butuh bantuan atau ada yang bisa Mas lakukan, jangan ragu untuk bilang, ya."
Ratna dan Dian mengangguk, merasa terharu dengan perhatian Ryan. Mereka tahu bahwa teman-teman mereka ada untuk saling mendukung dalam situasi sulit seperti ini.
Ryan yang sedang fokus kepada Ratna dan Dian. Ia tidak sempat atau melirik ke arah balkon yang di sana ada Raka dan Rani.
Lalu, Ryan mengajak kedua wanita itu untuk sarapan sebelum melanjutkan rencana Rani di hari ini.
βyah sudah, kita sarapan dulu yuk!β ajak Ryan
Ratna dan Dian mengangguk setuju, merasa terhibur oleh kehadiran Ryan yang selalu peduli dengan mereka. Mereka berdua mengikuti Ryan ke meja makan dan mulai menyantap sarapan pagi.
"Mari kita bicara tentang rencana hari ini," ujar Ryan sambil menyendok makanannya. "Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
Ratna mencoba tersenyum dan menjawab. "Ratna mau langsung mandi dulu, Mas. Ratna ingin merilekskan diri dulu sebentar."
Dian juga ikut berbicara, meskipun dengan perasaan sedihnya. "Aku ingin bertemu dengan Mas Raka dan Mbak Rani lagi, mungkin aku sudah merusak rencana mereka."
Ryan tersenyum penuh pengertian. "Tentu, silahkan mandi dulu jika kamu butuh waktu untuk merilekskan diri, Ratna. Mas juga akan berada di dekat sini jika kamu ingin berbicara atau butuh bantuan."
Ratna mengangguk dan berterima kasih pada Ryan. Kemudian dia melirik ke arah Dian, mencoba menenangkan temannya yang tampak khawatir. "Dian, jangan merasa seperti itu. Ini bukan salahmu, dan kami semua tahu bahwa ini juga bukan keinginanmu."
Dian mengusap lembut pipinya, mencoba menghilangkan bekas air mata. "Aku tidak ingin merusak rencana mereka. hanya karena membantu permasalahanku."
Ratna menepuk bahu Dian dengan penuh kasih sayang. "Kita akan memberikan dukungan tanpa mengganggu rencana mereka, Dian. Mari kita berbicara dengan mereka lagi nanti, tetapi untuk saat ini, biarkan mereka memiliki waktu untuk berdua."
Setelah sarapan selesai, Ratna dan Dian pergi masing-masing sesuai dengan rencana mereka. Ratna menuju kamar mandi untuk merilekskan diri, sedangkan Dian memutuskan untuk pergi ke taman sebentar dan menenangkan pikirannya.
__ADS_1
Ryan yang semenjak tadi menyimak percakapan dua wanita itu, baru menyadari kalau Rani sudah datang dan saat ini sedang bersama dengan Raka di balkon. Tanpa harus berbuat sesuatu Ryan Pun melakukan kembali aktivitasnya seperti biasanya setelah sarapan yaitu membaca koran sambil menikmati kopi.
.
.
.
.
.
Sementara itu, Raka dan Rani masih duduk di balkon, berbincang dan berusaha mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Mereka tahu bahwa keputusan yang akan diambil akan berdampak besar pada hubungan mereka dan orang-orang di sekitar mereka.
"Apapun yang terjadi, Rani, kita harus berbicara dengan Dian secara jujur dan terbuka," kata Raka dengan tegas. "Kita perlu mendengar apa yang dia inginkan dan perlukan dari kita."
Rani mengangguk setuju. "Iya, Mas. Tapi Rani takut menyakiti hati Dian atau bahkan hati kita sendiri."
Raka menggenggam tangan Rani dengan penuh kasih sayang. "Kita akan melewati ini bersama, Ran. Kita adalah tim, dan masalah ini adalah ujian bagi kita. Kita harus saling mendukung dan mencari solusi terbaik."
Rani tersenyum menghangatkan hati. "Terima kasih, Mas. Rani beruntung memiliki Mas sebagai pasangan."
Raka tersenyum balas. "Mas juga beruntung memiliki kamu, Rani. Kita akan menghadapi ini bersama-sama dan memastikan bahwa semua orang yang kita cintai merasa dihargai dan diperhatikan."
.
.
.
.
.
π»π΅οΈπΈπΊπ·π₯πΉπΌπΉπ₯π·πΊπΈπ΅οΈπ»
** Hai readers, ini karya pertama ku. BenarΒ² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa π like kalian juga ku nanti.
__ADS_1
Terima kasih,πππ!