
"Kamu nikah saja sama Mas Raka!" ucap Rani.
Semua orang yang berada di tempat itu terkejut mendengar kalimat dari Rani yang diucapkan dengan santainya.
"Kamu kalau bercanda yang benar saja, Ran!" Ujar Raka dengan tegasnya.
Ryan, yang sebelumnya sudah mengetahui rencana dari Rani itu ikut terkejut mendengarnya, karena cara mengucapkan Rani yang begitu terkesan santai dan tanpa berdosa itu, ia keluarkan dengan mudahnya.
Ditambah dengan pemikiran dia yang sesaat tadi, ternyata itu semuanya salah.
"Rani tidak sedang bercanda, Mas! Ini demi kebaikan Dian. Lagi pula, Rani setuju bila Mas mau mengikuti rencana Rani ini!" Jelas Rani.
"Rencana apa, Ran!" Raka yang mulai geram dengan ide anehnya Rani.
Ryan yang melihat sahabatnya itu mulai emosi, akhirnya ikut buka suara.
"Sabar, Ka! Bukankah itu seperti dirimu."
Raka langsung menoleh pada Ryan setelah mendengar itu.
"Maksudnya?"
"Iya … harusnya ide itu keluar dari pemikiran mu, 'kan! Biasanya kamu yang suka membuat ide aneh-aneh seperti itu, ya 'kan." Tutur Ryan sambil tersenyum menggoda agar suasana tidak begitu memanas.
Sontak Raka terdiam setelah mendengar itu dari sahabat terbaiknya sendiri.
Karena, saat Raka sedang melamun di kamar sebelum Rani menemuinya, pemikiran seperti itu memang sempat terlintas di benaknya untuk membantu Dian.
Tapi dia tidak habis pikir kenapa Rani juga sampai punya pemikiran yang sama dengannya, terlebih lagi yang membuat Raka menjadi marah adalah kenapa Rani tidak membicarakannya terlebih dahulu pada dirinya.
Dan main asal bicara saja pada semuanya.
"Bagaimana, Mas?" Tanya Rani dengan senyum khasnya.
Raka menoleh kembali pada Rani dan melihat senyum Rani yang seakan memang tulus mengatakannya tanpa ada beban dihatinya sedikitpun.
"Terus bagaimana dengan pernikahan kita, Ran?" Tanya Raka yang sudah mulai menurunkan emosinya itu.
Ratna yang melihat kejadian di hadapannya itu seakan tidak percaya pada sepasang kekasih ini.
'Apa yang sedang mereka pikirkan sih? Apa ini sebuah candaan mereka?' batin Ratna.
"Rani 'kan sudah bilang, Mas! Pernikahan kita diundur saja dahulu sampai masalahnya Dian selesai." Jelas Rani dengan santainya.
Raka nampak bingung setelah mendengar penjelasan dari Rani dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Rani yang melihat kekasihnya pergi tanpa bicara, akhirnya dia pun mengikuti kekasihnya yang pergi dari tempat itu dan berjalan di belakangnya.
Sementara Ratna dan Dian saling menatap satu sama lainnya, seakan tak percaya atas apa yang baru saja terjadi.
"Apa aku tidak salah dengar, Rat!" Ucap Dian lirih.
Ratna hanya membalasnya dengan gelengan kepala dengan wajah yang tak kalah membingungkannya dengan Dian.
"Kalian tidak salah dengar, memang itu rencana Rani dari tadi. Hanya saja aku gak habis pikir dengan pikiran mereka!" Seloroh Ryan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Di Dalam kamar Raka,
Raka yang saat ini bersama dengan Rani di dalam kamarnya, sedang berdebat tentang rencana dari Rani.
"Aku harus pura-pura nikah sama Dian sampai kapan, Ran?" Tanya Raka.
"Sampai Dian melahirkan, Mas!" Jawab Rani.
"Hah, yang benar saja, Ran!" Raka terkejut mendengar jawaban dari Rani.
"Iya, Mas! Nanti setelah anak Dian lahir, baru kita pikirkan lagi!" Seru Rani dengan yakinnya.
"Mana bisa seperti itu, Ran! Terus hubungan kita bagaimana?" Tanya Raka kembali.
"Rani percaya sama, Mas! Mas, pasti bisa menjaga hubungan kita. Dan Rani akan menunggu sampai waktu itu tiba! Asalkan, Mas mau mengikuti rencana dari Rani ini.
Rani lakukan ini hanya untuk agar keluarga Dian tidak menanggung malu atas apa yang diperbuat oleh anak kesayangan mereka!
Lagi pula, ini bukanlah masalah kecil. Mereka akan berpikir bahwa mereka telah gagal dalam mendidik anaknya.
Rani, tidak mau itu, Mas! Rani sangat mengerti dan paham dari perjuangan seorang orang tua dalam mendidik dan membesarkan seorang anak!
Raka hanya bisa diam seakan tak percaya kalau kekasihnya itu berpikiran sejauh itu. Memang, Raka belum mengerti banyak tentang pemikiran Rani ini.
Tapi dia kembali teringat tentang obrolannya bersama Pak Rohim, kala itu.
Rani yang memutuskan berhenti sekolah karena kasihan melihat Ibunya yang bekerja mati-matian hanya untuk membesarkan kedua anaknya.
Dari situlah Raka perlahan mau mengerti atas apa keputusan yang Rani ambil ini.
"Mas, mengerti apa yang kamu rasakan, Ran! Tapi apa kamu mengerti juga rasa yang Mas rasakan?" Tanya Raka.
"Rani mengerti, Mas! Maka dari itu menurut Rani hanya inilah jalan yang terbaik untuk semuanya! Walaupun Mas menikahi Dian, Rani tetap percaya, Mas tidak akan melupakan Rani.
Lagi pula pernikahan ini hanya untuk membantu menyelamatkan dua nyawa, kita tidak tahu 'kan, Mas. Jalan apa yang akan Dian ambil bila kita tidak membantunya sekarang!" Jawab Rani.
Raka tampak termenung memikirkan jawaban dari Rani ini memang ada benarnya, karena Raka tahu Dian itu wanita yang tidak pernah berpikir panjang.
"Sama satu lagi, Mas! Rani akan menjaga kepercayaan itu untuk, Mas! Bila Mas tidak percaya sama Rani, Rani akan siap malam ini bila Mas ingin memastikannya!" Jawab Rani sambil mulai membuka secara perlahan kancing bajunya.
"Kamu mau apa, Ran!" Raka yang terkejut dengan sikap Rani yang seakan-akan siap mengorbankan kesuciannya hanya untuk mendapatkan kepercayaan dari Raka.
"Rani akan memberikan semuanya untuk, Mas! Karena Rani percaya sama, Mas! Dan Rani lakukan ini agar Mas juga mau percaya sama Rani, bahwa yang Rani lakukan hanya untuk membantu Dian saja!
Hanya Mas lelaki yang Rani cinta, Rani akan menunggu Mas." Ucap Rani dengan kancing baju yang hampir terbuka semuanya dan sebagian belahan dadanya Rani sudah terlihat oleh Raka.
Melihat tingkah Rani yang seperti itu, Raka langsung memeluk erat tubuh Rani yang berada di depannya itu.
"Cukup! Mas akan lakukan sesuai keinginanmu! Jangan pernah lagi kau tunjukkan tubuh indahmu kepada Mas sebelum kita sudah menjadi suami istri yah!
Mas, tidak mau menodai kamu sebelum semuanya benar-benar sah! Lakukan apa yang kamu mau dan Mas minta tolong sama kamu agar kamu bisa menjaga semuanya sampai kamu benar-benar menjadi istriku nanti!" Ucap Raka dengan sangat lembut.
"Terima kasih banyak, Mas! Rani akan menjaganya untuk, Mas!" Sahut Rani.
__ADS_1
Lalu Raka melepaskan pelukannya dan langsung berbalik badan dan membelakangi Rani.
"Tolong rapikan kembali! Mas, akan tunggu kamu di luar!" Ucap Raka dan langsung pergi dibalik pintu kamarnya.
Rani yang berdiri melihat kekasihnya itu pergi dari hadapannya hanya bisa tersenyum manis saja, lalu perlahan ia mulai merapikan kembali pakaian yang ia kenakan.
.
.
.
Di Balkon,
Ketiga sahabat itu yang masih seakan tidak percaya atas apa yang baru terjadi tadi, kini terlihat saling diam sambil memikirkan sesuatu di pikiran mereka masing-masing.
Sampai akhirnya perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan Raka dan Rani yang berjalan bergandengan tangan menghampiri mereka bertiga, seolah tidak terjadi sesuatu apapun diantara mereka.
Raka dan Rani yang telah sampai ditempat ketiga sahabatnya itu langsung duduk bersebelahan dengan wajah yang terlihat tenang.
"Bagaimana, Dian! Apa kamu sudah memutuskan tentang rencana dari Rani tadi?" Tanya Raka dengan santainya.
Dian seolah tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar itu.
"Maksudnya, Mas?" Ratna bertanya pada Raka.
"Iya, Mas setuju dengan rencana dari Rani ini, Rat!" Jawab Raka dengan tersenyum pada Ratna.
"Tapi bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?" Ratna bertanya kembali karena masih tidak mengerti dengan jalan pemikiran sepasang kekasih ini.
"Kamu tenang saja, Rat! Mbak yang memintanya 'kan!" Sahut Rani.
"Tapi Mbak… ee… itu…" Ratna yang meracau karena tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan pada sepasang kekasih itu.
"Hahahaha…" Ryan yang tertawa lepas.
"Kenapa tertawa, Mas?" Tanya Ratna pada Ryan.
"Nggak apa-apa! Hanya ingin tertawa saja melihat sahabat Mas ini yang mempunyai kekasih sesuai dengan pemikirannya!" Jelas Ryan.
Raka dan Rani hanya bisa tersenyum mendengar perkataan itu dari Ryan.
"Bagaimana, Dian?" Tanya Rani pada Dian yang masih belum menjawab pertanyaan dari Raka sebelumnya.
Dian terlihat serba salah untuk menjawab pertanyaan dari Rani itu.
Lalu, sambil menunggu Dian berpikir. Raka pun menyalakan rokoknya.
"Huuussshhhh…" hembusan nafas Raka yang disertai asap rokoknya.
.
.
.
.
.
🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻
** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.
Terima kasih,😁🙏😁!
__ADS_1