
Di kantor,
Raka yang sedang mengecek berkas-berkasnya dengan sangat serius dikejutkan oleh suara ketukan pintu ruangannya.
"Yah, masuk!" Ucap Raka.
Lalu Ryan memasuki ruangan Raka kemudian duduk di kursi yang berada di depan meja Raka.
"Ada apa, Yan?" Tanya Raka.
"Kamu sibuk gak?" Ryan bertanya balik pada Raka.
"Tidak terlalu, memangnya kenapa?" Tanya Raka kembali.
"Bila aku pindah dari rumah mu bagaimana?" Ucap Ryan.
"Memangnya ada masalah apa? Sampai kamu mau pindah segala, Yan!" Tanya Raka yang sedikit keheranan dengan sahabatnya ini.
"Sebentar lagi, kamu 'kan akan menikah dengan Rani! Aku takut mengganggu kalian saja nantinya! Lagipula, aku juga ingin punya rumah sendiri!" Jelas Ryan.
Raka terdiam sesaat setelah mendengar ucapan dari Ryan dan tampak memikirkan sesuatu.
'apa Rani bercerita kepada Ryan yah… tapi… ahh, mikirin apaan sih aku tuh' pikirannya Raka.
"Ka! Bagaimana?" Tanya Ryan kembali.
"Ehm…. Bagaimana kalau itu kita bahasnya setelah aku menikah saja yah, Yan!" Pinta Raka.
"Ohh, yah sudah kalau begitu! Aku lanjut kerja lagi yah!" Sahut Ryan yang lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu, Yan! Kamu dah tahu 'kan masalah Dian?" Tanya Raka.
"Iya, 'kan sudah aku ceritakan juga semalam sama kamu!" Jawab Ryan.
"Iya sih! Tapi saat itu aku belum paham! Baru bisa pahamnya tadi dari Rani!" Ucap Raka.
"Mmmhhh, itu mah kamu saja! Yang gak mau dengar saya ngomong!" Ketus Ryan.
"Bukan begitu!" Jelas Raka.
"Yah terus apa dong!" Ucap Ryan.
"Menurut kamu, kita harus kasih hukuman gak yah, sama Dian?" Tanya Raka.
Kemudian Ryan kembali duduk lagi….
"Aku sih sempat berpikir begitu! Namun, Ratna melarangnya! Yah kamu tahu lah!" Jawab Ryan.
"Iya, Rani juga sama!" Sahut Raka.
"Terus gimana jadinya?" Tanya Ryan.
__ADS_1
"Ehm… lihat nanti sajalah, saat makan siang! Nanti kita makan bersama yah! Ajak Dian juga!" Jawab Raka.
"Ok!" Ucap Ryan.
Lalu Ryan pun kembali berdiri dan berjalan keluar ruangan Raka.
Kemudian Raka pun mengerjakan kembali kerjaannya sambil memikirkan niatnya Ryan yang ingin pindah dari rumahnya.
Andaikan benar apa yang tadi Raka pikirkan maka Raka akan sangat malu sekali sama sahabatnya ini karena dahulu pernah meninggalkan sahabatnya itu karena salah sangka, masa itu akan terulang lagi. Itu yang ada di pikirannya Raka saat ini.
Jam 12 siang,
Ratna yang sedang mengetuk pintu ruangan Raka seperti biasanya untuk mengingatkan Raka.
Lalu kemudian disuruh masuk oleh Raka.
"Sudah waktunya istirahat, Mas!" Ucap Ratna yang berdiri di dekat pintu sambil masih memegang handle pintu tersebut.
"Iya Rat! Bisa kamu duduk sebentar disini, Rat!" Pinta Raka sambil menunjuk ke arah kursi yang berada di depan mejanya.
Kemudian Ratna pun menutup pintu itu lalu berjalan menuju kursi yang telah ditunjukkan oleh Raka.
"Iya, ada apa yah, Mas?" Ucap Ratna setelah duduk di kursi tersebut.
"Dian bagaimana?" Tanya Raka langsung.
"Sepertinya sudah baik-baik saja, Mas! Memangnya kenapa yah, Mas?" Ratna bertanya balik pada Raka.
"Oh, baik, Mas!" Ucap Ratna lalu berdiri kembali dan berjalan keluar ruangan Raka.
Lalu Ratna pun menemui Dian di meja kerjanya lalu mengatakan apa yang sudah dikatakan oleh Raka.
Lalu mereka berjalan menuju pintu lift untuk menunggu Ryan dan Raka.
Tak lama menunggu, Ryan pun datang dan sesaat kemudian Raka menyusul datang. Lalu mereka berempat pun menaiki lift yang pintunya sudah terbuka kemudian mereka menuruni lantai demi lantai.
Di Lain tempat….
Rani yang sedang membereskan kamar kosannya seperti hari-hari biasanya.
Dikejutkan oleh ketukan suara pintu kamarnya.
"Iya, tunggu!" Ucap Rani dalam kamarnya.
Lalu Rani pun tak lama membuka pintu kamarnya dan terkejut karena yang bertamu adalah Ibunya.
"Ibu! Kenapa gak kasih tahu Rani, kalau mau datang!" Ucap Rani yang senang melihat Ibunya datang berkunjung.
"Ibu hanya mau mampir sebentar saja! Kebetulan, tadi Ibu habis disuruh sama atasan Ibu untuk mengantarkan pesanan ke daerah sini, ya sudah Ibu sekalian mampir!" Jelas Ibunya Rani.
Lalu Rani pun mengajak Ibunya untuk masuk dan menyuguhkan segelas teh hangat untuk Ibunya sambil membicarakan tentang rencana pernikahannya Rani.
__ADS_1
"Kamu benar, Ran! Mau menikah akhir bulan ini?" Tanya Ibu Rani.
"Iya, Bu! Mas Raka yang memintanya!" Jawab Rani.
"Raka itu, yang anaknya Pak Gunawan Gunardi, bukan?" Tanya Ibu Rani kembali.
Rani hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Ibu Rani seakan tak percaya kalau anaknya ini dilamar oleh keluarga yang cukup terpandang di kampungnya dahulu. Karena keluarga itu terkenal dengan kebaikan hatinya mereka.
Walaupun bisa disebut orang yang berada di kalangan warga kampungnya tapi keluarga itu sangat baik terhadap tetangga dan sering menolong.
"Kamu tidak hamil duluan 'kan?" Tanya Ibu Rani yang tiba-tiba mengejutkan Rani.
"Ibu, bicara apa sih!" Sanggah Rani.
"Soalnya, kenapa terburu-buru sekali sih! Dan lagi kenapa tidak di meriahkan!" Ucap Ibu Rani yang masih tak percaya bahwa anaknya dilamar oleh keluarganya Raka.
Rani pun menjelaskan sebisanya sampai Ibunya ini bisa memahami walaupun Rani sedikit berbohong pada Ibunya itu.
Namun karena Ibunya sayang sama anaknya dan itu juga adalah pilihannya maka Ibu Rani hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anaknya.
Setelah obrolan itu Ibunya Rani pun pamit kembali untuk kembali ke tempat kerjanya yang masih di daerah kota juga hanya berbeda wilayah saja dengan Rani yang saat ini berada.
Kembali pada Raka dan ketiga sahabatnya itu yang kini sedang berada disebuah restoran cepat saji sedang duduk dan sambil menikmati makan siang bersama.
"Bagaimana, Dian! Kondisi kamu?" Tanya Raka pada Dian.
"Sudah lumayan baik, Mas! Maaf yah Mas, atas kejadian yang semalam!" Jawab Dian.
"Lalu, bagaimana! Kelanjutan kamu dengan Bobby?" Raka bertanya kembali pada Dian.
"Nanti setelah pulang kerja, Dian sudah janjian sama Bobby, Mas! Dian, mau mencoba mengikuti saran dari Mbak Rani!" Jelas Dian.
"Oh, gitu! Baguslah!" Tandas Raka.
Lalu Dian izin untuk ke toilet.
"Masalah itu tidak dibahas?" Tanya Ryan pada Raka setelah Dian pergi dari tempat duduknya dan menuju ke toilet.
"Nanti saja masalah itu kita bahasnya!" Jelas Raka singkat lalu mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya.
"Bahas masalah apa sih!" Ucap Ratna yang bingung tentang obrolan Raka dan Ryan.
Raka hanya tersenyum saja sambil mulai menyalakan Rokoknya.
Sedangkan Ryan melanjutkan kembali makannya yang masih tersisa sedikit lagi.
"Mmmmhhhh….!" Gumam Ratna yang pasrah karena melihat tingkah dua sahabat itu yang seakan kompak untuk tidak memberitahunya.
Setelah selesai, Dian menghampiri kembali tiga sahabatnya itu, lalu tak lama mereka pun kembali lagi ke kantor untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.
__ADS_1