Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 19


__ADS_3

Setelah Ratna mendekati Raka... Ratna langsung duduk disampingnya Raka.


"Segitu amat yah ternyata, Kalau seorang Raka sedang jatuh cinta!" ucap Ratna sambil menggoda Raka.


"Apaan sih kamu ini!" Raka mengelak sambil mencubit pipinya Ratna.


Dan akhirnya mereka tertawa bersama sambil bercanda layaknya kakak beradik.


"Dah ahh, Ratna lapar! mau makan dulu! Mas, mau makan apa? biar Ratna buatkan yah?" tawaran Ratna sambil berdiri.


"Apa sajalah, terserah kamu saja!" jawab Raka sambil tersenyum.


"Ok deh, kalau begitu! tunggu yah, Mas! Mas telepon saja! apa harus Ratna yang nelponin nih!" ucap Ratna sambil berjalan menggoda Raka.


Raka hanya membalasnya dengan tersenyum.


Setelah berpikir sesaat akhirnya Raka memberanikan diri untuk menelpon Rani.


"hallo!" Suara Rani.


"hallo Ran, maaf ganggu!" ucap Raka sedikit kaku.


"ohh, Mas Raka! iya ada apa yah, Mas?" Rani bertanya dengan santainya.


"kok kamu tau? ini saya, Ran!" Raka bertanya balik pada Rani.


"iya Mas! soalnya seperti tidak asing saja dengar kalimat 'maaf' dari Mas!" Rani menjelaskan pada Raka.


"waduh! maaf yah kalau begitu!" ucap Raka malu.


"tuhkan, maaf lagi hehehe..." Rani yang menggoda Raka.


"eh, iya yah! hahahaha..." ucap Raka.


Akhirnya Raka dan Rani Pun asyik mengobrol lewat telepon.


Sampai dimana Ratna datang membawakan makanan untuk Raka...


"Ini Mas, nasi gorengnya! Ratna buatkan nasi goreng saja yah, tidak apa-apakan?" ucap Ratna dengan suara yang memang agak dikeraskan. Ratna sengaja menggoda Raka agar Rani mendengarkannya.


"I-Iya, tidak apa-apa, Rat! terima kasih banyak yah!" Raka menjawab dengan terkejutnya.


"Lagi telponan sama siapa sih, Mas? kok mesra amat sih!" Ucap Ratna menggoda Raka sambil pergi kembali.


Raka hanya tersenyum malu saja...


"itu siapa, Mas?" tanya Rani.


"ee… ohh… itu Ratna, tadi, dia mengantarkan Mas, nasi goreng!" jawab Raka dengan nada groginya.


"ohh... Rani kira, Mas sedang dirumah!" ucap Rani.

__ADS_1


"I-Iya, Mas, dirumah! Ratna tinggal dirumah Mas! tapi kita tidak berdua kok! Ryan juga tinggal dirumah Mas! kita bertiga disini!" Raka menjelaskan pada Rani.


"iya Mas! Rani ngerti kok, tidak harus dijelaskan! Rani percaya kok, sama Mas!" ucap Rani.


Mereka Pun melanjutkan kembali obrolan sampai dimana Rani ingin mengakhiri obrolan ini karena ingin menutup tokonya dan lalu pulang.


Raka Pun menawarkan dirinya untuk menjemputnya bila diizinkan yang tentu saja itu membuat Rani senang dan tidak menolaknya.


Kemudian saat Rani berdiri di depan toko untuk menunggu dijemput oleh Raka.


Akhirnya mobil Raka pun tiba di depan toko Rani.


Dan itu membuat Rani senang dan segera mendekati mobil tersebut namun saat kaca mobil terbuka Rani sedikit terkejut ternyata yang menjemputnya bukan Raka melainkan Ryan.


Rani hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saja.


Ryan yang paham dengan maksudnya Rani Pun hanya bisa tersenyum lebar sambil mengangkat bahunya yang seperti berkata...


"selamat datang di dunianya Raka"


Lalu Rani Pun memasuki mobil dan mereka pun membicarakan tentang Raka.


Sampai dimana akhirnya mereka tiba di kost-kostannya Rani... Lalu Ryan Pun izin pamit dan kembali pulang.


Keesokan paginya semuanya kembali seperti pada biasanya...


Ryan yang saat ini mulai bekerja yang benar-benar ia tidak paham apa yang harus ia kerjakan pelan-pelan belajar dari Ratna.


Dan jam istirahat pun tiba mereka berempat makan ditempat yang sama sambil ngobrol-ngobrol dan tertawa bersama.


Begitu juga halnya dengan Raka yang mulai terasa dekat sekali dengan Rani walaupun hanya sekedar lewat telepon saja karena Raka masih belum berani untuk bicara secara langsung kepada Rani.


Sampai tibalah disuatu hari di balkon saat mereka bertiga sedang asik mengobrol.


"Ka… kamu kapan mau mengatakan perasaanmu, kepada Rani?" tanya Ryan kepada Raka.


"Iya Mas! benar kata Mas Ryan! kasihan Mbak Rani, Mas... Bila harus terus menerus disuruh menunggu tanpa kepastian, Mas!" ucap Ratna.


"Tidak tahu… aku juga masih bingung soalnya..." jawab Raka.


Lalu mereka pun mengobrol serius...


"kamu bingung kenapa, Ka?" tanya Ryan serius.


"bukannya, Mas cinta sama mbak Rani, masalahnya apa, Mas?" Ranipun ikut bertanya.


"aku memang cinta sama dia, tapi aku ragu… apa dia juga cinta sama aku!" ucap Raka.


"kok, kamu jadi minder gitu, Ka! terus, selama ini kamu telponan sama dia untuk apa?" Ryan bertanya kembali dengan mengerutkan dahinya.


"yah, hanya sebatas ingin mengobrol saja! soalnya aku sedikit merasa tenang bila mendengar suaranya…" ucap Raka.

__ADS_1


"yah itu namanya cinta, Mas! beranikan diri saja, Mas, masa sih seorang Raka tidak berani!" Ratna berkata pada Raka.


"bener tuh yang dikatakan oleh Ratna! apa perlu kami bantu, Ka?" Ryan menawarkan diri.


"ahh… tidak usahlah! biar nanti sajalah saya yang mengaturnya sendiri!" jelas Raka.


Ryan dan Ratna Pun tidak bisa berbuat banyak bila Raka sudah mengambil keputusannya sendiri.


Obrolan mereka pun berlanjut sampai dimana Ratna izin untuk tidur terlebih dahulu dan meninggalkan Raka dan Ryan saja di tempat itu.


"Ka… aku, sebagai sahabatmu hanya bisa mendukung! apa saja, keputusanmu!


Tapi, aku juga tidak akan bisa menerima, bila suatu saat nanti kamu kecewa!


Cobalah, kamu pikirkan lagi, Ka... Aku yakin, bahwa Rani juga sangat mencintaimu, Ka!


Hanya tinggal menunggu darimu saja, Ka... ayolah!" Ryan menjelaskan pada Raka.


Ryan memang selama ini sudah mengetahui bahwa Rani menunggu Raka.


Terutama saat dia disuruh menjemput Rani.


Tapi Ryan ini tidak bisa berbicara secara langsung ke Raka karena dia sudah janji sama Rani.


Apalagi Rani yang dulu adalah tempat curhatnya saat dia mencintai sepupunya Rani.


Karena itulah Ryan hanya bisa memberikan sedikit motivasi saja ataupun sebatas menyinggung saja agar sahabatnya ini mau memberanikan diri untuk bicara secara langsung.


"apa maksudmu, dia sudah punya pilihan lain, Yan?" tanya Raka.


"masalah itu, aku sekarang tidak tahu,'kan kamu sendiri yang suka saling telponan sama dia!


yah kamu tanyakan langsung! aku hanya berpikir kalau kelamaan yah...


itu bisa saja terjadi... karena, wanita butuh kepastian, Ka!" jawab Ryan.


"iya juga sih, Yan! tapi kenapa yah… kok sepertinya ada yang mengganjal gitu Yan.." ucap Raka.


"saat aku ingin mengatakannya seakan aku ragu, Yan! tapi, entah itu apa?" Raka yang melanjutkan ucapannya.


"jangan bilang kalau kamu, mencintainya sama saja dengan membantunya! karena saya tau prinsip kamu, Ka!" Ryan mencurigai Raka.


Mendengar kalimat itu Raka langsung terdiam. Karena apa yang dibicarakan oleh Ryan memang benar adanya.


Karena Raka punya prinsip bila ingin membantu seseorang, yah... bantu saja, tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.


Sedangkan Raka ini sudah tahu bagaimana keadaan ataupun yang dialami oleh Rani.


Secara tidak langsung dia sangat ingin membantunya.


Tapi, bila dia membantunya dan akhirnya dia bisa menikah dengan Rani.

__ADS_1


Bukankah itu sama saja dia membantu tapi mengharapkan imbalan.


Maka itu akan bertolak belakang dengan prinsipnya, itulah yang membuat Raka masih belum juga bisa untuk mengatakan langsung perasaannya kepada Rani.


__ADS_2