Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 46


__ADS_3

Setelah panggilan tersebut diterima oleh Dian dan terdengarlah suara Dian yang tampaknya sedang menangis itu.


Setelah Rani menanyakan keberadaannya Dian. Rani pun meminta Raka agar putar arah untuk menjemput Dian.


Walaupun Raka sudah sempat menolaknya karena alasan waktu mereka tapi Rani tetap membujuk Raka agar mau menjemput Dian.


Akhirnya seperti biasa, karena Raka sudah janji mau mengikuti semua keinginan Rani dengan terpaksa Raka pun menurutinya.


"Maaf, Pak! Itu Pak Raka mau kemana yah?" Tanya supir Raka pada Ryan yang melihat pada kaca spionnya, melihat mobil Raka yang berputar arah.


Ryan dan Ratna yang terkejut mendengar itu langsung menengok ke arah belakang mobil dan benar saja apa yang telah dikatakan oleh supirnya Raka tadi.


Ryan pun segera mengambil handphone dari saku kemejanya dan menelpon Raka.


Tak lama berselang, panggilan Ryan pun dijawab oleh Raka.


"Iya!" Sahut Raka dalam panggilan tersebut.


"Kalian mau kemana?" Tanya Ryan.


"Jemput Dian dulu, kalian tunggu saja di rumah yah!" Jawab Raka singkat lalu mengakhiri panggilan tersebut.


Ryan yang panggilannya dimatikan begitu saja oleh Raka, hanya bisa mengeluarkan nafas kasarnya saja….


"Apa katanya, Mas?" Tanya Ratna yang penasaran.


"Mau jemput Dian dulu katanya!" Jawab Ryan sambil mengantongi kembali handphonenya itu.


"Jemput dimana memangnya?" Tanya Ratna kembali.


"Entahlah, langsung ditutup! Mas juga belum tanya!" Jelas Ryan dengan wajah malesnya.


Lalu Ratna pun terdiam seolah memikirkan sesuatu.


"Mmmmhhhh… sebelas dua belas ini mah!" Gumam Ryan sambil menepuk dahinya dan menggelengkan kepalanya setelah melihat Ratna bersikap seperti itu.


.


.


.


.


.


Di Dalam mobil Raka,


Rani yang terlihat sangat gelisah itu karena khawatir dengan kondisi Dian. Membuat Raka menjadi ingin cepat sampai di tujuannya dengan mempercepat laju kendaraannya.


Raka yang cukup mahir dalam mengemudikan mobilnya itu, terlihat mudah melewati satu persatu mobil yang ada di depannya.


Setelah menempuh jarak yang cukup lumayan jauh itu, akhirnya mereka tiba di tempat dimana Dian berada sekarang.


Rani yang sedari tadi sudah merasa gelisah itu langsung turun setelah mobil Raka itu berhenti terparkir dan kemudian disusul oleh Raka untuk mengikuti langkah Rani yang sedang melihat sekeliling untuk mencari posisi Dian berada.


Beberapa menit mereka mencari di taman kota tersebut akhirnya Raka melihat seorang wanita yang sedang duduk sendiri dengan wajah yang tertunduk dari kejauhan.


"Ran…" panggil Raka pada Rani sambil menunjuk ke arah wanita itu.


Rani langsung melihat arah yang ditunjuk oleh Raka dan lalu bergegas ke arah tersebut.


"Dian…" ucap Rani setelah tiba di dekat wanita yang sedang tertunduk diam itu.

__ADS_1


Wanita itu yang namanya merasa dipanggil, langsung mengangkat kepalanya dengan mata yang sembab karena habis menangisi nasibnya dan langsung memeluk tubuh Rani dan menangis sejadi-jadinya kembali.


Raka hanya bisa melihat dan terdiam saja saat itu tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


"Sudah-sudah… jangan menangis terus! Kita pulang yuk, Mbak mau dengar cerita kamu yah…" ucap Rani yang mencoba menenangkan Dian.


Lalu mereka bertiga pun beranjak dari tempat itu menuju ke mobil Raka yang terparkir dan langsung menuju rumah Raka.


Selama perjalanan menuju rumah Raka suasana didalam mobil Raka terlihat begitu menyedihkan karena hanya ada suara Dian yang masih menangis pilu sambil sesenggukan itu yang bersandar ke tubuhnya Rani.


.


.


.


.


.


Setelah mereka tiba di rumah Raka. Ratna yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka pun langsung menyambut mereka dengan memeluk Dian yang masih terlihat menangis itu.


Sedangkan Ryan yang duduk disofa itu hanya memperhatikan Raka dengan wajah kesalnya.


Lalu Rani mengajaknya mereka semuanya untuk langsung ke tempat favoritnya Raka. Karena dirasa hanya tempat itulah yang akan bisa membuat suasana menjadi tenang.


Ketiga wanita itu langsung menuju ke tempat favoritnya Raka. Sedangkan Raka yang merasa dari tadi diperhatikan oleh Ryan langsung duduk di sofa itu yang berhadapan dengan Ryan langsung.


"Kenapa?" Tanya Raka pada Ryan.


Ryan hanya tersenyum sinis saja lalu mulai bersandar pada sofa tersebut.


Raka yang melihat sahabatnya itu seperti tidak merasa senang pun hanya bisa membalasnya dengan senyuman khasnya sambil menggelengkan kepalanya lalu mulai menyalakan rokoknya.


"Ada apa, Yan?" Raka yang mencoba bertanya kembali pada Ryan.


"Kamu pasti tahukan, ada apa?" Ucap Ryan dengan nada kesalnya.


"Iya, maaf!" Sahut Raka.


"Maaf… maaf, kita sudah tidak ada waktu lagi, Ka!" Ryan yang mulai kesal pada Raka.


"Kamu kenapa, masih saja mengurus masalah orang lain sih! Kan kamu sendiri juga punya urusan yang harus segera kamu kerjakan sendiri, Ka! Apalagi urusan kamu itu untuk masa depan mu sendiri!" Lanjut Ryan.


"Iya, Yan! Saya ngerti. Tapi itu juga kemauannya Rani! Sedangkan masa depan ku, 'kan bersama Rani nantinya, makanya aku mengikutinya" jelas Raka.


Ryan yang merasa percuma untuk melanjutkan pembicaraannya itu kepada sahabatnya, karena mempunyai sifat yang sama dengan Rani yang tidak lain adalah kekasihnya Raka tersebut.


Lalu Ryan segera berdiri dari tempat duduknya dan merasa ingin meninggalkan tempat itu sekarang.


Namun tiba-tiba Ratna memanggil mereka berdua dari lantai 2 dengan wajah paniknya.


Ryan dan Raka yang melihat itu langsung menghampiri Ratna.


"Ada apa?" Tanya Raka dengan khawatir.


Ratna tidak menjawab hanya menunjuk saja ke arah tempat dimana Rani dan Dian yang sekarang berada dengan wajah yang bersedih.


Dirasa ada yang tidak beres, Raka langsung menuju tempat itu sedangkan Ryan mencoba menenangkan Ratna dan Ratna pun langsung memeluk Ryan.


Setelah Raka tiba di tempat itu Raka melihat Dian yang masih saja menangis sambil bersandar pada Rani.


Raka mulai menghampiri mereka berdua secara perlahan dan mulai duduk berhadapan dengan kedua wanita itu.

__ADS_1


Ryan yang berjalan bersama Ratna itu kini mulai sampai juga di tempat tersebut dan menghampiri mereka bertiga.


Lalu Ryan dan Ratna berhenti di sampingnya Raka yang sedang duduk itu sambil melihat ke arah Dian dan Rani.


"Dian hamil, Mas!" Ucap Rani yang mengejutkan kedua pria tersebut sambil tetap mengelus Dian dengan penuh perhatiannya.


"Apa…!?" Raka terkejut.


"Hamil…!?" Lanjut Ryan yang terkejut juga setelah mendengar ucapan dari Rani itu.


"Maafkan Dian, Mas!" Ucap Dian yang sambil sesenggukan itu lalu menyembunyikan wajahnya ke arah tubuh Rani karena malu dengan nasibnya yang saat ini.


Kemudian Raka menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki tersebut.


Sedangkan Ryan masih berdiri sambil memperhatikan Dian dengan Ratna yang berada disampingnya memeluk erat tubuh Ryan seolah merasakan apa yang dirasakan oleh Dian saat ini.


"Terus sekarang bagaimana jadinya?" Ucap Raka kembali.


Rani hanya menggelengkan kepalanya.


"Memangnya bagaimana ceritanya sampai bisa Dian hamil seperti itu? Terus Bobby sekarang dimana?" Tanya Ryan.


Rani pun menceritakan sama Raka dan Ryan yang memang belum mengetahui permasalahannya.


Semua itu terjadi begitu saja saat pertama kali Dian dan Bobby bertemu dan memutuskan untuk pergi ke daerah puncak saat itu dan pada saat malam hari, saat mereka sedang asik curhat tentang masalahnya masing-masing. Kemudian, setelah itu tanpa disadari mereka melakukannya begitu saja.


Dan sekarang, Bobby seakan lepas dari tanggung jawabnya karena meninggalkan Dian sendirian di taman kota itu setelah Dian memberitahukannya pada Bobby bahwa dirinya hamil.


Dian juga belum mengetahui alamat rumahnya Bobby berada karena setelah dari kejadian malam itu dan ditambah dengan kedatangannya mantan Bobby di villa tersebut.


Dian memutuskan untuk berdiam diri dirumah orang tuanya dan tidak mau bertemu dengan Bobby sampai saat Dian bercerita sama Rani, barulah Dian mau bertemu lagi dengan Bobby namun akhirnya Dian harus meminum pil pahit kembali.


Setelah mendengarkan penjelasan singkat dari Rani itu Raka maupun Ryan terlihat sedikit emosi.


"Jadi saat itu kamu belum jujur?" Tanya Raka yang mulai sedikit marah sama Dian karena tidak mengatakan yang sebenarnya diawal.


"Maafin Dian, Mas!" Ucap Dian yang masih menyembunyikan wajahnya itu di tubuh Rani dengan suara yang sesegukan.


"Sabar dulu, Mas!" Rani yang mencoba untuk menenangkan kekasihnya itu.


Sedangkan Ryan yang berdiri itu hanya bisa mengepalkan tangannya saja namun Ratna yang berada disampingnya itu memeluk erat-erat Ryan yang menyadari kalau kekasihnya juga ikutan emosi sama halnya dengan Raka.


"Iyah, terus sekarang kita mau gimana?" Sahut Raka membalas ucapan dari Rani itu.


Lalu tiba-tiba Dian melepaskan pelukannya ke tubuh Rani kemudian berdiri sambil mengatakan….


"Dian akan gugurkan kandungan ini, Mas!"


.


.


.


.


.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,😁🙏😁!

__ADS_1


__ADS_2