
Dian merasa kaget mendengar hal itu. Dia tidak mengira bahwa Raka dan Rani akan mempertimbangkan adopsi. Meskipun hatinya merasa hangat dengan kebaikan hati mereka, dia juga merasa cemas tentang bagaimana hal itu akan mempengaruhi hidupnya dan kehidupan anak yang akan lahir.
"Maksud Mbak, kalian ingin mengadopsi anak Dian?" tanya Dian, mencoba untuk memahami niat baik mereka.
Raka menjawab, "Ya, benar. Kami merasa bahwa kita semua sudah terikat dalam ikatan yang kuat sebagai keluarga. Kami ingin memberikan cinta dan perhatian pada anak ini, sebagaimana kami memberikannya padamu, Dian."
Rani menambahkan, "Tapi kami juga mengerti bahwa ini adalah keputusan besar yang harus melibatkanmu. Kami tidak ingin memaksamu atau membuatmu merasa terbebani. Jadi, kami ingin mendengarkan pendapatmu tentang hal ini."
Dian merasa haru dengan sikap baik hati Raka dan Rani. Dia tahu bahwa mereka benar-benar mencintainya dan ingin memberikan kebahagiaan bagi dirinya dan anak yang akan lahir. Setelah beberapa saat berpikir, Dian dengan tulus berkata, "Terima kasih, Mas Raka dan Mbak Rani, atas niat baik kalian. Dian tahu bahwa kalian akan menjadi orang tua yang luar biasa bagi anak ini. Dian merasa terhormat dan bahagia jika kalian ingin menjadi bagian dari keluarga kami."
Rani tersenyum bahagia, "Apakah kau yakin, Dian? Kami tidak ingin membuatmu merasa terpaksa."
Dian menggeleng lembut, "Tidak, Dian tidak merasa terpaksa. Dian tahu bahwa kalian akan melakukan ini dengan niat baik. Jika kalian merasa bahwa kalian bisa memberikan cinta dan kebahagiaan pada anak ini, maka Dian mendukung keputusan kalian."
Raka dan Rani saling pandang dengan rasa haru dan bahagia. Mereka merasa bersyukur atas dukungan Dian. Mereka menyadari bahwa keluarga tidak selalu hanya tentang hubungan darah, tetapi juga tentang cinta, perhatian, dan dukungan satu sama lain. Akhirnya mereka saling berpelukan dengan tangisan kebahagiaan mereka.
Saat Raka, Dian, dan Rani saling berpelukan dengan tangisan kebahagiaan mereka, suasana di ruang keluarga dipenuhi oleh kehangatan dan cinta yang begitu kuat. Mereka merasa seperti keluarga yang lengkap, dengan saling mendukung dan menyayangi satu sama lain.
Tak lama kemudian, masuklah orang tua Dian, Ayah dan Ibu Dian, yang diikuti oleh Ryan dan Ratna. Mereka tampak sedikit bingung melihat adegan penuh emosi di ruang keluarga.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Ayah Dian dengan senyum penasaran.
Dian mengangkat wajahnya, masih terlihat berkaca-kaca, dan berkata dengan suara serak, "Mas Raka dan Mbak Rani ingin mengadopsi anakku, Ayah. Mereka ingin menjadi orang tua bagi anak ini."
Ibu Dian menyentuh hatinya dengan penuh haru, "Oh, anakku, itu adalah berita yang luar biasa. Kalian akan menjadi keluarga yang begitu bahagia."
Raka dan Rani menyambut Ayah dan Ibu Dian dengan senyum bahagia. Mereka menjelaskan dengan penuh rasa bahwa mereka ingin memberikan cinta dan kebahagiaan pada anak yang akan lahir, dan berterima kasih atas dukungan dari keluarga Dian.
Ryan dan Ratna melangkah maju, juga menyampaikan selamat dan ucapan terbaik untuk Raka dan Rani. Mereka merasa senang melihat sahabat mereka begitu bahagia dan telah menemukan keluarga yang saling mencintai.
__ADS_1
"Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk merayakan bersama," ucap Ratna sambil tersenyum cerah.
Ryan mengangguk setuju, "Iya, mari kita rayakan momen indah ini dengan makan malam bersama!"
Semua setuju dengan usulan tersebut, dan keluarga Dian dan teman-teman mereka berkumpul untuk makan malam bersama. Suasana penuh keceriaan, tawa, dan canda menyelimuti meja makan, seolah-olah mereka telah menjadi satu keluarga besar yang penuh kehangatan.
Saat mereka menikmati hidangan bersama, Dian merasa terharu melihat betapa Raka, Rani, dan teman-temannya begitu bahagia dengan kehadiran anaknya yang akan datang. Dia tahu bahwa keputusan untuk mengadopsi bukanlah hal yang mudah bagi mereka, tetapi mereka melakukannya dengan sepenuh hati dan cinta.
Setelah makan malam selesai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga lagi. Raka, Rani, dan Dian berdiri di tengah-tengah, saling memandang dengan penuh kebahagiaan. Raka memegang tangan Dian, sementara Rani mengelus perut Dian dengan lembut.
"Kami berjanji akan mencintai dan merawat anak ini sebaik mungkin," ucap Raka dengan tulus.
"Kami akan menjadi keluarga yang bahagia dan saling mendukung," tambah Rani dengan senyum penuh cinta.
Dian merasa begitu beruntung memiliki mereka di sisinya. Dia tahu bahwa masa depan mungkin akan membawa tantangan, tetapi dia percaya bahwa bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya yang begitu mendukung, mereka akan menghadapinya dengan keberanian dan kebahagiaan.
Setelah berdoa, suasana penuh kehangatan dan kebahagiaan terus menyelimuti ruang keluarga. Ryan, yang selalu dikenal dengan tingkah kocaknya, langsung mengambil peran dalam memecah keheningan dengan candaan khasnya.
"Eh, Raka, Rani, hati-hati ya nanti kalau udah jadi orang tua. Tugasnya bisa nambah, deh! Tapi tenang, aku siap jadi 'penasihat keluarga' kalau butuh saran-saran kocak dari aku!" ujar Ryan dengan penuh semangat.
Raka dan Rani tertawa mendengarnya, "Tentu, Ryan! Dukunganmu pasti sangat berharga." ucap Raka.
Dian, yang sedikit merasa khawatir dengan usulan Ryan, menyindir, "Mungkin lebih baik kamu fokus dulu melamar Ratna sebelum jadi penasihat keluarga kami, Mas Ryan."
Semua tertawa mendengar sindiran itu, termasuk Ratna yang ikut mengangguk setuju dengan senyum lebar. Ryan tersipu, tapi dia juga tertawa, "Baik, baik, Dian! Aku akan melakukannya!"
Mereka melanjutkan perbincangan dengan ceria dan hangat. Ryan menceritakan kisah-kisah lucu dari masa kecil mereka, sementara Raka, Rani, dan Dian juga berbagi kenangan manis bersama. Semua terlihat bahagia dan saling mendukung satu sama lain.
Saat suasana semakin riang, Ayah dan Ibu Dian melihat kebahagiaan anak mereka dengan bangga. Mereka tahu bahwa keluarga mereka telah tumbuh menjadi keluarga yang penuh cinta, dengan dukungan dan kasih sayang dari teman-teman Dian juga.
__ADS_1
"Ibu benar-benar berterima kasih atas kalian semua," ucap Ibu Dian dengan penuh haru. "Kalian membuat keluarga kami menjadi begitu istimewa."
Ayah Dian mengangguk, "Betul sekali. Kalian semua adalah sahabat-sahabat yang hebat untuk Dian. Kalian pun telah menjadi bagian dari keluarga kami."
Ratna tersenyum, "Kami beruntung memiliki sahabat sepertimu, Dian, dan keluarga yang luar biasa seperti kalian."
Di tengah momen indah bersama, tiba-tiba bel pintu rumah Dian berbunyi. Ibu Dian membukakan pintu, dan di hadapan Ibu Dian, tampak seorang pria dengan tubuh sedikit gempal dan berkepala plontos bertamu. Pria itu tersenyum sopan, lalu menanyakan apakah benar ini kediaman Dian.
"Iya, ini rumah kami. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Ibu Dian dengan ramah.
Pria itu mengangguk, "Saya mencari Dian. Apakah Dian ada di rumah?"
Dian yang berada di dalam ruang keluarga mendengar pertanyaan tersebut dan mendekati pintu. Dia sangat terkejut setelah melihat pria tersebut.
.
.
.
.
.
π»π΅οΈπΈπΊπ·π₯πΉπΌπΉπ₯π·πΊπΈπ΅οΈπ»
** Hai readers, ini karya pertama ku. BenarΒ² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa π like kalian juga ku nanti.
Terima kasih,πππ!
__ADS_1