Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 55


__ADS_3

Kemudian, Rani dan Raka pun berbicara lebih lanjut tentang cara menghadapi masalah mereka dengan bijaksana. Mereka berjanji akan mendengarkan satu sama lain dengan tulus dan berusaha mencari solusi yang paling baik untuk semua pihak yang terlibat.


Hari ini menjadi hari yang penuh emosi dan tantangan bagi mereka semua. Namun, melalui komunikasi yang terbuka, dukungan satu sama lain, dan cinta yang tulus, mereka percaya bahwa mereka akan menemukan jalan keluar yang terbaik dan meraih kedamaian dalam keputusan yang akan diambil.


Di tengah situasi yang penuh ketegangan dan perasaan campur aduk, mereka semua memahami pentingnya saling mendukung dan mencari jalan terbaik untuk menghadapi masalah tersebut. Meskipun keputusan yang akan diambil mungkin sulit dan menyakitkan, mereka tetap berusaha mencari solusi yang tepat untuk kebahagiaan semua pihak yang terlibat.


Beberapa waktu kemudian, setelah suasana hati mereka agak mereda, Rani mengajak Raka turun dari balkon dan menawarkan untuk di masakan apa untuk sarapan pagi ini.


Raka tersenyum dan menerima tawaran Rani dengan penuh rasa syukur. Mereka berdua kemudian turun ke dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi bersama. Meskipun masih ada ketegangan di udara karena masalah yang sedang dihadapi, namun mereka berdua berusaha menciptakan suasana yang nyaman dan hangat.


Sambil memasak, Rani dan Raka berbicara dengan lebih santai tentang rencana hari ini dan hal-hal ringan lainnya untuk mengalihkan sedikit perhatian dari masalah yang mereka hadapi. Mereka saling bercanda dan tertawa, mencoba menciptakan momen-momen kecil kebahagiaan di tengah situasi yang sulit.


Setelah sarapan selesai, mereka berdua duduk bersama di meja makan. Rani mengambil tangan Raka dan berkata dengan tulus, "Mas, kita akan menghadapinya bersama, bukan?"


Raka tersenyum lembut dan mengusap punggung tangan Rani. "Tentu, Ran. Kita akan melewati ini bersama-sama. Mas berjanji akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi."


Rani tersenyum bahagia mendengar jawaban Raka. "Terima kasih, Mas. Rani sangat beruntung memiliki Mas."


Raka menjawab dengan penuh cinta, "Dan Mas juga sangat beruntung memiliki kamu, Rani."


Sesaat Kemudian,


Datanglah Ryan yang baru saja dari teras rumah setelah membaca koran dan menghabiskan kopinya.


Raka dan Ratna sedikit terkejut dengan kedatangan Ryan tapi mereka mencoba tersenyum dan berusaha menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja, walaupun masalah mereka belum sepenuhnya terselesaikan.


Ryan menyadari bahwa suasana di ruang makan agak tegang, dan dia mencoba memberikan dukungan dengan menyapa mereka dengan hangat. "Halo, semuanya. Bagaimana kabar kalian hari ini?"


Ratna mencoba tersenyum dan menjawab, "Halo, Mas Ryan. Kabar kami baik-baik saja."


Raka menambahkan, "Ya, semuanya baik, Yan. Tidak biasanya kamu bertanya."


Dengan jawaban dari Raka yang terkesan sinis itu pun akhirnya memecah suasana saat ini karena baik Raka, Ryan, atau pun Rani tertawa lepas seakan tidak ada masalah yang terjadi di hari itu.


Sampai tibalah Ratna yang keluar dari kamarnya karena telah selesai mandi dan sedikit dandan itu pun ikut dalam ruang makan tersebut karena sesaat pas ia membuka pintu kamarnya, terdengar suara teman-temannya tertawa.


Ketika Ratna bergabung dengan teman-temannya di ruang makan, dia merasa senang melihat mereka tertawa bersama. Meskipun masalah yang dihadapi masih ada, namun momen kebersamaan ini membuat suasana menjadi lebih ringan.


"Ada apa, kalian kok tertawa?" tanya Ratna sambil tersenyum kebingungan.

__ADS_1


Rani menjawab dengan riang, "Biasa, Rat. Tingkah kedua Mas mu, ini lah."


Ratna ikut tersenyum mendengar jawaban Rani. "Ah, ya itu dia," katanya sambil menggelengkan kepala. "Mas Ryan memang selalu punya cara lucu untuk menghibur kita."


Ryan yang mendengar candaan dari Ratna hanya tertawa ringan. "Hei, jangan dijadikan bahan guyonan ya!" katanya sambil tersenyum lebar.


Raka juga ikut tertawa. "Tapi harus diakui, Ryan memang ahli dalam membuat suasana menjadi lebih ceria."


Ratna setuju, "Iya, Mas. Memang salah satu sumber keceriaan kami, Mas Ryan. Terima kasih."


Ryan merasa senang dengan ungkapan terima kasih dari teman-temannya. "Sama-sama, teman-teman. Kita harus saling mendukung dan menciptakan momen-momen bahagia di tengah kesulitan."


Rani menimpali, "Benar. Saat-saat seperti ini membuat kita lebih kuat untuk menghadapi masalah."


Mendengar ungkapan kalimat dari Rani, tiba-tiba Raka memberhentikan ketawanya itu lalu bertanya pada Ratna tentang Dian.


β€œOh iya, Dian di mana Rat? apa masih tidur, dia?”


Setelah Raka melontarkan kalimat pertanyaan pada Ratna akhirnya suasana pun kembali berubah yang mana memang semestinya.


β€œTidak Mas, Dia sudah bangun. Hanya saja, tadi sih, dia bilang mau ke taman dulu buat menenangkan pikirannya.” jawab Ratna dengan hati-hati.


Rani menambahkan, "Yah sudah, biar aku saja yang mencari, Dian."


Rani menunjukkan perhatian yang tulus terhadap Dian dengan menawarkan untuk mencarinya di taman. Ratna tersenyum penuh pengertian. "Terima kasih, Mbak. Mungkin Dian butuh sedikit waktu untuk sendiri dan merenungkan segala hal."


Ryan pun ikut berbicara, "Iya, biarkanlah Dian menemukan ketenangan dan ruang untuk dirinya sendiri. Kita harus menghormati perasaannya dan memberinya waktu yang dia butuhkan."


Rani mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan mencari Dian dan memberitahu kalian jika aku menemukannya."


Setelah itu, Rani beranjak dari ruang makan dan pergi mencari Dian di taman. Sementara itu, yang lainnya tetap berada di ruang makan, berbincang tentang hal-hal ringan untuk mengalihkan sedikit perhatian dari masalah yang sedang dihadapi.


Rani berjalan perlahan menuju taman, mencari Dian yang kemungkinan masih duduk di bawah pohon besar, yang memang tidak jauh dari area rumah Raka dan terletak di dekat danau. Memang tempat itu menjadi tempat untuk merenung dan mencari ketenangan selain di tempat favoritnya Raka, agar merasa lebih baik.


Saat dia tiba di taman, benar saja, Dian duduk di bawah pohon besar dengan tatapan kosong ke arah jauh danau. Rani mendekati Dian dengan perasaan hangat dan berusaha menghampirinya dengan lembut.


"Dian, kamu sedang apa?" tanya Rani dengan lembut.


Dian menoleh dan tersenyum pahit. "Dian sedang berusaha merenungkan semuanya, Mbak. Dian bingung dengan ulah Dian sendiri, Mbak"

__ADS_1


Rani duduk di samping Dian, memberikan sedikit ruang untuk temannya itu. "Kamu tidak sendirian, Dian. Kita semua ada untukmu, termasuk Mas Raka, Mas Ryan dan Ratna."


Dian mengangguk. "Dian tahu, Mbak. Tapi rasanya sulit. Dian tidak ingin menyakiti siapapun, tapi Dian juga tidak ingin menyakiti diri sendiri."


Rani memahami perasaan Dian. "Kamu tidak harus menjalani ini sendirian, Dian. Bicarakanlah apa yang ada di hatimu dengan Mas Raka dan Mbak. Kita semua berada di sini untuk mendukungmu."


Dian menarik nafas dalam-dalam. "Dian takut keputusan, Mbak yang semalam. Akan merusak hubungan kita semua."


Rani menggenggam tangan Dian dengan erat. "Kita tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka, tapi kita harus berbicara dan mencari solusi bersama. Kita harus jujur dengan perasaan kita sendiri dan juga mendengarkan apa yang mereka rasakan."


Dian mengangguk, air matanya mulai berlinang lagi. "Terima kasih, Mbak. Dian merasa beruntung memiliki teman seperti Mbak."


Rani tersenyum lembut. "Kamu juga berarti banyak bagi kami, Dian. Kita saling melengkapi dan saling mendukung."


Mereka berdua duduk di bawah pohon besar, berbagi cerita dan perasaan dengan jujur. Rani mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan dukungan yang tulus pada Dian.


Setelah waktu berlalu, Dian merasa sedikit lega dan lebih tenang setelah dapat berbicara dengan Rani. Mereka berdua kembali ke ruang makan, bergabung dengan yang lainnya yang masih tertawa dan bercanda.


Ratna menyambut kedatangan mereka dengan senyuman hangat. "Sudah baik, Dian?"


Dian tersenyum lembut. "Iya, sedikit lebih baik. Terima kasih atas dukungannya, teman-teman."


Raka menggenggam tangan Dian dengan lembut. "Kita ada untukmu, Dian. Apapun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama-sama."


.


.


.


.


.


🌻🏡️🌸🌺🌷πŸ₯€πŸŒΉπŸŒΌπŸŒΉπŸ₯€πŸŒ·πŸŒΊπŸŒΈπŸ΅οΈπŸŒ»


** Hai readers, ini karya pertama ku. BenarΒ² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa πŸ‘ like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,πŸ˜πŸ™πŸ˜!

__ADS_1


__ADS_2