Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 48


__ADS_3

Di dalam kamar Ratna,


"Kamu sudah mandinya?" Tanya Ratna pada Dian yang baru saja keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan bath robes miliknya itu.


Dian hanya menanggapi dengan anggukan kepalanya.


"Yah sudah kalau begitu! Kamu ganti pakaian dulu, kamu pilih sendiri saja di lemari yah!" Ucap Ratna yang berlalu melewati Dian untuk bergantian ke kamar mandi.


"Terima kasih banyak yah, Rat!" Sahut Dian.


Kemudian Rani masuk kedalam kamar mandi dan Dian duduk di meja rias milik Ratna sambil melihat ke cermin dan memandangi wajahnya yang begitu terlihat muram sekaligus meratapi nasibnya kembali.


Dian mencoba mengambil tisu yang tersedia di meja rias itu dan bertekad untuk menguatkan hatinya.


Lalu Dian mengambil tasnya dan mulai membuka tas itu untuk mengambil peralatan make up sederhana miliknya.


Namun saat tas itu terbuka, Dian melihat kembali test pack yang telah ia pakai itu saat di toilet kantor siang tadi.


Akhirnya Dian kembali bersedih setelah teringat apa yang telah terjadi pada dirinya hari ini.


Tekad yang sudah ia timbulkan kembali runtuh saat menyadari bahwa kini ia sedang mengandung sebuah janin.


'Apa yang harus kuperbuat untuk mengakhiri masalah ini'' Batin Dian.


Beberapa saat kemudian, Ratna yang telah selesai dengan mandinya keluar dengan lingkaran handuk yang menutupi tubuh mulusnya itu.


Saat ia melihat ke arah Dian yang sedang duduk terdiam di depan meja rias itu, lantas Ratna menghampirinya dan bertanya….


"Ada apa lagi, Dian?"


Dian yang sedikit terkejut itu hanya menggelengkan kepalanya sambil menyeka air mata yang sudah terlanjur jatuh membasahi pipinya itu menggunakan tisu yang ia genggam sedari tadi.


"Sudahlah, nanti kita bicarakan sama-sama lagi yah, jangan kamu pikirkan sendiri! Ingat, kita sudah jadi satu keluarga sekarang, jadi apapun masalahnya kita akan bantu sebisa mungkin, ok!" Ratna yang mencoba menyemangati Dian.


"Sekali lagi, makasih banyak yah, Rat!" Sahut Dian.


Ratna pun tersenyum manis pada Dian.


.


.


.


.


.


Jam 7 malam,


Waktunya makan malam, semua berkumpul bersama diruang makan dalam rumah Raka. Namun hanya satu orang yang tidak ada di dalam ruangan tersebut.


"Mas Raka kemana yah?" Tanya Dian.


Ryan yang berada di sana tidak menanggapi pertanyaan dari Dian, begitu juga dengan Ratna yang hanya membalas pertanyaan Dian itu hanya dengan menyentuh tangannya Dian sambil tersenyum.


Beda halnya dengan Rani yang sedang agak sibuk mempersiapkan makan malam untuk semuanya, tidak mendengarkan pertanyaan dari Dian itu yang suaranya agak parau.


Setelah semuanya siap untuk menyantap makan malam itu, Rani pun baru menyadari sesuatu di dalam ruangan itu.


Setelah beberapa menit berlalu, kekasihnya yang ditunggu tidak kunjung datang juga ke tempat itu.


Karena, Rani merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kekasihnya itu, yang biasanya datang disaat terakhir seperti waktu sarapan pagi yang biasanya mereka lakukan bersama.


Namun, sampai selesainya mereka makan malam, Raka tak kunjung keluar kamar.


Rani mulai curiga dengan keanehan ini. Karena tidak seperti biasanya saat dirinya ada dirumah itu, Rani merasa asing bila tidak ada Raka disampingnya dalam rumah itu.

__ADS_1


Setelah Rani selesai membersihkan sisa makan malam itu yang dibantu oleh Ibu Minah, Rani pun segera pergi ke kamar Raka.


Rani ingin mengetahui keadaan kekasihnya itu.


Saat Rani berjalan ingin menaiki anak tangga, Rani dipanggil oleh Dian yang sedang duduk bersama Ryan dan Ratna di ruang tengah itu dengan televisi yang menyala.


Rani pun menghampiri Dian terlebih dahulu untuk mengetahui kemauan Dian saat ini sebelum dia melanjutkan ke kamar Raka.


"Ada apa, Dian?" Tanya Rani.


"Mbak, mau kemana?" Dian yang bertanya balik pada Rani.


"Mbak, mau ke kamar Mas Raka." Jawab Rani.


"Ehm … maaf yah Mbak, Dian sudah mengganggu acaranya, Mbak dan Mas Raka!" Ucap Dian.


"Tidak apa-apa, Dian! Kamu 'kan sudah Mbak anggap seperti adik Mbak sendiri, sama halnya dengan Ratna!" Jelas Rani.


"Yah sudah yah, Mbak mau ke kamar Mas Raka dulu yah!" Lanjut Rani lagi.


"Iya, Mbak!" Ucap Dian.


Lalu Rani melanjutkan niatnya untuk melihat keadaan kekasihnya yang masih belum keluar dari kamarnya.


Kemudian saat Rani menaiki anak tangga, Rani dipanggil kembali oleh Dian.


"Mbak!"


Rani yang dipanggil pun akhirnya menghentikan kembali langkahnya dan menoleh ke arah Dian.


"Dian boleh ke balkon, Mbak?" Tanya Dian pada Rani.


"Iya boleh, memang tempat itu cocok untuk menenangkan diri, nanti Mbak menyusul ke sana yah, kamu saja duluan yah!" Jawab Rani yang mengerti dengan maksud Dian.


Setelah menjawab itu Rani melanjutkan kembali langkahnya dan sampailah ia di depan pintu kamar Raka.


Rani yang sudah mengetahui kebiasaan Raka yang tidak pernah mengunci pintu kamarnya, Rani lantas langsung masuk ke dalam kamar tersebut yang memang tidak terkunci itu.


"Mas … " panggil Rani.


Dirasa kekasihnya itu tidak menanggapinya akhirnya Rani melanjutkan langkahnya untuk memasuki kamar itu secara perlahan.


Ia berjalan mendekati tempat tidur kekasihnya itu.


Setelah Rani berdiri tepat di samping ranjang itu, Rani melihat Raka yang sedang memikirkan sesuatu tanpa menyadari kedatangannya yang kini sudah berada di sampingnya sambil berdiri.


Lalu Rani mulai memanggil kekasihnya kembali.


"Mas …"


Raka yang mulai tersadar dari lamunannya itu pun sedikit terkejut dengan keberadaan Rani yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya itu.


"Ehh … Ran!"


Lalu Raka membangunkan tubuhnya sendiri dan mulai memposisikan duduknya yang masih ditempat tidurnya itu.


Rani pun kini mulai duduk dipinggir ranjang kekasihnya sambil memberikan senyum khasnya untuk lelaki pujaan hatinya itu.


Raka yang melihat itu sedikit malu dibuatnya dan menanyakan kepada Rani apa tujuannya datang menemuinya.


"Rani hanya ingin melihat, Mas saja!" Ucap Rani.


Mendengar itu Raka tampak serba salah dibuatnya.


Lalu Raka pun mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraannya dengan menanyakan tentang kondisi Dian sekarang.


Kemudian Rani langsung menceritakan tentang kondisi Dian saat ini yang belum ada perubahan dan saat ini, Dian berada di tempat favoritnya Raka.

__ADS_1


Raka terlihat termenung sejenak setelah mendengar penjelasan dari Rani, lalu ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri.


"Mas, mau kemana?" Tanya Rani yang tampak sedikit bingung dengan kekasihnya itu.


"Menemani Dian, tidak apa-apa 'kan." Ucapnya tanpa melihat ke arah Rani.


Rani hanya tersenyum saja mendengar kalimat itu dari Raka, seolah ia sudah menemukan jalan keluarnya untuk masalah Dian saat ini.


Lalu Rani pun berjalan mengikuti Raka di belakang untuk keluar dari kamar tersebut.


Setelah mereka berdua keluar dari kamar itu, mereka melihat ke arah ruang tengah yang berada di lantai dasar itu, dan mereka tidak melihat satu orang pun dari salah satu sahabatnya disana.


Mereka pun mengambil kesimpulan bahwa semuanya sedang berada di tempat favoritnya Raka, dan mereka berdua pun mulai berjalan ke tempat itu.


Setelah mereka sampai di tempat favoritnya Raka. Mereka berdua melihat ketiga sahabatnya itu sedang saling berbicara santai.


Raka dan Rani kemudian menghampiri mereka bertiga disana lalu duduk dan ikut kumpul bersama dengan ketiga sahabatnya itu.


Ryan yang melihat wajah Rani tampak berseri-seri itu mempunyai perasaan yang tidak enak dalam hatinya.


'Apa dia sudah mengatakannya pada Raka?' Batin Ryan.


Raka, yang duduk bersebrangan dengan Dian, kemudian mengeluarkan rokoknya dan mulai menyalakannya sambil melihat ke arah Dian yang terlihat menunduk malu tidak berani untuk melihat kearah dirinya.


Setelah Raka menghembuskan nafasnya yang disertai asap rokok itu mulai mengeluarkan suaranya untuk berbicara kepada Dian.


"Bagaimana Dian?"


Dian yang mulai mendengar suara Raka dan bertanya pada dirinya, masih belum berani untuk mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Raka.


Ratna yang duduk disebelah Rani dan berseberangan dengan Ryan itu sedikit bingung dengan maksud pertanyaan dari Raka itu untuk Dian.


Karena pikiran Ratna untuk apa pertanyaan seperti itu, sedangkan jawabannya sudah pasti.


Berbeda halnya dengan Ryan yang tampak terkejut mendengar pertanyaan itu dari Raka.


Karena yang ada dipikiran Ryan berbeda dengan Ratna yang pastinya belum mengetahui semuanya.


'Apa mereka bertiga sudah membicarakannya? Gila!' Batin Ryan.


Raka yang melihat Dian masih dengan posisi itu tanpa suara, ia pun akhirnya menoleh ke arah Rani yang terlihat tenang itu seakan semuanya sudah beres.


Kemudian, Rani hanya tersenyum saja melihat Raka yang ekspresi wajahnya itu seakan bingung melihat kearah dirinya.


Lalu, Rani pun mulai ikut buka suara dan berbicara kepada Dian.


"Dian, Mbak ada solusi untuk kamu, asalkan kamu setuju!"


Setelah mendengar ucapan dari Rani, Dian perlahan mulai menangkat wajahnya dan melihat kearah Rani.


"Apa solusinya, Mbak?" Tanya Dian yang bingung dengan maksud dari Rani itu.


Dengan santai dan tenangnya Rani mengatakannya….


"Kamu nikah saja sama Mas Raka!"


.


.


.


.


.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻

__ADS_1


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,😁🙏😁!


__ADS_2