
Setelah momen emosional tersebut, Dian, Rani, Raka, Ryan, dan Ratna memutuskan untuk duduk bersama dan merencanakan langkah selanjutnya untuk mengatasi situasi ini dengan bijaksana. Mereka sadar bahwa perasaan cinta yang kompleks ini harus dihadapi dengan kepala dingin dan empati satu sama lain.
Rani menyimpulkan, "Baiklah, mari kita semua tenangkan pikiran kita dan bicarakan dengan orang tua Dian tentang situasi ini secara terbuka. Kita harus berbicara dengan penuh kejujuran dan mengungkapkan perasaan masing-masing dengan bijaksana."
Semua orang setuju, dan mereka merencanakan pertemuan dengan orang tua Dian di rumahnya. Dian merasa gugup, tapi dia tahu ini adalah langkah yang harus diambil untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.
Akhirnya mereka berlima memutuskan untuk segera pergi ke rumah orang tua, Dian. Dan memang perjalanan ke rumah orang tua, Dian, dari rumah Raka sedikit agak jauh walaupun tidak sejauh kampung halaman Raka. Jaraknya hanya menempuh waktu kurang lebih 2 setengah jam sampai 3 jaman.
Selama perjalanan menuju rumah orang tua Dian, suasana tetap tegang di dalam mobil. Semua orang berusaha untuk tetap tenang dan menahan perasaan gugup mereka. Namun, untuk mengurangi ketegangan, mereka memutuskan untuk singgah dulu ke restoran untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan.
Mereka memilih restoran yang nyaman dengan suasana yang tenang. Setelah duduk di meja, Raka mencoba mengalihkan suasana dengan bercanda, "Kita semua sedang bermasalah dengan perasaan cinta, tapi setidaknya masalah kita satu-satu, bukan? Kita tidak saling jatuh cinta satu sama lain, kan?"
Perkataan Raka itu berhasil membuat semuanya tersenyum dan suasana menjadi lebih santai. Ryan menimpali dengan senyum, "Tentu saja! Kita punya cukup masalah dengan cinta sendiri-sendiri. Tidak perlu ada love triangle di antara kita."
Ratna menyambung, "Betul, setidaknya kita tidak perlu berkompetisi dalam urusan cinta. Kita tetap sahabat baik, tanpa ada perasaan cemburu."
Dian bergumam, "Kalian benar, saya sangat bersyukur memiliki teman-teman sebaik kalian. Kalian selalu membuat situasi sulit ini lebih ringan."
Setelah makan siang, mereka melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua Dian.
Semakin dekat ke tujuan, Dian semakin gugup dan gelisah. Namun, teman-temannya terus memberikan dukungan dan memberikan semangat.
Perjalanan berlanjut dengan suasana yang lebih santai di dalam kendaraan. Teman-teman Dian terus berusaha mengalihkan perhatian Dian dengan bercanda dan cerita lucu. Mereka saling bercanda satu sama lain, membuat Dian tertawa meskipun masih sedikit gugup.
Ryan yang terkenal dengan kejenakannya mulai bertanya kepada Raka, "Eh, Raka, bagaimana sih rencana pernikahan kalian nanti? Apakah ada tema khusus atau tempat impian?"
Raka tersenyum dan menjawab dengan semangat, "Tentu saja! Kami sudah memikirkan banyak hal. Rencananya akan ada tema alam karena kami berdua menyukai keindahan alam. Kami juga ingin pernikahan ini menjadi momen yang intim dan berarti bagi kami dan keluarga."
Ratna menambahkan, "Ratna akan membantu Dian dengan persiapan pernikahan, jadi pasti akan ada banyak dekorasi cantik dan bunga-bunga indah!"
Mendengar cerita tentang pernikahan teman-temannya, Dian merasa bahagia dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia tahu bahwa perasaannya yang rumit akan tetap ada, tapi melihat kebahagiaan teman-temannya membantu mengurangi ketegangan yang dia rasakan.
Rani menyadari bahwa Dian masih agak gugup, jadi dia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya lagi dengan pertanyaan lain, "Hei, ada yang punya rencana liburan selanjutnya? Mungkin liburan bersama akan membuat kita semua lebih rileks dan menenangkan pikiran."
Ryan langsung antusias, "Saya setuju! Kita bisa merencanakan liburan bersama setelah semuanya ini berakhir. Mungkin ke pantai atau pegunungan, bagaimana menurut kalian?"
Semua orang setuju dan mulai membahas kemungkinan destinasi liburan. Obrolan ini membuat suasana di dalam mobil semakin cair, dan Dian merasa lebih tenang.
__ADS_1
Saat akhirnya mereka tiba di depan rumah Dian, Dian mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya atas dukungan mereka selama perjalanan. "Terima kasih, teman-teman. Kalian benar-benar membuat perjalanan ini lebih mudah bagiku. Aku sangat beruntung memiliki kalian."
Rani menyentuh bahu Dian dengan lembut, "Kami selalu ada untukmu, Dian. Dan ingat, kita akan menghadapi situasi ini bersama-sama. Apapun yang terjadi, kita akan tetap menjadi sahabat yang saling mendukung."
Raka menambahkan, "Dan jangan ragu untuk berbicara tentang perasaanmu. Kita akan mendengarkan dengan tulus."
Ryan dan Ratna juga memberikan dukungan mereka, dan suasana menjadi lebih hangat dan penuh cinta di antara mereka. Mereka berjanji untuk terus berbicara dan mencari solusi yang terbaik bagi semua pihak, sambil saling menghormati perasaan masing-masing.
Setelah mereka keluar dari mobil, suasana tetap hangat dan penuh cinta. Dian disambut oleh kedua orang tuanya yang senang melihat kedatangan Dian bersama teman-temannya. Namun, tanpa diduga, Dian tiba-tiba berlari ke arah ibundanya dan langsung memeluknya erat sambil menangis.
"Ibu, maafkan Dian," gumam Dian diantara tangisnya.
Ibu Dian yang kaget dan bingung memeluknya dengan penuh kelembutan, "Apa yang terjadi, Nak? Maafkan apa?"
Dalam pelukan ibunya, Dian hanya menangis sejadi-jadinya tanpa bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ibu Dian mengelus punggungnya dengan lembut, memberikan dukungan tanpa banyak pertanyaan.
Teman-teman Dian berdiri terpaku, tidak tahu bagaimana harus merespon situasi ini. Mereka menyadari betapa tegangnya perasaan Dian, dan mereka berusaha memberi ruang pada Dian untuk melepaskan emosinya.
Setelah beberapa saat berlalu, Dian akhirnya bisa mengendalikan tangisnya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat langsung ke mata ibunya. Dengan suara lembut, ibu Dian bertanya, "Nak, apa yang terjadi? Ceritakan pada Ibu, Ibu di sini untuk mendengarkan."
Sesaat Dian ingin mengatakan tentang masalah yang dialaminya, tetapi kalimat Dian terputus oleh suara ayahnya yang menyuruh Dian dan teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah dulu. Ayah Dian melihat kondisi yang sedikit tegang itu dan ingin meredakan suasana.
Mereka semua mengikuti ayah Dian masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, ibu Dian menyajikan minuman hangat dan camilan untuk menyambut kedatangan mereka. Semua berusaha tersenyum dan menunjukkan keceriaan, meskipun perasaan Dian masih terasa berat.
Setelah duduk bersama, ayah Dian bertanya dengan lembut, "Ada apa sebenarnya, Nak? Apa yang membuatmu menangis tadi?"
Dian merasa kembali gugup, tapi dengan dukungan dari teman-temannya yang ada di sisinya, Dian mulai mengungkapkan perasaannya dengan lirih, "Dian... Dianโฆ.โ
Sebelum Dian menyelesaikan maksud di hatinya. Tiba-tiba Raka memotong kalimat Dian dan langsung berbicara langsung kepada kedua orang tua Dian.
โIjinkan saya untuk menikahi putri Bapak dan Ibuโ
Ketika Raka tiba-tiba memotong kalimat Dian dan menyatakan bahwa dia ingin menikahi putri mereka, suasana di ruangan menjadi hening. Kedua orang tua Dian terlihat kaget dengan pernyataan tiba-tiba ini. Sedangkan Dian dan teman-temannya juga tak kalah terkejutnya karena tidak mengira Raka akan bicara secara langsung kepada orang tua Dian.
Sesaat keheningan itu, Dian memandang Raka dengan tatapan penuh pertanyaan. Rani yang duduk di sebelahnya, menggenggam tangan Dian sebagai dukungan. Ternyata, Rani dan teman-temannya telah berjanji untuk menjaga rahasia itu sampai Dian siap untuk berbicara dengan orang tuanya.
Setelah momen keheningan yang terjadi karena pernyataan tiba-tiba dari Raka, suasana di ruangan menjadi tegang. Rani, yang menganggap Dian sebagai adiknya sendiri, mencoba mengatasi situasi ini dengan lembut.
__ADS_1
Rani berbicara kepada orang tua Dian, "Maafkan Mas Raka, mungkin perasaannya begitu kuat hingga dia merasa perlu mengungkapkannya langsung kepada Bapak dan Ibu. Kami memang niat awal semua datang berkunjung ke sini sebagai teman untuk membantu atau membicarakan hal seperti ini."
sebenarnya maksud Raka memotong ucapan Dian adalah agar Dian tidak berbicara secara langsung kepada Ibu dan Bapaknya mengenai ia yang saat ini sedang positif hamil. Dan yang tahu niat dan tujuan Raka itu hanyalah Rani dan teman-temannya.
Ayah Dian yang tetap tenang menjawab, "Tidak apa-apa, kami menghargai kejujuran Nak Raka. Tapi, ini adalah keputusan besar yang harus dipertimbangkan dengan matang."
Ibu Dian menambahkan, "Benar, pernikahan adalah langkah penting dalam hidup. Kami harus memberi waktu pada Dian untuk memikirkan semuanya."
Sementara itu, Raka menjelaskan dengan lembut, "Maaf Dian, bukan maksud Mas untuk memotongmu. Mas hanya khawatir bahwa perasaanmu sedang bergejolak, dan Mas ingin memberimu waktu untuk memikirkan semuanya dengan tenang sebelum berbicara dengan kedua orang tuamu."
Ratna dan Ryan yang duduk di bangku belakang juga mengangguk setuju. Mereka sepenuhnya memahami bahwa situasi ini memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati dan bijaksana. Kehadiran Rani, sahabat sekaligus dianggap kakak bagi Dian, sangat berarti dalam membantu Dian menghadapi situasi ini.
Dian tersenyum, merasa terharu dengan perhatian dan dukungan dari teman-temannya. "Terima kasih, semuanya. Kalian adalah sahabat-sahabat terbaik yang bisa Dian miliki."
Rani menyentuh tangan Dian dengan lembut, "Kami selalu ada untukmu, Dian. Kami akan mendukungmu dalam setiap langkah yang kamu ambil."
Setelah momen keheningan dan percakapan singkat itu, suasana di ruangan mulai menjadi lebih ringan. Orang tua Dian juga bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang harus diungkapkan oleh anak mereka, tapi mereka dengan bijaksana memberi Dian waktu untuk bersiap dan berbicara saat dia siap.
Beberapa jam pun berlalu setelah kedatangan mereka berlima di rumah Dian, Dian kini mulai merasa lebih tenang dan siap untuk berbicara dengan orang tuanya. Dia merencanakan waktu yang tepat untuk duduk bersama kedua orang tuanya dan membicarakan tentang kondisinya kini yang sedang positif hamil.
Akhirnya, malam pun tiba setelah teman-temannya memasuki kamar yang telah disediakan. Dian perlahan duduk dan mulai mendekati kedua orang tuanya di ruang keluarga yang memang masih menonton televisi itu. Dia merasa gugup, tapi dia membayangi dengan dukungan dari teman-temannya, dia perlahan sambil mencoba untuk tetap tenang.
"Dian, apa yang ingin kamu bicarakan sebenarnya, Nak?" tanya Ibu Dian dengan penuh perhatian yang memang sudah curiga dengan gelagat dari anaknya tersebut.
Dian mengambil nafas dalam-dalam, "Ibu, Ayah, ada sesuatu yang ingin Dian ceritakan. Dian... saat ini sedang hamil."
.
.
.
.
.
๐ป๐ต๏ธ๐ธ๐บ๐ท๐ฅ๐น๐ผ๐น๐ฅ๐ท๐บ๐ธ๐ต๏ธ๐ป
__ADS_1
** Hai readers, ini karya pertama ku. Benarยฒ yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa ๐ like kalian juga ku nanti.
Terima kasih,๐๐๐!