Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 60


__ADS_3

Di lain tempat, Ayah dan Ibu Dian sedang asik memetik buah belimbing di kebun belakang. Sementara itu, mereka melihat Dian, Ryan, dan Ratna yang terlihat sedang duduk di beranda belakang rumah dengan tatapan yang penuh pemikiran.


"Apakah kamu melihat itu, Pak?" tanya Ibu Dian pada Ayah Dian sambil menunjuk ke arah mereka.


"Ya, Ibu. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius," jawab Ayah Dian sambil merenungkan ekspresi Dian bersama dua sahabatnya yang tampak penuh pemikiran.


Ibu Dian merasa khawatir dan bertanya, "Apa mereka memikirkan masalah yang tadi yah, Pak? Apakah mereka baik-baik saja?"


Ayah Dian merenung sejenak sebelum menjawab, "Sulit untuk mengatakan dengan pasti. Sepertinya masalah tadi cukup rumit untuk mereka. Namun, sebagai orang tua, kita harus memberikan mereka ruang untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, selagi kita siap mendukung mereka jika dibutuhkan."


Ibu Dian mengangguk setuju, "Kamu benar. Mungkin mereka membutuhkan waktu untuk berbicara dan mencari solusi. Tapi jika mereka membutuhkan bantuan kita, kita harus siap mendengarkan dan memberikan dukungan tanpa menghakimi."


Ayah Dian menggenggam tangan Ibu Dian dengan lembut, "Betul, Bu. Anak kita telah tumbuh dewasa, dan kita harus mempercayai mereka untuk menghadapi masalah ini dengan bijaksana."


.


.


.


.


.


Ryan, yang sudah mengenal Raka dan Rani lebih lama dari pada Dian dan Ratna, mencoba menciptakan suasana yang lebih cerah dengan candaannya. Seolah tidak peduli dengan masalah Raka dan Rani, ia berkata dengan gaya santainya, "Mmmhhh, enggak lakinya, nggak cewenya. Selalu saja bikin orang ikut berpikir. Kok bisa yah, mereka buat orang lain seperti itu."


Ratna tertawa dan menyambut lelucon Ryan, "Mas benar-benar tahu cara mengalihkan perhatian, ya? Tapi bagaimanapun, jika mereka butuh dukungan, kita harus siap membantu."


Ryan setuju, "Iya, betul. Tapi untuk saat ini, mari kita nikmati momen bersama di kebun ini. Buah belimbingnya terlihat menggiurkan."


candaan Ryan mampu memecah lamunan Ratna yang berada di sampingnya tapi tidak untuk Dian yang masih nampak memikirkan Raka dan Rani.


Dian dengan tatapan yang penuh pemikiran. Dia terus memutar kata-kata Rani dalam pikirannya, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati sahabatnya itu. Kemarin mereka berbicara tentang solusi untuk masalah Dian yang sedang hamil, dan sekarang, masalah tersebut telah teratasi. Namun, Rani seakan memiliki masalah baru dengan solusi yang ada sekarang.


"Kenapa Mbak Rani bisa begitu bingung?" gumam Dian dalam hati. "Apakah dia merasa terjebak antara kebahagiaan pribadi dan tanggung jawab sebagai sahabat?"


Dian merenungkan segala kemungkinan yang bisa menyebabkan Rani merasa seperti itu. Rani memang benar-benar mencintai Raka, tetapi juga merasa terpanggil untuk membantu Dian. Dian tidak ingin menjadi beban bagi sahabatnya, tetapi dia juga tidak ingin Rani mengorbankan kebahagiaannya.

__ADS_1


"Dian, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ratna, yang menyadari bahwa Dian terlihat terdiam.


Dian menatap Ratna dengan penuh kekhawatiran. "Aku khawatir tentang Mbak Rani, Rat. Dia seakan memiliki beban yang begitu berat. Aku tak ingin dia merasa terjebak antara keinginannya sendiri dan tanggung jawabnya sebagai sahabat."


Ratna mengangguk paham, "Aku juga merasa khawatir tentang itu, Dia. Tapi apa yang bisa kita lakukan?"


Dian menghela nafas, "Aku tidak tahu, Rat. Mungkin aku harus berbicara lagi dengan Mbak Rani untuk menyakinkan dia bahwa aku sudah baik-baik saja dan kita harus memikirkan semuanya dengan jernih. Soalnya aku tak ingin dia mengorbankan kebahagiaannya karena aku."


Ryan yang semenjak tadi mencoba untuk mencairkan suasana mengajak Ratna dan Dian untuk ikut memetik buah belimbing bersama orang tua Dian yang sudah dari tadi sedang memetik buah belimbing.


"Yuk, mari kita ikut memetik buah belimbing!" ajak Ryan sambil tersenyum ceria.


Dian dan Ratna merasa sedikit teralihkan dari perasaan khawatir mereka. Mereka setuju dengan ajakan Ryan dan bergegas menuju kebun belakang, diikuti oleh Ryan yang masih menyenangkan dengan tingkah lakunya.


"Sudah lama sekali kita tidak memetik buah belimbing, kan?" ucap Ryan sambil memetik buah yang matang dari pohon.


Ratna dan Dian tersenyum mengangguk. Mereka merasa terhibur dengan keceriaan Ryan. Meskipun masalah Raka dan Rani masih menghantui pikiran Dian, dia mencoba menikmati momen sederhana ini bersama sahabat-sahabatnya.


"Mas Ryan, kamu memang hebat dalam mengalihkan perhatian," ujar Ratna dengan senyuman.


Ryan mengangkat bahu dengan santai, "Ya, tentu saja. Aku selalu siap dengan leluconku untuk membuat kalian tertawa."


Sambil memetik buah belimbing, mereka bercanda dan tertawa bersama. Wajah Dian mulai terlihat lebih cerah meskipun masih terasa terbebani dengan pemikiran tentang Raka dan Rani.


Setelah cukup puas dengan hasil pemetikan buah belimbing, mereka membawa keranjang penuh buah kecil tersebut ke beranda belakang. Ayah dan Ibu Dian yang masih sibuk memetik buah belimbing mereka menyambut dengan senyuman.


"Terima kasih sudah membantu, anak-anak," ucap Ayah Dian dengan tulus.


Ibu Dian mengusap lembut kepala Dian, "Bagaimana, Nak? Apakah kalian sudah menikmati momen di kebun?"


Dian mengangguk, "Iya, Ibu. Terima kasih sudah mengajak kami ke sini. Ini membuat Dian merasa lebih baik."


Ayah Dian tersenyum, "Baguslah kalau begitu. Kalian tahu, dalam hidup, tidak semua masalah bisa langsung terselesaikan. Tapi selagi kita punya keluarga dan sahabat yang mendukung, kita bisa melewati semua rintangan itu."


Ratna dan Ryan setuju dengan perkataan Ayah Dian. Mereka melihat betapa kuatnya persaudaraan dan persahabatan yang ada di keluarga Dian. Rasa khawatir mereka tentang Raka dan Rani masih ada, tapi mereka juga tahu bahwa Dian akan selalu memiliki dukungan dari mereka semua.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Raka yang masih duduk di ruang keluarga dengan tatapan serius, sementara Rani duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya dengan cemas. Mereka berdua merasa perlu membicarakan ide Raka yang sebelumnya ingin mengadopsi anak Dian bila sudah lahir. Namun, Rani ragu apakah Dian akan setuju dengan rencana tersebut.


"Rani, Mas masih merasa bahwa mengadopsi anak Dian adalah ide yang baik," ujar Raka dengan lembut. "Kita sudah bersama cukup lumayan lama. Berarti kita tidak akan ada masalah bila merawat Dian selama masa kehamilannya. Mas tahu betapa besar rasa cintamu pada Dian, dan Mas pun ingin menjadi ayah bagi anak ini, sama seperti Mas ingin menjadi suamimu."


Rani mengangguk, tetapi ekspresinya masih penuh keraguan, "Rani tahu, Mas. Tapi Rani juga khawatir apa Dian akan merasa terbebani atau merasa bahwa kita mencampuri keputusannya sebagai ibu. Meskipun Rani tahu bahwa kita hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Dian dan anak ini, tapi ini adalah keputusan besar yang harus melibatkan Dian juga."


Raka menggenggam erat tangan Rani, "Mas mengerti perasaanmu. Kita tidak ingin membuat Dian merasa terpaksa atau ditekan dengan keputusan kita. Tapi apakah kita bisa membicarakannya dengan Dian dan menyampaikan niat baik kita?"


Rani menghela nafas, "Rani rasa itu adalah langkah yang bijaksana. Kita harus berbicara dengan jujur pada Dian dan mendengarkan pendapatnya. Jika dia tidak setuju, kita harus menghormati keputusannya. Kita tidak bisa memaksanya."


Raka mengangguk, "Setuju. Kita akan bicarakan dengan Dian dan memberikan dia waktu untuk memikirkannya dengan baik."


Beberapa saat kemudian, Dian masuk ke dalam rumah. Dia melihat Raka dan Rani yang masih duduk di ruang keluarga dengan ekspresi yang serius. Dia merasa ada sesuatu yang mereka ingin bicarakan.


"Dian, ada yang ingin kami bicarakan," ucap Raka dengan lembut.


Rani menambahkan, "Kami berdua ingin berbicara denganmu tentang rencana kami untuk mengadopsi anakmu yang akan lahir."


.


.


.


.


.


🌻🏡️🌸🌺🌷πŸ₯€πŸŒΉπŸŒΌπŸŒΉπŸ₯€πŸŒ·πŸŒΊπŸŒΈπŸ΅οΈπŸŒ»

__ADS_1


** Hai readers, ini karya pertama ku. BenarΒ² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa πŸ‘ like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,πŸ˜πŸ™πŸ˜!


__ADS_2