
Rani yang tiba-tiba dipeluk itu hanya diam sambil mengelus punggung dan rambut Dian sekaligus mencoba memahami apa yang sedang terjadi karena tangisan Dian yang terdengar sungguh menyayat hati itu.
Ratna yang tadinya terkejut melihat perilaku kawannya itu akhirnya mencoba menghampiri dan mengikuti seperti apa yang Rani lakukan sambil mencoba menenangkannya.
"Sudah, Dian… sudah…." Ucap Ratna.
Ryan yang semenjak tadi berdiri pun akhirnya menghampiri Raka setelah Ratna yang mencoba untuk menenangkan Dian.
"Ayo kita ke tempatmu dulu! Ada yang ingin aku tanyakan!" Ucap Ryan pada Raka sambil sedikit menarik lengan Raka agar mau mengikutinya.
Karena Raka yang berdiri mematung pun bingung dengan apa yang telah terjadi dan tidak bisa berbuat banyak.
Akhirnya Ryan dan Raka menaiki anak tangga untuk menuju tempat favoritnya Raka meninggalkan wanita bertiga itu di ruang tengah.
Raka yang berjalan mundur sesaat pun karena lengannya yang sedikit ditarik oleh Ryan sambil memberi isyarat pada Rani agar nanti bisa menyusulnya.
Rani yang melihat isyarat itu dari Raka hanya menjawabnya dengan anggukan kepala sambil tetap pada posisinya agar Dian bisa tenang dahulu.
Setelah sampai di balkon Ryan langsung mengutarakan maksudnya.
"Kamu apa-apaan sih, bawa Dian ke sini?" Tanya Ryan yang sedikit kesal pada Raka.
Raka yang sedikit bingung pun tidak langsung menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. Dia hanya diam dan mengeluarkan rokok lalu menyalakannya.
"Huuussshhhh" hembusan nafas Raka yang dibarengi oleh asap rokoknya.
"Hey, kenapa?" Ryan menegaskan kembali pertanyaannya.
"Ya, tidak ada apa-apa! Hanya ingin mengenalkan saja pada Rani, agar saat nanti ada waktu liburan bersama, kita sudah bisa sangat akrab. Itu saja maksudku!" Jelas Raka.
"Memangnya kamu tidak tahu, masalahnya dia apa?" Tanya Ryan kembali.
Raka hanya menggelengkan kepalanya saja tanda dia tidak mengetahuinya.
Lalu Ryan pun menjelaskan semuanya apa yang tadi siang telah terjadi.
Setelah mengetahuinya Raka tampak termenung seakan memikirkan sesuatu di kepalanya.
Di Lain tempat, diruang tengah….
Rani yang sekarang sedang duduk di sofa sedangkan Dian yang masih menangis sesenggukan dengan kepalanya yang berada di pahanya Rani. Sedangkan Ratna yang berada di dapur untuk membuatkan segelas teh hangat untuk Dian.
Rani yang hanya berdua saja dengan Dian menanyakan secara halus apa yang sedang terjadi kepada Dian, karena dirinya sungguh sangat tidak mengerti apa yang telah terjadi saat ini.
"Namamu Dian yah?" Tanya Rani secara halus pada Dian.
"Iya, Mbak!" Jawab Dian yang masih sambil menangis.
__ADS_1
"Namamu cantik yah, seperti orang nya! Boleh, Mbak tahu apa yang terjadi, Dian?" Perlahan tapi pasti, Rani bertanya pada Dian.
Dian menceritakan semuanya walaupun masih ada yang ditutupinya ataupun yang membuatnya bingung.
Dian yang saat ini sedang suka sekali sama bobby tapi ada satu ulah bobby yang membuat Dian merasakan beban seperti ini didalam hatinya.
Rani yang pelan-pelan bertanya lalu sambil memberikan masukan atau pun saran yang akhirnya tetap harus diambil keputusannya oleh Dian sendiri, masih dengan sabar untuk mendengarkan keluh kesahnya Dian.
Lalu tak lama kemudian Ratna pun datang menghampiri Rani dan Dian sambil membawakan segelas teh hangat untuk Dian, agar bisa membuat perasaannya Dian lebih tenang sedikit.
"Ini Dian, coba kamu minum dulu yah! Biar kamu bisa tenang…." Ucap Ratna sambil menyuguhkan segelas teh hangat yang dibawanya dari dapur.
Dian pun menggelengkan kepalanya yang masih berada di pahanya Rani menandakan ia menolaknya.
Namun Rani ikut membujuknya agar Dian mau minum teh hangat itu walaupun hanya sedikit.
"Tidak boleh seperti itu! Ratna sudah berusaha membuatnya agar hatimu bisa tenang, diminum yah… sedikit saja!" Rayu Rani pada Dian.
Akhirnya dengan bujukan dari Rani, Dian pun mulai untuk berusaha bangkit dari posisinya sekarang yang dibantu oleh Rani dan Ratna.
Lalu Dian pun meminum teh hangat yang dibuatkan oleh Ratna itu.
"Pelan-pelan saja yah!" Ucap Rani yang masih sambil mengelus-elus pundaknya Dian dengan lembutnya.
Setelah Dian meminum hampir setengah gelas teh hangat itu, kemudian Dian pun memperbaiki posisi duduknya agar kepalanya masih bisa untuk bersandar pada bagian dadanya Rani dan Rani pun merangkulnya. Sambil tetap mengelus-elus punggungnya Dian dengan penuh kasih sayang.
Ratna yang duduk bersebrangan dengan mereka itu hanya memperhatikan saja dengan rasa kagum yang teramat dalam kepada Rani.
Lalu Dian pun meneruskan curahan hatinya itu pada Rani yang didengarkan pula oleh Ratna semenjak bersama mereka setelah membawakan segelas teh hangat untuk Dian.
Ternyata Dian melihat Rani itu seakan-akan kakak kandungnya sendiri yang saat ini memang sudah menikah dan ikut dengan suaminya itu yang sekarang tinggal di luar negeri.
Dian itu anak terakhir dari 2 bersaudara, makanya tingkahnya seperti itu, karena selalu dimanja oleh kedua orang tuanya sejak masih kecil dan kakaknya yang amat menyayanginya pun selalu membelanya dan menutupi semua kesalahannya sejak mereka tumbuh besar bersama dan kini mereka harus berpisah karena kewajiban kakaknya yang sekarang telah menjadi istri seseorang itu.
Itulah yang akhirnya membuat Dian menangis sejadi-jadinya saat melihat Rani, karena hampir 2 minggu lebih masalahnya ia pendam sendiri karena tidak ada tempat untuk mencurahkan isi hatinya.
Ratna yang akhirnya mendengarkan semuanya itu bertambah yakin pada Rani bahwa hanya memang Ranilah yang cocok untuk bersanding dengan Raka.
Karena kharisma mereka yang hampir sama dan juga sikap serta sifat mereka yang saling melengkapi.
Setelah Dian bisa tenang, Rani mengajaknya untuk ke tempat Raka dan Ryan yang sekarang sedang berada.
Dian pun menyetujuinya lalu mereka bertiga berjalan bersama menuju tempat favoritnya Raka.
Tak lama kemudian mereka bertiga pun telah sampai disana dan kedatangan mereka disambut oleh Ryan yang menyiapkan kursi untuk mereka berlima ngobrol bersama.
Obrolan pun dimulai dengan candaan Ryan yang akhirnya bisa membuat Dian sedikit merasa terhibur dan mengeluarkan senyumnya.
__ADS_1
Kebahagiaan mereka bersama saat itu sungguh sangat berkesan untuk Dian. Walaupun mereka itu bukan keluarga tapi hubungan mereka seakan-akan melebihi keluarganya sendiri.
Waktu pun berlalu dan tak terasa sudah 1 jam lebih mereka bersama, mengobrol dan saling melempar candaan ataupun senyuman, tanpa membahas lagi masalah Dian, itulah yang membuat Dian nyaman bersama mereka.
Tempat favoritnya Raka itu sungguh sangat bisa mencairkan suasana atau pun untuk bisa membuat perasaan seseorang itu menjadi tenang.
Jam 9.30 malam….
"Dian, kamu mau menginap di sini? Apa mau pulang saja?" Tanya Rani pada Dian disela-sela obrolan mereka berlima.
"Ohh, dah malam yah!" Ucap Dian yang tersadar sambil melihat jam tangannya.
Dian yang kini sedikit bisa kembali seperti dulu lagi karena obrolan mereka bersama yang terasa hangat itu, sesaat bisa sedikit melupakan bebannya yang sedang ia alami.
"Lebih baik menginap saja! Besok pagi pulangnya bareng sama Ryan dan Ratna sekalian nanti langsung ke kantor. Bagaimana!" Saran dari Raka untuk Dian.
"Memangnya boleh yah? Apa saya nantinya tidak mengganggu kalian!" Ucap Dian yang merasa tidak enak hati bila sampai keberadaannya mengganggu 4 sahabat itu.
"Mengganggu apa memangnya! Setiap teman yang sudah di bawa ke tempat ini oleh Mas Raka, itu sudah sama halnya menjadi bagian dari keluarga ini! Bukannya begitu, Mas!" Jelas Rani yang sambil melihat ke arah Raka.
Raka hanya bisa tersenyum saja saat mendengar penjelasan itu dari Rani.
Lalu tak lama berselang Ratna pun bangkit dari tempat duduknya dan mengajak Dian untuk beristirahat di dalam kamarnya.
"Ayo Dian, kita masuk yuk! Kamu harus istirahat dulu biar besok bisa lebih baik lagi!" Ajakan Ratna pada Dian.
Lalu Dian pun pamit pada Rani, Raka dan Ryan yang masih ada di sana untuk beristirahat lebih dulu bersama Ratna.
Setelah kedua wanita itu pergi Ryan pun menyusul pamit kepada Raka dan Rani untuk beristirahat juga.
"Ya sudah yah! Saya juga mau istirahat dulu. Pusing kepala saya kalau terlalu lama sama orang yang membuat masalah melulu!" Ucap Ryan sambil melirik mengejek kepada Raka.
"Sialan kamu!" Sahut Raka yang sambil melemparkan bungkus rokok yang kosong ke arah Ryan.
Rani hanya tertawa saja melihat kedua sahabat itu saling bercanda.
Dan Ryan pun pergi dari tempat itu meninggalkan Rani dan Raka berdua saja.
"Ehm… makan mie enak kali yah!" Ucap Raka yang menyindir Rani.
Lalu Rani melihat Raka dengan wajah santainya kemudian tersenyum pada Raka.
"Mas, mau makan mie?" Tanya Rani untuk memperjelas maksud dari ucapan Raka sebelumnya.
"Sepertinya sih begitu…." Ucap Raka yang memalingkan pandangannya dari wajah Rani.
"Kok begitu sih! Mas, ini sebenarnya mau makan mie atau tidak? Kalau mau nanti Rani buatkan, Mas!" Sahut Rani sambil tersenyum namun tetap memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Yah, buatkan dong! Masa, Ryan dibuatkan, Mas tidak sih!" Sindir Raka yang terdengar jelas oleh Rani.
Rani pun terkejut mendengar kalimat itu dari Raka.