Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 53


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah,


Terlihat sinar matahari pagi menyinari setiap sudut ruangan dengan cahaya hangatnya. Suasana di dalam rumah itu begitu tenang dan damai. Jendela-jendela besar membuka pandangan keindahan danau yang berkilau di luar.


Pagi itu, Raka yang seperti biasanya berdiri di tempat favoritnya sambil memandangi danau yang begitu menenangkan, embun masih menutupi permukaan danau, dan sinar matahari pagi perlahan menyapa wajahnya. Ditemani secangkir kopi hangat, Raka memandangi pemandangan indah yang terbentang di depannya.


Namun keadaan hatinya tak sesenang suasana pagi yang dia nikmati itu. Pikiran Raka masih kacau karena keputusan sulit yang sebentar lagi akan dia hadapi.


“huuuuuuhsshh…” suara hembusan nafas Raka yang diiringi dengan asap rokoknya.


Ketika Raka tengah larut dalam pemikiran itu, tiba-tiba suara manis Rani membuyarkan khayalannya. Raka mengalihkan pandangannya dan melihat Rani, kekasihnya, yang sudah berdiri di sampingnya dengan senyuman hangat. Senyum Rani seakan-akan membawa kedamaian dan keceriaan di pagi itu.


“Apa yang sedang kamu pikirkan, Mas?” tanya Rani lembut sambil menatap Raka dengan perhatian.


Raka terdiam sejenak, merasa agak terkejut dengan kehadiran Rani namun juga merasa senang. Ia memutuskan untuk tidak menyembunyikan perasaannya.


“Sejujurnya, Mas sedang mengkhawatirkan keputusanmu yang semalam. Walaupun, Mas setuju tapi ada sesuatu yang Mas ragukan,” jawab Raka dengan tulus.


Rani mengangguk memahami dan lalu menyentuh pelan pundak Raka, memberikan dukungan tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.


“Tapi lihatlah keindahan danau ini. Pagi ini sungguh indah, bukan? Banyak hal di dunia ini yang bisa membuat hati kita ringan meski sejenak,” kata Rani sambil menatap pemandangan danau yang mempesona.


Raka mengikuti pandangan Rani dan merenungkan kata-katanya. Ia menyadari masalah-masalah yang menghimpit pikiran bisa membuat kita lupa untuk menikmati keindahan di sekitar kita.


“Kau benar,” sahut Raka perlahan. “Terima kasih telah mengingatkanku, Rani.”


Rani tersenyum dan kemudian mengajak Raka untuk duduk bersama di bangku balkon. Mereka duduk berdampingan, masih menyaksikan danau yang memantulkan sinar matahari pagi.


“Mas,” ucap Rani dengan suara yang lembut, “aku ingin bercerita tentang sesuatu yang sangat penting bagi kita berdua.”


Raka memandang Rani dengan tatapan penuh perhatian. Dia merasa ada yang tidak beres, karena perubahan wajah Rani yang tiba-tiba terlihat gelisah tidak seperti biasanya.

__ADS_1


“Tentu, Ran. Katakan saja apa yang sedang mengganggu pikiranmu,” ujarnya sambil memegang tangan Rani dengan penuh kasih sayang.


Rani mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Seperti yang Mas tahu, Rani sangat mencintaimu, Mas. Kita sudah berbagi begitu banyak kenangan dan mimpi bersama. Namun, akhir-akhir ini, ada sesuatu yang membuatku merasa terguncang.”


Raka memandangi Rani dengan penuh perhatian, memberikan kesempatan padanya untuk meneruskan.


“Rani dan Dian, memang belum lama bertemu. Tapi, saat ini, Dian sudah Rani anggap sebagai adik sendiri, Mas. Apalagi, sekarang dia sedang mengalami masalah yang cukup besar bagi para wanita. Walaupun itu kesalahan yang dia perbuat, tapi Rani bisa merasakannya, Mas. Seperti yang pernah Rani ceritakan kepada, Mas.” Rani mengucapkan kalimat itu dengan hati-hati.


Wajah Raka tampak kaget mendengarnya, karena Rani masih saja dengan pendiriannya. Tetapi dia tidak mengucapkan sepatah katapun, memberikan kesempatan pada Rani untuk meneruskan penjelasannya.


“Dian tidak sengaja hamil dan Dian pun sebenarnya tidak menginginkan itu terjadi, Mas. Sama halnya dengan Ratih saat itu,” jelas Rani. “Saat ini, Dian sangat bingung dan takut menghadapi orang tuanya. Rani, merasa bertanggung jawab dan perlu membantu dan mendukungnya.”


Raka diam sejenak, mencerna apa saja yang baru saja didengarnya. Dia mencoba memahami perasaan Rani, tetapi hatinya juga tak bisa diabaikan.


“Lalu bagaimana dengan hubungan kita, bila aku menikahi Dian, Ran?” tanya Raka dengan nada serius.


Rani menatap mata Raka dengan penuh keraguan. “Rani tidak tahu, Mas. Ini adalah keputusan yang sangat sulit buat Rani. Rani mencintai Mas, tetapi Rani juga merasa tidak bisa meninggalkan Dian sendirian dalam situasinya yang sedang sulit.”


Raka meraih kedua tangan Rani dengan penuh kasih sayang. “Mas mengerti perasaanmu, Ran. Kita berada dalam posisi yang rumit. Mas, juga mencintaimu dan ingin melihatmu bahagia. Tapi, Mas perlu tahu apa yang kamu inginkan, apa yang kamu rasakan.”


Raka mencium kening Rani dengan lembut. “Kita perlu berbicara lebih banyak lagi tentang masalah ini. Mas bersedia mendengarkan semua perasaanmu. Kita bisa mencari solusi bersama. Tapi yang pasti, apapun keputusanmu, Mas akan tetap mencintaimu dan menghormatinya.”


Akhirnya, setelah berdebat dengan batinnya semalam dan mendengarkan semua ucapan Raka.


“Terima kasih yah, Mas,” ucap Rani “Tapi, Rani minta maaf, Rani tetap pada niat awal Rani. Rani ingin Mas, mau menikahi Dian.”


Mendengar kalimat itu untuk kesekian kalinya dari orang yang sangat ia cintai. Raka yang perasaannya juga sedang berkecamuk akhirnya dengan sangat terpaksa ia mengeluarkan senyum manisnya, mengiyakan kembali permintaan dari Rani, kekasihnya. Walaupun itu membuatnya bersedih.


Raka yang tidak kuat menahan kesedihan dirinya dan kekasihnya itu pun, akhirnya memeluk erat Rani. Dan Rani juga menyambut pelukan itu dengan kesedihan yang mendalam.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Ratna yang baru bangun melirik ke arah jam yang terletak di sampingnya sudah menunjukkan jam 07.30 pagi. Lalu kemudian dia bangkit dari tempat tidurnya dan melihat ke arah Dian yang masih terlelap dalam tidurnya. Ratna sempat ingin membangunkan Dian, namun niat itu akhirnya ia urungkan, karena melihat kondisi Dian yang terpancarkan dari wajahnya yang masih terlihat amat sangat lelah, setelah beberapa hari terakhir mengalami kondisi yang cukup sangat sulit dalam hidupnya.


Ratna seperti biasanya langsung segera ingin membangunkan Raka. Namun, setelah Ratna memasuki kamar Raka, Ratna sedikit bingung melihat kamar yang kosong. Setelah Ratna mencari Raka di kamarnya dan tidak menemukannya, dia akhirnya memutuskan untuk melihatnya di balkon yang memang tempat favorit Raka.


Saat membuka pintu balkon yang agak sedikit terbuka, Ratna dengan terkejut melihat Raka dan Rani sedang berpelukan dengan kesedihan yang terlihat di wajah mereka.


Ratna merasa bingung dan berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Ia bertanya pada batinnya sendiri, “Mas Raka dan Mbak Rani, apa yang sudah terjadi? Mengapa mereka berdua terlihat bersedih? berbeda dengan semalam.”


Ratna merasa terenyuh melihat kedua orang itu yang sangat amat berharga dalam hidupnya. Dalam kondisi bersedih seperti itu. ia sempat ingin mendekati mereka berdua namun ia ragu dan akhirnya Ratna hanya mematung di tempatnya berada.


Lalu tiba-tiba, Ratna terkejut karena ada yang menarik tangannya dari arah belakang.


.


.


.


.


.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻

__ADS_1


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,😁🙏😁!


__ADS_2