
"Memangnya, apa maksudmu? aku sampai sejauh ini masih tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Ka!" ucap Ryan yang sangat bingung dengan tingkahnya Raka selama ini.
"Kenapa kamu, menolak Cintanya Ratna?" ucap Raka sambil menghela nafas.
Mendengar kalimat itu Ryan sungguh sangat terkejut dan terdiam yang tadinya dia mulai emosi juga kini sudah berubah setelah mendengar ucapan dari sahabatnya itu.
"Bukannya, kamu yang mencintai Ratna, Ka?" tanya Ryan dengan wajah yang bingung.
Setelah mendengar pertanyaan itu Raka yang emosi pun akhirnya menghela nafas panjangnya lalu mulai duduk.
"Aku, menganggap Ratna sudah seperti adikku sendiri! itulah mengapa, aku sangat sayang padanya!
Dulu, aku sangat menginginkan adik perempuan! dan saat itu ibu mengalami keguguran dan tak lama meninggal.
Itulah sebabnya, aku sangat sayang sekali pada Ratna! semenjak dia memutuskan, untuk tinggal bersamaku, sampai detik ini!
Sampai dimana kamu hadir, dan disaat itulah, aku mulai menyadari ada perubahan pada Ratna!
Karena saya yakin bahwa Ratna suka sama kamu, dan akupun akan bahagia bila itu sampai terjadi karena kamu adalah sahabatku, Ryan"
Raka akhirnya menjelaskan semuanya pada Ryan.
Yang pada akhirnya Ryan Pun mulai menyadari bahwa penilaian dia selama ini adalah salah.
"Jadi, kamu tidak mencintai Ratna, seperti yang aku pikirkan?" ucap Ryan yang mencoba menegaskan kembali agar dirinya tidak salah mendengar.
Raka hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum yang mengartikan bahwa Ryan tidak salah mendengar.
Ryan yang melihatnya pun akhirnya ikut tersenyum bahagia.
"Yah sudah, sekarang kamu jelaskan pada Ratna semuanya yah! sana pergi!" ucap Raka sambil tersenyum.
"Tapi, kamu tidak apa-apa ditinggal sendirian?" jawab Ryan.
"Kamu, masih saja mengkhawatirkan saya, sudah sana pergi!" ucap Raka sambil menarik tangannya Ryan agar mau pergi untuk menemui Ratna.
Lalu Ryan mengiyakan permintaan sahabatnya itu dengan wajah yang sangat senang lalu bergegas pergi.
Di Lain tempat Ratna yang menangis sejadi-jadinya di dalam Kamar sambil duduk di kasur yang ditemani oleh Dian.
"Sudahlah, Rat! yang sabar yah!" ucap Dian yang mencoba untuk menenangkan Ratna.
Tiba-tiba ponselnya Dian berbunyi dan saat Dian melihatnya ternyata itu panggilan dari Raka. Lalu Dianpun menerima panggilan itu.
"halo, Mas?" tanya Dian.
"Dian... kamu ke tempat saya yah sekarang!biarkan Ryan yang menemani Ratna!" perintah Raka.
__ADS_1
Setelah panggilan itu berakhir Dian langsung paham apa maksud dari Raka.
Dan Dianpun izin pamit sebentar kepada Ratna. Lalu bergegas perlahan pergi keluar kamar.
Saat ingin menuju tempat Raka.
Dijalan, Dian berpapasan dengan Ryan. Dua-duanya sudah saling paham dan hanya saling melemparkan senyum.
Lalu Ryan Pun akhirnya sampai di depan kamar Ratna.
Kemudian, mulai membuka pintu kamar dengan perlahan.
Dan akhirnya, Ryan melihat Ratna yang sedang menangis diatas tempat tidurnya sambil memeluk kakinya dengan wajah yang tertunduk ke bawah.
Lalu Ryan mulai menghampiri Ratna dan perlahan duduk disamping kasur didepan Ratna.
Ratna yang tidak menyadari bahwa itu adalah Ryan masih saja menangis karena dia pikir itu adalah Dian.
Perlahan Ryan memegang pundaknya Ratna sambil berkata...
"Sudah, jangan menangis lagi yah!" dengan suara yang perlahan.
Ratna yang mendengarkan suara Ryan Pun akhirnya berhenti menangis sambil perlahan mengangkat wajahnya, dan akhirnya Ratna Pun terkejut ternyata Ryan sudah berada di depannya.
"Jangan menangis lagi yah! mulai sekarang, aku akan terus berada disampingmu!" ucap Ryan sambil tersenyum manis kepada Ratna.
Akhirnya Ryan Pun menjelaskan semuanya apa yang telah terjadi tadi pada Ratna.
Dan setelah Ratna mengetahui semuanya mereka pun sama-sama senang dan akhirnya berpelukan dengan mesranya.
Karena pada akhirnya cinta mereka bisa bersatu juga.
"Lalu sekarang, dimana Mas Raka, Mas?". tanya Ratna pada Ryan.
"Masih disana, sama Dian!" jawab Ryan.
"Yah sudah, kita kesana lagi yuk, Mas!" ajakan Ratna yang sudah sangat senang karena semua bebannya kini telah terjawab semuanya.
Dan mereka berdua akhirnya menemui Raka dan Dian yang sedang asik mengobrol sambil melihat lautan.
"Mas..." ucap Ratna dari arah belakang kepada Raka.
Raka yang terkejut pun akhirnya menoleh ke arah Ratna yang berdiri berdampingan dengan Ryan tepat di belakangnya sambil menggenggam tangan Ryan.
"Itu baru Ratna, yang Mas kenal!". ucap Raka lalu menoleh kembali untuk melihat lautan sambil tersenyum.
Ratna Pun akhirnya memeluk Raka yang sedang duduk dari belakang.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Mas!" ucap Ratna sambil mengeluarkan air mata bahagianya.
"Hahaha... sudah… sudah... ayo, kita ngobrol-ngobrol lagi sampai pagi yah!" ucap Raka sambil memegang kepala Ratna.
Dan akhirnya mereka duduk bersama sambil melihat gelapnya lautan.
"Yan... maafkan saya yah, tadi saya emosi dan tidak terkontrol!" ucap Raka yang memulai obrolan
"Tidak apa-apa, sepertinya itu memang harus terjadi! bila tidak, maka tidak akan terjadi apa-apa sampai kapanpun juga!" jawab Ryan menyadari bahwa Raka ini memang seperti ini dan sampai kapanpun juga akan seperti ini.
"Iya... benar juga kata-kata kamu!" ucap Raka sambil tersenyum memikirkan sesuatu.
"Maksudnya, Ka?" jawab Ryan yang mulai bingung kembali dengan ucapan Raka yang penuh dengan tanda tanya.
"Iya… kamu kan tadi bilang… 'semua itu harus terjadi, maka semuanya akan terungkap' secara tidak langsung seperti itukan!" ucap Raka yang mencoba menjelaskan.
"Iya… saya paham masalah itu! yang saya tanyakan adalah, mengapa kamu membenarkan itu! seakan-akan, kamu pernah dalam situasi seperti ini tapi kamu tidak melakukannya!" Ryan berusaha agar Raka mau bicara secara terbuka.
Raka hanya tersenyum saja sambil menyalakan rokoknya.
"Mas... coba Mas, bicara langsung pada kita-kita, Mas! sebenarnya, ada masalah apa, Mas!
Karena, selama Ratna bersama dengan Mas... Ratna juga merasakan, kalau Mas ini, seperti mempunyai masalah!
Ceritakan saja Mas… pada kita-kita! kita juga sayang dan peduli sama, Mas!
Jangan selalu, Mas yang membantu kita! sekali-kali, kasih kita kesempatan, untuk membantu Mas!" ucap Ratna dengan sangat perhatiannya pada Raka.
Raka Pun tersenyum mendengar ucapan itu dari Ratna.
"Terima kasih banyak, yah Rat!" ucap Raka sambil menoleh ke arah Ratna yang berada disampingnya.
Akhirnya Rakapun bercerita saat awal bertemu dengan Rani dan akhirnya sampai meninggalkan Ryan pada saat itu.
Ryan yang mendengarkannya langsung terkejut dan langsung pindah tempat duduknya yang awalnya disamping Ratna kini berada di depan Raka.
"Jadi itu masalahnya, kamu pergi tanpa pamit, Ka! yah tuhan… kamu mengapa sih, selalu mengambil keputusan sendiri, Ka!" ucap Ryan yang sedikit agak kesal karena baru mengetahui masalahnya selama ini.
Dan Ryan Pun akhirnya menjelaskan semuanya pada saat itu...
Kalau dirinya sedang curhat sama Rani karena Raka mencintai anaknya Pak Rohim yang tidak lain adalah sepupu dari Rani yang bernama Ratih yang kini sudah tiada.
Dan Ryan Pun baru teringat kalau dirinya belum lama ini bertemu dengan Rani di suatu tempat dan mengantarkannya pulang.
Dia sebenarnya ingin bercerita pada Raka tetapi dia lupa.
Mendengarkan itu akhirnya Rakapun senang dan berencana untuk bertemu dengan Rani saat mereka telah kembali kerumah.
__ADS_1
Akhirnya malam itu mereka lalui dengan canda dan tawa. Karena beban atau masalah yang mereka alami masing-masing sedikit mulai terjawab.