Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 63


__ADS_3

Raka menyalakan rokoknya lalu menghela nafas dan menggeleng, "Mas tidak tahu, Ran. Semua perasaan campur aduk di dalam kepala dan hati, Mas. Mas senang bahwa Bobby berusaha untuk bertanggung jawab, tapi disisi lain, Mas masih merasa kesal dengan apa yang telah dia lakukan pada Dian."


Rani menggenggam tangan Raka dengan lembut, memberikan dukungan pada kekasihnya. "Rani mengerti perasaanmu, Mas. Semua ini memang rumit dan emosional. Tapi ingatlah bahwa Dian adalah sahabat kita, dan kita akan selalu mendukungnya."


Raka mengangguk, menghela nafas lega karena memiliki Rani yang selalu berada disisinya. "Terima kasih, Ran. Mas tahu bahwa kamu selalu ada untuk, Mas. Mas hanya ingin yang terbaik untuk Dian dan anaknya."


Rani tersenyum lembut, "Kita semua ingin yang terbaik untuk mereka. Mari kita berusaha untuk memahami situasi ini dengan hati yang tenang dan bijaksana."


β€œLalu, apakah kamu tidak apa-apa, rencana kita gagal untuk mengadopsi anaknya Dian?” tanya Raka.


Rani hanya tersenyum dan memeluk Raka erat. Raka pun merespons pelukan tersebut dengan memeluk Rani dengan penuh kasih sayang. Mereka saling berpegangan, mencari dukungan satu sama lain di tengah situasi yang rumit dan emosional.


"Rani, Mas tahu bahwa kita berdua ingin sekali mengadopsi anaknya Dian dan memberikan cinta dan perhatian yang dia butuhkan. Tapi Mas juga mengerti bahwa situasinya sekarang sangat kompleks," ucap Raka dengan suara lembut.


Rani mengangguk, "Ya, Rani juga tahu itu, Mas. Tapi kita harus ingat bahwa kita tidak bisa memaksakan kehendak kita. Kita harus mempertimbangkan kebahagiaan dan kepentingan anak tersebut, di atas segalanya."


Raka menarik nafas dalam-dalam, "Benar. Apapun keputusannya, kita harus siap menerima dan menghormatinya. Yang terpenting, kita tetap ada untuk Dian dan anaknya, sebagai sahabat yang selalu mendukung mereka."


Rani mengangguk setuju, "Betul, kita tidak bisa menutup mata atas perasaan kita, tapi kita juga harus kuat dan bijaksana menghadapinya. Kita akan terus memberikan dukungan pada Dian, baik Bobby tetap ada dalam kehidupan mereka atau tidak."


Raka mencium kening Rani dengan penuh kasih sayang, "Kamu selalu bijaksana dan mengerti, Ran. Mas bersyukur memilikimu di sampingku."


Rani tersenyum, "Dan Rani juga bersyukur memiliki Mas sebagai pasangan yang selalu mendukung dan memahami, Rani."


Sementara Rani masih terdiam dalam pelukan Raka, Raka tiba-tiba memberikan senyuman nakal dan menggoda, "Tapi, Ran, bagaimana kalau kita buat anak saja? Anak kita pasti akan lucu seperti kamu."


Rani memukul ringan lengan Raka sambil tersenyum malu, "Hush, jangan bercanda begitu, Mas. Kita masih harus fokus pada Dian dengan keadaannya yang sekarang."


Raka tertawa lepas, "Hehe, maaf, maaf. Mas hanya bercanda, Ran. Tentu saja, kita harus memberikan dukungan penuh pada Dian dan memberikannya waktu untuk mempertimbangkan apa yang terbaik untuk dirinya dan anaknya."


Rani menyentuh lembut pipi Raka, "Tapi kamu benar, Mas. Jika suatu hari nanti kita memiliki anak, Rani yakin dia akan lucu dan penuh kasih seperti kamu."

__ADS_1


Raka tersenyum bahagia, "Terima kasih, Ran. Mas sangat bersyukur memilikimu dan berbagi kehidupan ini bersamamu."


Mereka berdua menghabiskan beberapa waktu di luar, saling melempar senyuman dan pelukan penuh cinta. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke dalam rumah.


Setelah menghabiskan waktu di luar, Raka dan Rani kembali ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya masing-masing. Raka yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, sedikit terkejut melihat Bobby yang sedang duduk di kursi di sudut kamar, tampaknya belum tidur.


Bobby yang melihat Raka masuk, tersenyum malu-malu, "Maaf, Mas. Saya tahu ini mungkin agak aneh, tapi saya tidak bisa tidur."


Raka merasa agak kaget melihat Bobby yang belum tidur, tetapi dia mencoba tersenyum dengan ramah, "Tidak masalah, Bob. Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"


Bobby mengangguk dan duduk dengan ekspresi sedikit gugup, "Ya, sebenarnya ada hal yang ingin saya sampaikan, Mas. Saya ingin berbicara dengan Mas tentang Dian dan anak ini."


Raka duduk di dekat Bobby, menunjukkan ketertarikan pada pembicaraan ini, "Tentu, silahkan bicarakan apa yang ingin kamu sampaikan."


Bobby mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbicara, "Saya tahu bahwa hubungan saya dengan Dian sangat rumit dan saya paham jika dia masih merasa kesal dan tidak nyaman dengan kehadiran saya. Tapi, saya benar-benar ingin menjadi bagian dari kehidupan anak ini, Mas."


Raka mendengarkan dengan serius, memberikan perhatian penuh pada kata-kata Bobby, "Saya mengerti, Bobby. Tapi kamu juga harus paham bahwa Dian telah mengalami banyak perubahan dalam hidupnya sejak kamu pergi. Dia telah menemukan dukungan dan kebahagiaan dalam lingkaran teman-temannya dan keluarganya."


Raka menatap Bobby dengan serius, "Bobby, menjadi seorang ayah adalah tanggung jawab besar. Itu bukan hanya tentang memberikan dukungan finansial, tetapi juga hadir dalam kehidupan anak dan memastikan bahwa mereka tumbuh dengan penuh kasih sayang dan perhatian."


Bobby mengangguk, "Saya sadar akan itu, Mas. Saya ingin belajar dan tumbuh sebagai seorang ayah yang baik. Saya tahu bahwa tidak akan mudah, tetapi saya bersedia melakukannya."


Raka menyimak dengan seksama, kemudian berkata, "Baiklah, Bob. Jika kamu benar-benar serius tentang ini, kamu perlu membuktikannya dengan tindakan nyata. Dukunganmu harus konsisten dan kamu harus benar-benar hadir dalam kehidupan anak ini."


Bobby mengangguk tegas, "Saya berjanji, Mas. Saya akan melakukan yang terbaik untuk Dian dan anak ini. Saya tidak ingin membuat mereka merasa seperti saya pergi lagi."


Raka menunjukkan senyuman lembut, "Itu adalah langkah yang baik, Bobby. Tapi ingat, ini adalah perjalanan yang memerlukan komitmen dan kesabaran. Kebahagiaan dan kesejahteraan anak harus menjadi prioritas utama."


Bobby mengangguk serius, "Saya mengerti. Terima kasih, Mas Raka, atas nasehat dan dukungannya."


Raka merasa lega melihat tekad Bobby untuk berubah dan bertanggung jawab, "Tidak perlu berterima kasih, Bobby. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai sahabat untuk saling mendukung dan membantu."

__ADS_1


Setelah percakapan yang serius, mereka berdua merasa sedikit lebih lega. Raka merasa bahwa Bobby benar-benar memiliki niat baik untuk memperbaiki keadaan, dan dia berharap Bobby bisa membuktikannya melalui tindakan nyata.


"Mari kita tidur sekarang, Bob. Besok pagi, kita bisa melanjutkan pembicaraan ini bersama-sama dengan Dian dan keluarganya," ucap Raka, memberikan saran kepada Bobby.


Bobby mengangguk, "Baik Mas, saya akan melakukannya. Terima kasih, Mas Raka."


Sebelum mereka berdua beranjak tidur, Raka bertanya dengan ramah pada Bobby, "Maaf, Bob, Kamu ingin tidur di mana? Di atas sama Ryan atau di bawah?"


Bobby sedikit tersenyum, menghargai pertanyaan Raka, "Terima kasih, Mas. Sebenarnya, saya merasa lebih nyaman tidur di kasur tambahan yang disiapkan oleh keluarga Dian. Saya tidak ingin merepotkan Mas dengan tidur di bawah."


Raka tersenyum ramah, "Yah sudah kalau begitu, selamat malam yah, Bob. Semoga kamu mendapatkan ketenangan dan pikiran yang jernih."


Mereka berdua kemudian berpisah untuk pergi tidur. Sebelum mata Raka terpejam, Raka merasa lega bahwa Bobby ingin berubah dan memperbaiki kesalahan yang pernah dia lakukan. Dia berharap bahwa langkah Bobby ini akan membawa kebaikan bagi Dian dan anak yang akan lahir nanti.


Sementara itu, Bobby yang sedang rebahan sambil merenung tentang semua yang telah terjadi dan semua yang masih harus dia lakukan. Dia merasa tegang namun juga bersemangat dengan kesempatan kedua yang diberikan padanya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa kali ini dia tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahannya lagi.


.


.


.


.


.


🌻🏡️🌸🌺🌷πŸ₯€πŸŒΉπŸŒΌπŸŒΉπŸ₯€πŸŒ·πŸŒΊπŸŒΈπŸ΅οΈπŸŒ»


** Hai readers, ini karya pertama ku. BenarΒ² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa πŸ‘ like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,πŸ˜πŸ™πŸ˜!

__ADS_1


__ADS_2