Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 45


__ADS_3

Saat mereka baru saja keluar dari lift, mereka seperti melihat Dian sedang berlari menuju pintu keluar melewati lobby itu.


"Itu kaya Dian yah!" Ucap Ryan.


Dan dua sahabatnya itu mengiyakan karena mereka semua sama-sama melihatnya.


Namun mereka tidak mengejarnya karena masih merasa belum yakin, karena mereka hanya melihat dari arah belakang tubuh Dian saja yang sedang berlari itu.


Lalu saat mereka tiba di pintu lobby, Raka langsung bertanya pada salah satu security….


"Pak, wanita yang tadi lari itu siapa?" Tanya Raka.


"Kalau tidak salah itu Mbak Dian deh, Pak! Yang biasanya barengan sama Bapak!" Jawab security itu.


Lalu Ratna yang mendengarnya pun tanpa diperintah lagi langsung mengambil handphonenya dan mencoba untuk menghubungi Dian, namun panggilan Ratna tidak dijawab oleh Dian.


Karena tidak ada jawaban, Raka pun mencoba untuk menghubunginya karena siapa tahu bila ia yang menelponnya maka akan diangkat namun ternyata hasilnya tetap sama.


Kemudian mereka pun berpikir positif saja karena belum lama ini Dian sedang di mabuk cinta maka mereka berpikir pasti sedang bertengkar biasa saja.


Lalu mereka pun melanjutkan kembali tujuannya untuk makan siang bersama itu.


Setelah mereka tiba di tempat yang dituju mereka langsung memesan sesuai keinginannya masing-masing dan sambil menunggu pesanannya mereka seperti biasanya saling mengobrol satu sama lainnya.


"Ada apa dengan Dian yah!" Gumam Ratna yang masih saja memikirkan kejadian sesaat tadi.


"Sudahlah biarkan saja dulu, dia 'kan sudah janji sama kita. Lihat nanti saja!" Ucap Ryan yang mencoba menenangkan Ratna.


Sedangkan Raka hanya diam saja sambil menghisap rokoknya.


"Oh, iya, Ka! Kira-kira kita berapa hari di kampung?" Tanya Ryan pada Raka untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Belum tahu juga, Yan! Besok pagi tau lusanya saya menikah, belum tahu! Yang jelas 'kan hanya awal bulan saja!" Jawab Raka sambil tampak memikirkan sesuatu.


"Oh, iya yah! Semuanya Rani yang atur yah… lupa saya!" Ucap Ryan.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang.


Ryan yang tak kuat melihat bakso besar itu langsung meraih saus dan juga sambal yang sudah di siapkan di meja tersebut.


Lain halnya dengan Ratna yang tadi ia sangat menginginkan makan bakso malah menjadi tidak berselera karena masih memikirkan Dian.


Begitu juga dengan Raka yang hanya mengaduk-ngaduk bakso dan kuahnya tersebut seperti tidak bernafsu sama halnya dengan Ratna.


Ryan yang duduk di sebelah Ratna dan berhadapan dengan Raka itu akhirnya memperhatikan kearah kedua sahabatnya secara bergiliran.

__ADS_1


"Hey, hey… kalian pada kenapa sih! Udahlah kita makan saja dulu! Baru kita bahas masalahnya." Bujuk Ryan.


Lalu Ryan pun langsung menyantap bakso itu yang kuahnya terlihat merah membara dan penuh dengan biji cabai.


Raka dan Ratna Pun mulai menyantap hidangannya juga namun hanya sekedar saja tidak berhasrat seperti yang dilakukan oleh Ryan.


Dalam hitungan menit satu porsi bakso itu habis oleh Ryan yang tidak tersisa. Sedangkan Ratna hanya tinggal beberapa bakso kecilnya saja.


"Aku harus bicara apa sama Rani yah!" Ucap Raka yang tiba-tiba menghentikan makannya itu yang baru beberapa suap saja.


Ryan yang sudah selesai dengan makannya itu langsung meminum segelas teh manis dingin pesanannya itu.


"Ka!" Ucap Ryan sambil mengambil tisu.


"Kamu fokus saja dulu dengan urusan kamu, jangan pikirin yang lainnya dulu!" Lanjut Ryan sambil membersihkan mulutnya.


Lalu Raka pun langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Kita berangkat sekarang!" Ucap Raka yang tidak menghabiskan makanannya.


Tapi tiba-tiba ia duduk kembali karena melihat Ratna yang terkejut dengan makanannya yang masih cukup banyak itu.


"Maaf, Rat! Mas tidak sadar!" Ucap Raka pada Ratna.


Ratna yang merasa menjadi ganjalan buat Raka pun langsung berucap.


"Tidak apa-apa, Mas! Ayo kita berangkat sekarang saja!"


"Habiskan dulu makannya! Kamu 'kan tahu perjalanan ke kampung Mas itu jauh." Saran Raka.


"Tidak, Mas! Ratna juga sudah kenyang kok!" Ucap Ratna yang memang sudah kehilangan nafsu makannya itu.


Mendengar itu Raka langsung mengiyakan saja dan berlalu pergi dari tempat makan itu yang kemudian disusul oleh Ratna.


Ryan yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Susah… susah… " gumam Ryan yang juga bergegas menyusul kedua sahabatnya itu.


Di lain tempat,


Di dalam sebuah mobil yang sedang terparkir didekat sebuah taman kota.


Dian yang sedang bersama Bobby sedang membicarakan sesuatu yang teramat serius.


"Mas, kita harus bagaimana?" Tanya Dian dengan nada yang emosi.

__ADS_1


Bobby yang diam membisu seribu bahasa itu akhirnya di tampar oleh Dian.


"Plakk"


"Jawab, Mas! Jangan hanya diam!" Ucap Dian yang mulai menangis.


Bobby yang sudah ditampar oleh Dian dengan begitu kerasnya itu namun masih saja tetap diam dan tak bersuara sepatah katapun.


Lalu, Dian yang melihat itu menjadi kesal dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam mobil tersebut lalu berjalan ke arah taman dan duduk di bangku sambil menangis sejadi-jadinya.


Beberapa saat kemudian Bobby menyusul Dian dan berdiri dihadapan Dian yang sedang duduk sambil menangis itu.


"Dian, maafin Mas yah!" Ucap Bobby begitu saja lalu pergi dengan segera meninggalkan Dian sendiri disana.


"Mas… Mas… Mas…" teriak Dian dengan pilunya dan perasaan yang hancur tersebut sambil mulai bersimpuh berlinangan air mata.


Kembali pada Raka,


Setelah makan siang itu mereka bertiga pulang dari kantor untuk menjemput Rani.


Karena besok adalah hari pernikahan Raka dan Rani maka mereka memutuskan untuk pulang hari ini karena itu juga permintaan dari Rani agar tidak terlalu buru-buru untuk datang ke kampung biar nanti tidak Ramai di sana.


Mau gak mau mereka pun mengikuti permintaan Rani yang memang Raka juga sudah setuju atas permintaan dari Rani itu.


Lalu mereka pun menjemput Rani dengan dua mobil dan Rani satu mobil dengan Raka menuju rumahnya Raka dahulu untuk mengambil barang-barang dan pakaian ganti Raka, Ryan dan juga Ratna.


Dalam perjalanan menuju rumah Raka, Rani yang merasa tidak melihat Dian di mobil Raka maupun di dalam mobilnya Ryan dan Ratna. Akhirnya Rani pun menanyakan kepada Raka.


"Mas, Dian mana, Mas?"


Raka yang dari saat tadi mencoba mengalihkan perhatian Rani namun akhirnya Rani menanyakan juga tentang Dian. Raka pun memilih untuk diam.


Dirasa pertanyaannya tidak dijawab oleh kekasihnya itu, Rani mencoba memanggilnya kembali, "Mas… Mas!" Sambil menggerak-gerakkan tangannya agar perhatian Raka teralihkan.


Dirasa tak akan ada gunanya juga bila harus terus berdiam diri, Raka pun akhirnya menceritakannya apa yang telah terjadi saat akan makan siang tadi.


Lalu karena Rani merasa khawatir akhirnya Rani pun menghubungi Dian dengan handphone miliknya.


Tak lama kemudian panggilan Rani pun diangkat setelah mengulanginya berkali-kali panggilan tersebut.


Setelah panggilan tersebut diterima oleh Dian dan terdengarlah suara Dian yang tampaknya sedang menangis itu.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.

__ADS_1


Terima kasih,😁🙏😁!


__ADS_2