
Keesokan harinya, suasana di rumah Raka masih dipenuhi oleh semangat dan keceriaan, meskipun momen-momen indah dengan teman-teman baru saja berakhir. Seperti pada hari-hari biasanya, pagi itu Ratna adalah yang pertama bangun. Ia memiliki tugas khusus sebagai "alarm manusia" untuk membangunkan Raka agar tidak terlambat.
Dengan langkah-halunya yang penuh semangat, Ratna mendekati kamar Raka dan membuka pintunya secara perlahan. "Mas Raka, sudah waktunya bangun. Harus bersiap-siap untuk memulai hari."
Tak lama kemudian, mata Raka terbuka. "Terima kasih, Ratna. Kamu selalu berhasil membangunkanku tepat waktu."
Ratna tersenyum, "Tidak masalah. Itu sudah tugasku kan, Mas? Sekarang cepatlah, ayo berkumpul di meja makan. Ratna sudah siapkan sarapan."
Raka mengangguk dan tersenyum mengapresiasi. Ia segera mempersiapkan diri dan kemudian bergabung dengan teman-temannya di meja makan. Ryan dan Ratna juga sudah duduk di sana, dengan aroma kopi dan makanan yang menggoda.
Mereka duduk bersama, saling berbagi cerita tentang apa yang sudah dan akan mereka lakukan hari ini. Meskipun rutinitas kembali berjalan, semangat dan keceriaan mereka tetap menghiasi setiap percakapan. Raka, dengan secangkir kopi di tangannya, merasa bersyukur memiliki teman-teman yang selalu hadir dalam setiap fase kehidupannya.
Keseharian mereka berlangsung seperti biasanya. Setelah sarapan, mereka berangkat ke kantor, menghadapi rutinitas pekerjaan dan tugas-tugas yang menunggu.
Saat tiba waktu istirahat, Ratna dengan antusias membangunkan Raka dari meja kerjanya, seperti yang telah menjadi kebiasaan mereka. "Mas Raka, sudah waktunya istirahat. Jangan terlalu serius dengan pekerjaan."
Raka tersenyum dan mengangguk, menghargai peran penting Ratna dalam memastikan dia tidak terlalu tenggelam dalam pekerjaan. Mereka bergabung dengan Ryan dan mereka bertiga pergi ke restoran biasanya untuk makan siang bersama. Obrolan ringan dan candaan mengisi suasana, memberikan energi positif sebelum kembali melanjutkan aktivitas.
Setelah jam istirahat, Raka merasa seperti ada yang perlu dia lakukan. Dia meraih ponselnya dan memilih nomor Rani. Dengan perasaan antusias, dia menunggu sampai panggilan diangkat.
Beberapa detik kemudian, suara ceria Rani terdengar di seberang telepon. "Halo, Mas! Ada apa?"
Raka tersenyum mendengar suara Rani. "Halo, Ran. Mas punya ide. Bagaimana kalau kita makan malam bersama hari ini?"
Rani terdengar senang. "Tentu, Rani suka ide itu! Di mana kita akan bertemu?"
Raka berpikir sejenak. "Nanti, sehabis pulang kerja, Mas jemput kamu di toko yah?"
Rani setuju, "Oke, Rani tunggu yah, Mas. Sampai nanti, ya."
Percakapan mereka berakhir dengan saling mengucapkan selamat tinggal. Raka merasa bersemangat untuk pertemuan makan malam bersama Rani. Setelah selesai dengan pekerjaan yang mendesak, Raka bersiap-siap untuk meninggalkan kantor dan menuju toko dimana Rani bekerja.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Raka tiba di depan toko tempat Rani bekerja dengan hati yang penuh antusiasme. Dia melihat Rani keluar dari toko dengan senyuman termanis yang selalu membuat hatinya meleleh. Raka membuka pintu mobil untuk Rani, dan dia naik dengan riang.
"Halo, Mas Raka. Senang sekali melihatmu," ujar Rani sambil tersenyum.
Raka merasakan kehangatan dalam senyuman Rani. "Halo, Ran. Kamu selalu membuat hari-hariku lebih cerah."
Rani tersenyum malu-malu. "Terima kasih, Mas. Ayo kita pergi."
Mobil bergerak dengan perasaan semangat dan harapan. Meskipun Rani belum tahu tujuan pasti dari makan malam ini, dia merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama Raka.
Sambil mengemudikan mobil, Raka tidak bisa menahan keingintahuannya. "Ran, makan malam apa yang ingin kamu nikmati hari ini?"
Rani hanya tersenyum sambil melirik Raka. Dia tahu bahwa Raka suka memberikan kejutan dan ide-ide spontan. Meskipun dia tidak tahu tujuannya kali ini, dia merasa senang mengikuti alur yang ditetapkan oleh Raka.
"Sesuai dengan keinginan Mas Raka saja, Rani pasti akan senang," jawab Rani dengan penuh keceriaan.
Raka mengangguk paham sambil tersenyum. Dia tahu Rani selalu mendukungnya dalam setiap ide aneh yang dia punya. Perjalanan mereka terus berlanjut, dan suasana penuh dengan canda tawa dan percakapan yang mengalir begitu alami.
Setelah beberapa saat berkendara, Raka berhenti di depan restoran mewah yang cantik. Dia melirik Rani dengan senyuman misterius. "Kita akan makan malam disini, Ran."
Mereka berdua masuk ke dalam restoran, duduk di meja yang telah disediakan. Saat mereka menikmati hidangan lezat, Raka menyampaikan betapa berartinya Rani dalam hidupnya. Dia mengungkapkan perasaannya dengan tulus dan penuh kasih.
"Ran, kamu adalah cahaya dalam hidupku. Setiap momen yang kita habiskan bersama adalah momen yang berarti bagi Mas. Kamu membuat dunia Mas lebih cerah dan penuh makna," ujar Raka dengan tulus.
Rani tersenyum, terharu mendengar kata-kata Raka. "Terima kasih, Mas. Mas juga memberikan banyak kebahagiaan dan arti dalam hidup, Rani."
Mereka berdua merasa seperti sedang melayari awan kebahagiaan bersama. Momen ini adalah bukti nyata dari betapa besar perasaan mereka satu sama lain. Makan malam mereka berlanjut dengan tawa, cerita, dan pandangan mata penuh arti.
Setelah makan malam yang hangat dan penuh makna, Raka merasa semakin dekat dengan Rani. Setelah makan malam selesai, mereka keluar dari restoran dengan perasaan bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rani tetap tersenyum dan bersinar, membuat Raka semakin yakin bahwa dia adalah orang yang tepat baginya.
Saat perjalanan pulang, Raka memandangi Rani dengan penuh perhatian. Dia merasa begitu nyaman di hadapan Rani, dan tak bisa menahan perasaannya untuk mengutarakan sesuatu yang sudah lama ada di benaknya. "Ran, kamu tahu, sebenarnya Mas punya pertanyaan yang ingin Mas ajukan."
Rani memalingkan wajahnya ke arah Raka, dengan keingintahuan di matanya. "Tentu, Mas. Ada apa?"
Raka merasa detak jantungnya meningkat saat dia mulai berbicara. "Beberapa hari yang lalu, rencana pernikahan kita tertunda karena masalah dengan Dian. Mas ingin kamu tahu bahwa Mas sangat menghargai dukunganmu dan kesabaranmu selama waktu itu. Mas bersyukur memiliki kamu sebagai pendamping hidup, Mas."
Rani tersenyum dan menyentuh tangan Raka dengan lembut. "Rani juga merasa sama, Mas. Mas adalah sosok yang begitu berarti dalam hidup Rani, dan Rani sangat bersyukur memiliki Mas."
__ADS_1
Namun, tiba-tiba suasana terasa serius dan agak khawatir. Raka melihat Rani dengan pandangan cemas. "Ran, Mas ingin tahu bagaimana perasaanmu tentang rencana pernikahan kita. Apakah kamu masih ingin melanjutkannya?"
Rani memandang Raka dengan tatapan hangat. "Mas, Rani sangat ingin menjadi pendamping hidup Mas. Namun, Rani ingin semuanya berjalan dengan baik. Kita harus melewati setiap hambatan dengan hati-hati, termasuk masalah dengan Dian."
Raka mengangguk, mengerti dan menghargai kata-kata Rani. "Mas setuju, Ran. Mas pun ingin memastikan semuanya berjalan lancar. Mas akan selalu mendukungmu dan hadir untukmu dalam setiap situasi."
Saat mereka hampir sampai di depan kosan Rani, Raka menghentikan mobil dengan lembut. Rani tersenyum pada Raka, merasa begitu beruntung memiliki seseorang yang begitu pengertian dan penyayang di sisinya.
"Terima kasih, Mas. Rani benar-benar merasa bahagia hari ini," ujar Rani dengan tulus.
Raka merasakan kebahagiaan dalam dirinya sendiri. "Sama-sama, Ran. Mas juga merasa begitu."
Rani akan turun dari mobil, tetapi Raka memegang tangannya untuk membuatnya berhenti sejenak. "Ran, Mas punya satu permintaan lagi."
Rani memandang Raka dengan rasa ingin tahu. "Apa itu, Mas?"
Raka mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Mas ingin kamu berhenti bekerja, Ran. Mas tahu pekerjaanmu berat dan membuatmu lelah. Mas ingin kamu fokus pada kita dan masa depan kita bersama."
Rani tersenyum sambil menggeleng lembut. "Mas, Rani mengerti niat baik Mas. Tapi pekerjaan Rani juga penting bagi Rani, dan Rani ingin tetap mandiri. Rani akan mencoba mengatur waktu dengan lebih baik."
Raka menghormati keputusan Rani dengan senyuman lembut. Dia tahu bahwa Rani adalah sosok yang kuat dan mandiri. "Tentu, Ran. Mas menghargai pendirianmu. Kita akan melewati semuanya bersama-sama."
Mereka berdua saling tersenyum, merasa semakin dekat dan kuat dalam hubungan mereka. Raka merasa beruntung memiliki Rani sebagai pasangannya, dan Rani juga merasa begitu bahagia memiliki Raka di sisinya. Dalam senyuman dan harapan, mereka berpisah untuk malam itu, dengan keyakinan bahwa masa depan mereka akan penuh dengan kebahagiaan dan cinta.
.
.
.
.
.
π»π΅οΈπΈπΊπ·π₯πΉπΌπΉπ₯π·πΊπΈπ΅οΈπ»
** Hai readers, ini karya pertama ku. BenarΒ² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa π like kalian juga ku nanti.
Terima kasih,πππ!
__ADS_1