Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 59


__ADS_3

Suasana pagi yang cerah di rumah Dian membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Setelah sarapan selesai, semua anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga untuk membahas permasalahan yang sedang mereka hadapi bersama. Ayah Dian mengajak semua orang untuk berbicara di ruang keluarga agar suasana lebih nyaman dan akrab.


“Sekarang kita semua sudah tahu masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh kalian. Dian sudah bercerita semuanya ke saya,” ucap ayah Dian.


“Sebelum kita melanjutkan untuk membahas masalah-masalah tersebut, Bapak dan Ibu ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Raka dan Rani. Kami sangat kagum dan bahagia karena putri kami memiliki teman seperhatian kalian yang siap dan rela mengorbankan kebahagiaan kalian demi membantu Dian.” lanjut ayah Dian.


Ayah Dian juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada kedua teman lain Dian, yaitu Ryan dan Ratna, yang selalu menjaga dan menemani Dian dalam saat-saat sulit.


Raka, Rani, Ryan, dan Ratna dengan hangat menyambut ucapan dari Ayah Dian dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tenang. Akhirnya, mereka merasa lega karena perasaan dan dedikasi mereka dihargai dan diterima oleh keluarga Dian.


"Terima kasih atas dukungan kalian semua," ucap Ayah Dian dengan tulus. "Sekarang, mari kita berbicara tentang keputusan kami sebagai orang tua Dian."


Ibu Dian mengambil alih, "Kami menyadari bahwa dalam hidup, tidak ada yang sempurna, termasuk sebagai orang tua. Kami mungkin pernah membuat kesalahan atau keputusan yang tidak selalu benar. Namun, kami berkomitmen untuk selalu belajar dan berusaha menjadi lebih baik. Kami ingin menciptakan lingkungan yang mendukung Dian dalam menghadapi tantangan dan mengejar impian."


Ayah Dian menambahkan, "Kami menyadari bahwa Dian perlu belajar dari pengalaman hidupnya sendiri, termasuk dari kesalahan-kesalahan yang dia buat. Sebagai orang tua, kami siap mendukung Dian dalam menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan yang dia ambil."


"Kami ingin Dian tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab," ujar Ibu Dian dengan penuh kasih. "Kami tidak akan menanggung semua kesalahan Dian, karena itu adalah bagian dari proses belajar dan tumbuh. Namun, kami akan selalu ada disampingnya untuk memberikan dukungan dan bimbingan."


Dian yang mendengarkan dengan penuh perhatian tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Ayah, Ibu, dan teman-teman semua. Aku sangat beruntung memiliki kalian dalam hidupku. Aku berjanji akan belajar dari kesalahan-kesalahanku dan berusaha untuk menjadi lebih baik setiap hari."


Raka, Ryan, dan Ratna mengangguk setuju, menunjukkan dukungan penuh mereka terhadap Dian. Tapi tidak untuk Rani yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu.


"Nak Rani, apakah ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Ayah Dian dengan penuh perhatian.


Rani mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Sejujurnya, Pak, Rani punya rasa bersalah. Rani sangat ingin membantu Dian, tetapi Rani juga ingin melanjutkan impian bersama Mas Raka untuk menikah. Rani merasa terjebak antara kewajiban sebagai sahabat dan impian pribadi."


Ayah Dian tersenyum lembut, "Nak Rani, kalian berdua adalah sosok yang luar biasa. Tidak perlu merasa bersalah karena memiliki impian pribadi. Kamu dan Nak Raka memiliki hak untuk bahagia dan mengejar impian kalian. Kami sebagai orang tua Dian sudah siap untuk mendukung anak kami, termasuk dalam menghadapi masalah ini."

__ADS_1


Ibu Dian menambahkan, "Benar, Nak Rani. Kami ingin kalian berdua tetap melangkah maju dan mengejar impian kalian tanpa beban. Jangan khawatir tentang Dian, karena kami akan terus bersama dan membantunya melewati rintangan ini."


Raka menyambung, "Terima kasih, Bapak, Ibu. Kami sangat menghargai dukungan kalian. Kami berjanji akan selalu ada untuk Dian dan tetap merawat persahabatan kami dengan baik. Saat ini, kami akan fokus untuk membangun masa depan bersama dan tetap mendukung Dian sebisa mungkin."


Dian yang mendengarkan dengan haru, mengangguk dan berkata, "Dian sangat bersyukur memiliki teman dan keluarga yang seperti kalian. Jangan khawatir tentangku, Dian akan baik-baik saja. Mas Raka dan Mbak Rani harus menjalani impian kalian tanpa rasa bersalah. Dian akan selalu mendukung Mas Raka dan Mbak Rani sepenuh hati."


Rani yang nampaknya belum menerima atau bingung dengan keputusannya sendiri dan masih bersikeras agar rencananya tetap dilanjutkan yaitu Raka mau untuk menikahi Dian.


Suasana di ruang keluarga menjadi hening sejenak setelah Rani menyampaikan kebingungannya dan keinginannya untuk tetap melanjutkan rencana pernikahan Dian dengan Raka. Semua orang terlihat terkejut dengan pernyataan tersebut.


Ayah Dian memandang Rani dengan lembut, mencoba memahami apa yang ada dalam hatinya. "Nak Rani, apa yang kamu maksud?" tanyanya dengan penuh perhatian.


Rani menatap Raka dengan tatapan penuh cinta dan kemudian memandang Dian dengan penuh kekhawatiran. "Mas Raka dan Dian adalah dua hal yang paling berarti dalam hidupku. Aku mencintai kalian berdua dengan tulus. Aku ingin membantu Dian, tapi aku juga tak bisa membayangkan hidupku tanpa Mas Raka. Aku tahu ini bisa terdengar egois, tapi aku tidak ingin merasa menyesal nanti."


Raka terlihat bingung, ia mencoba memahami perasaan Rani. "Rani, Mas mencintaimu, Dian sekarang sudah tenang. Lalu, ada apa dengan kamu sekarang?"


Ibu Dian menambahkan, "Dian benar. Keputusan ini haruslah tentang kebahagiaan dan keselarasan hati. Tak ada yang ingin melihat kalian berdua tidak bahagia karena harus mengorbankan sesuatu untuk anak kami lagi."


Rani menangis dan memeluk Dian, "Mbak minta maaf, Dian. Mbak tak ingin menyakiti hati Dian, tapi Mbak juga tak bisa membayangkan hidup Mbak tanpa Mas Raka."


Ayah Dian mencoba untuk mencairkan suasana dengan senyuman hangat. "Baiklah, biarkan Nak Raka dan Nak Rani berbicara dari hati ke hati sebentar. Sementara itu, kita dan yang lain akan pergi ke kebun belakang untuk memetik buah belimbing. Sepertinya saatnya kita menikmati kebahagiaan dari alam ini," ujarnya.


Semua orang setuju, mereka beranjak ke kebun belakang dengan ceria, meninggalkan Raka dan Rani sendirian di ruang keluarga. Ketika pintu ditutup, suasana menjadi lebih intim.


Rani menatap Raka dengan air mata di matanya. "Mas Raka, Rani bingung. Rani mencintai Mas, tapi Rani juga tidak mau meninggalkan Dian dengan kondisinya yang seperti itu. Rani tidak ingin kedepannya Dian menghadapi semuanya sendirian, tapi hati Rani juga berteriak untuk bersama denganmu Mas."


Raka menyentuh lembut pipi Rani dan menyeka air matanya. "Rani, Mas tahu perasaanmu. Mas juga merasakannya. Mas mencintaimu, tapi Mas juga tak akan meninggalkan Dian sendirian. Dian adalah sahabat kita, dan Mas tak mau keputusanmu merusak hubungan kita."

__ADS_1


Rani menggenggam tangan Raka dengan erat. "Tapi bagaimana cara kita menyelesaikannya, Mas? Rani tak ingin ada yang terluka."


Raka menghela nafas. "Kita Harus mencari solusi yang lain, Ran. Tanpa harus Mas menikahi Dian."


"Sekarang, Mas mengerti kenapa kamu ingin Mas menikahi Dian, kamu memikirkan bayinyakan? kamu tidak ingin anak itu tidak memiliki Ayah kedepannya kan?," lanjut Raka.


Rani hanya menganggukan kepalanya.


“yah sudah kalau begitu, sekarang menurut kamu, apa yang terbaik coba kita pikirkan bersama.” ucap Raka “Kalau menurut Mas sih, kita saja yang menikah, lalu saat anaknya Dian lahir kita adopsi saja menjadi anak kita bila kamu setuju.” lanjut Raka.


Rani terlihat bingung dengan ide yang diusulkan oleh Raka. Wajahnya berubah menjadi serius karena ia sedang mempertimbangkan berbagai hal. Dia menyadari bahwa ide tersebut adalah cara yang baik untuk tetap bersama dengan Raka dan menjaga hubungannya dengan Dian, tetapi ia juga merasa ada banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan lebih lanjut.


.


.


.


.


.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,😁🙏😁!

__ADS_1


__ADS_2