
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Dian membuka suaranya untuk menjawab pertanyaan dari Raka.
"Dian bingung…"
Yah, setelah para sahabatnya itu menanti sebuah jawaban dari Dian. Namun hanya kalimat itulah yang terucap dari mulutnya.
Rani hanya tersenyum begitu juga halnya dengan Raka yang sedikit mengeluarkan tawanya, karena jawaban dari Dian.
Mendengar ada tawa dari Raka walaupun itu hanya sedikit, Dian kini memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya melihat sepasang kekasih itu yang duduk berdampingan di hadapannya kini.
Dian melihat wajah dari sepasang kekasih itu terlihat tanpa beban seakan ini perkara mudah buat mereka, membuat Dian tambah bimbang dalam hatinya.
"Ada apa dengan mereka berdua yah? Apa mereka tidak punya perasaan?" Tanya Dian dalam batinnya.
"Kenapa melihatnya seperti itu, Dian! Apa ada yang salah dengan solusi dari Mbak?" Tanya Rani pada Dian.
"Eh… nggak, Mbak! Hanya saja, Dian tidak salah dengar 'kan? Apa mungkin, Mbak dan Mas hanya mencoba untuk menghibur Dian saja?" Dian yang bingung dengan sikap kedua pasangan itu.
"Kita serius, Dian! Seperti yang Mas bilang sebelumnya, Mas sekarang setuju dengan solusi dari Rani. Sekarang kita hanya menunggu keputusan dari kamu saja. Mau setuju atau tidak nya?" Jelas Raka.
"Memangnya apa yang membuat kamu bingung?" Rani yang bertanya kembali pada Dian.
"Ehm… apa yah? Dian beneran bingung, Mbak! Dian juga gak tau harus bilang apa!" Ucap Dian.
"Hahahaha…" Ryan yang kembali tertawa dalam mendengarkan obrolan sahabatnya itu.
Ryan memang orang yang sangat mengenal Raka dan ini adalah salah satu ciri khas Raka yang ia rindukan sekaligus ia benci.
Karena sikap Raka inilah yang dari dulu saat mereka berteman selalu menyusahkan dirinya.
Tujuannya memang baik yaitu membantu. Tapi membantunya itu membuat orang yang harusnya berterima kasih padanya malah bingung apa yang harus diucapkan selain dari kalimat terima kasih itu sendiri.
Dan itu juga pernah dirasakan oleh Ratna waktu pertama kalinya datang dalam kehidupannya Raka.
Setelah Ryan tertawa lepas itu, ia pun mengucapkan maaf pada keempat sahabatnya itu, karena ia kelepasan untuk tidak menahan tawanya.
Lalu Ryan pun berdiri sambil memberi saran pada keempat sahabatnya itu.
"Bagaimana kalau keputusannya besok saja, bila Dian setuju maka kita semuanya langsung kerumah orang tuanya Dian untuk melamarnya." Ucap Ryan.
"Karena kita tidak mungkin terlalu lama untuk menunggu, karena bagaimanapun janin itu akan tumbuh besar didalam perut Dian." Lanjut Ryan.
Keempat sahabatnya Ryan, mendengarkan dengan seksama saran yang diberikan oleh Ryan itu.
Lalu setelah beberapa saat mereka saling berpikir, mereka memutuskan untuk mengikuti saran yang diberikan oleh Ryan itu.
Dan Raka pun pamit terlebih dahulu pada keempat sahabatnya itu agar tidur lebih awal, dengan alasan lelah.
Kemudian Raka pergi dari tempat itu meninggalkan keempat sahabatnya itu disana.
"Yah sudah kalau begitu! Mbak juga mau pulang saja yah! Besok pagi, Mbak ke sini lagi!" Pamit Rani.
"Lho… kenapa nggak menginap saja, Mbak? Lagi pula pakaian, Mbak 'kan sudah dibawa juga!" Tanya Ratna.
"Nggak apa-apa, Rat! Justru karena itu, Mbak ingin membereskan kembali barang-barang Mbak. Biar besok bila Dian sudah memutuskan, Mbak tidak terlalu sibuk. Mbak juga ingin ikut melamar ke rumahnya Dian!" Jelas Rani.
Sesaat perkataan Rani membuat kedua wanita itu terkejut lagi dengan jalan pemikiran Rani. Sampai-sampai dia sendiri yang akan ikut mengurusi semua rencana pernikahan kekasihnya itu walaupun bukan dengan dirinya sendiri yang menikah.
Tak berselang lama Rani meminta kepada Ryan agar mengantarkan pulang ke tempat kostnya.
Ryan mengiyakan permintaan dari Rani itu dan mereka pergi berdua dari tempat favoritnya Raka dan hanya meninggalkan dua orang wanita itu disana.
Kedua wanita itu saling diam sesaat setelah ditinggalkan oleh Ryan dan Ratna.
Lalu, Dian mencoba untuk membuka suaranya kembali kepada sahabatnya itu.
"Rat … " panggil Dian.
"Mmhh" sahut Ratna.
__ADS_1
"Andaikan kamu di posisiku sekarang, apa yang kira-kira akan kamu ambil, Rat?" Tanya Dian kepada sahabatnya itu tentang permasalahan dirinya saat ini.
"Nggak tahu … mungkin aku juga pasti akan seperti kamu saat ini!" Ratna menjawab dengan datarnya tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Apa aku jahat yah, Rat?" Tanya Dian kembali.
"Maksudnya?" Ratna yang kini mulai menoleh kearah sahabatnya itu sambil memasang wajah bingungnya.
"Iya... bila aku sampai mengikuti solusi dari Mbak Rani tadi, bukankah itu berarti aku menghancurkan rencana mereka?" Ucap Dian.
"Aku rasa tidak, mereka pastinya sudah punya rencana untuk hubungan mereka kedepannya nanti!" Sahut Ratna.
"Kenapa kamu bisa yakin seperti itu, Rat?" Tanya Dian.
"Itulah yang aku sedang pikirkan!" Jawab Ratna yang perasaannya sedang bingung juga dengan pemikiran sepasang kekasih yang ia kenal itu.
"Lalu jadinya bagaimana? Apa aku harus ambil solusi itu?" Tanya Dian kembali.
"Mau gak mau! kecuali kamu ada solusi lainnya tanpa harus menghilangkan nyawa dan berani untuk bicara kepada orang tua kamu!" Jelas Ratna.
Dian tak bisa berkata-kata apalagi setelah Ratna mengucapkan kalimat itu pada dirinya.
Dia hanya diam sambil memikirkan sesuatu yang tak ada jawabannya.
"Sudahlah, kita lanjutkan di kamar aja yuk! Aku mulai dingin nih!" Ajak Ratna.
Memang kondisi malam itu terasa dingin sekali dan jam pun sudah menunjukkan jam 9 malam.
"Kamu saja duluan, Rat! Aku masih ingin disini dulu sebentar lagi!" Ucap Dian.
Ratna mencoba memahami kondisi Dian yang sedang dialaminya karena bimbang harus memutuskan seperti apa.
Disatu sisi dia sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan kepada sahabatnya itu padanya, namun satu sisi lainnya dia mungkin akan menghancurkan impian dari sahabatnya yang telah membantu dirinya sampai dengan detik ini.
Ratna yang sangat mengerti dengan kondisi itu akhirnya menuruti keinginan dari Dian tersebut. Walaupun sebenarnya dia tidak mau bila harus meninggalkan Dian sendirian disana.
Namun karena dirinya pernah mengalami kondisi yang seperti itu, membuatnya mengerti dan memberikan ruang untuk sahabatnya itu berpikir.
.
.
.
.
.
Di Dalam mobil,
Ryan yang kini sedang mengantarkan Rani pulang ke tempat kosan nya Rani, dikejutkan dengan suara tangisan kecil dari Rani.
"Kamu menangis, Ran?" Tanya Ryan.
"Ehh … tidak, Mas!" Jawab Rani sambil meraih tisu yang berada di dasbor mobil.
Ryan yang tidak percaya dengan jawaban Rani itu lalu menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi nan gelap itu.
Lalu kemudian ia menyalakan lampu di dalam mobil tersebut sambil melihat ke arah Rani yang sedang sibuk menyeka air matanya yang tak henti-hentinya untuk terus berurai.
Rani yang merasa risih karena diperhatikan oleh Ryan itu, mencoba untuk mematikan lampu dalam mobil tersebut.
Namun, saat tangan Rani sedikit lagi mencapai tombol pada lampu itu. Sayangnya itu dicegah oleh Ryan dengan menahan tangan Rani agar tidak berhasil mematikan lampu dalam mobil itu.
"Apaan sih, Mas! Lepasin!" Ucap Rani sambil menarik tangannya dari genggaman Ryan.
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Ryan dengan muka seriusnya.
Rani sadar bahwa Ryan saat ini sedang kesal karena sikap dirinya.
__ADS_1
"Siapa yang menangis! ini hanya kelilipan, Mas!" Sanggah Rani.
Mendengar jawaban Rani yang masih mencoba mengelak itu, akhirnya Ryan sendiri yang mematikan lampu dalam mobil tersebut.
Namun Ryan tetap tidak melajukan kembali kendaraannya itu.
Ryan hanya berdiam diri saja di balik kemudi itu dengan tatapan kesal ke arah jalan yang terlihat begitu gelap dan sepi itu.
Dirasa lama kendaraan itu tidak berjalan, akhirnya Rani mulai mengatakan sesuatu kepada Ryan. Karena Rani tahu Ryan saat ini memang sedang kesal dan marah pada dirinya.
"Maafkan Rani, Mas!"
Rani mulai bersuara setelah keadaan di dalam mobil itu mulai terasa dingin.
"Walaupun ini memang rencana Rani, tapi Rani juga punya perasaan, Mas! Rani juga tidak ingin semua ini terjadi. Tapi, Rani juga tidak bisa bila melihat Dian menderita seperti itu, Mas!" Ucap Rani yang mulai lirih.
Tak lama berselang hujan pun mulai turun malam itu seakan merasakan apa yang ada didalam hatinya Rani saat ini.
Hujan yang tiba-tiba turun dengan lebatnya itu menandakan betapa beratnya keputusan yang harus Rani ambil demi seorang Dian, wanita yang belum lama ia kenal ini.
Segitu besarnya pengorbanan Rani untuk Dian yang tidak dimengerti oleh Ryan saat ini.
Ryan yang masih kesal dengan Rani pun seakan tidak peduli dengan kondisi Rani yang saat ini dialaminya.
"Untuk apa, Ran! Untuk apa kamu sampai segitunya membantu Dian?" Ujar Ryan dengan nada kesalnya.
"Maafkan Rani, Mas! Rani gak mau kejadian itu terulang lagi, Mas! Maaf Mas… maaf…" Rani memohon pada Ryan agar menghentikan pertanyaannya itu.
Ryan pun semakin bingung dengan maksud dari perkataan Rani itu dan masih saja dengan sikap kesalnya Ryan terus menerus menanyakan tentang mengapa keputusan itu yang harus Rani ambil.
Sedangkan Ryan tahu kalau Rani dan Raka itu memang saling mencintai satu sama lainnya dan itu juga yang membuat Ryan kesal mengapa mereka harus mengesampingkan kepentingan mereka hanya untuk orang lain yang belum lama ini mereka kenal.
Rani yang terus menerus ditekan oleh Ryan akhirnya Rani pun mengatakan tanpa sengaja kepada Ryan.
"Aku tak ingin Dian seperti Ratih, Mas!" Ucap Rani dengan sedikit teriak itu karena sudah tidak tahan harus terus-menerus ditekan oleh Ryan dengan pertanyaan yang membuat perasaannya terus menahan sakit.
Mendengar kalimat itu dari Rani, Ryan tersentak seakan yang diucapkan oleh Rani itu hanyalah bualan belaka saja.
Namun Ryan mencoba kembali memikirkan ucapan dari Rani itu.
"Maksudmu seperti Ratih … seperti apa itu, Ran?" Ryan yang bertanya dengan nada yang bingung dan tanpa menoleh ke arah Rani.
"Maaf, Mas! Rani tidak bisa cerita sama, Mas! Rani sudah janji sama Ratih, Mas!" Kembali dan kembali Rani memohon agar Ryan untuk tidak terus bertanya.
"Nggak, Ran! Mas ingin tahu!" Pinta Ryan.
"Tolong, Mas! Rani mohon sama, Mas!" Ucap Rani.
"Nggak… cepat ceritakan, Ran! Mas ingin tahu semua tolong, Ran… tolong!" Pinta Ryan kembali.
Namun Rani masih enggan untuk menceritakan pada Ryan, ia pun hanya menggelengkan kepalanya saja sambil menangis.
Lalu tanpa disangka Ryan yang mulai kalap pun akhirnya berteriak kepada Rani
"RATIH SUDAH MATI, RAN!!!"
dengan diiringi suara petir yang menggelegar malam itu.
.
.
.
.
.
🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻
__ADS_1
** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.
Terima kasih,😁🙏😁!