
Suasana pagi datang dengan pelan, seperti lukisan lembut yang diwarnai oleh cahaya perlahan merayap dari balik cakrawala. Matahari terbit dengan gemerlap emasnya, menyingsingkan harapan baru dalam setiap sinarnya. Angin pagi membelai pepohonan dengan lembut, mengajak daun-daun untuk berdansa dalam irama kehidupan yang tak pernah berhenti mengalir.
Di rumah Dian, pagi itu terasa seperti permulaan baru setelah malam yang penuh dengan percakapan penuh emosi. Udara pagi yang segar memasuki jendela, membawa harumnya bunga-bunga yang tumbuh di taman. Seperti halnya pagi yang muncul setelah hujan deras, saat ketika segala sesuatu menjadi lebih segar dan bersih.
Bobby sudah bangun lebih awal dari yang biasanya. Dia duduk di teras rumah dengan secangkir kopi hangat di tangan, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya. Pikirannya masih terbayang-bayang percakapan semalam dan tekadnya untuk berubah. Dia merenung, seperti halnya matahari yang mulai menerangi dunia dengan penuh semangat, begitu pula tekadnya yang semakin kuat untuk memulai perubahan dalam hidupnya.
Sementara Bobby merenung di teras, Dian yang tak sengaja melihatnya dari dalam rumah. Hatinya berdetak lebih cepat, seperti langkah-langkah perlahan yang mendekati ambang sebuah keputusan. Dian berdiri mematung, memperhatikan Bobby dengan rasa bingung dan ragu.
"Dia datang dengan niat baik ataukah hanya sekadar wajah penyesalan semu?" gumam Dian dalam hati, seperti petir kecil yang berkecamuk di langit pikirannya.
Dia mengingat kembali semua kenangan bersama Bobby, baik yang manis maupun pahit. Seperti kilatan cahaya yang memantul di permukaan air, kenangan-kenangan itu tergambar jelas di hadapannya. Dian merasa seperti berdiri di persimpangan jalan, di mana satu arah membawanya ke masa lalu yang penuh rasa sakit, dan arah lain membawanya ke masa depan yang penuh dengan harapan.
Dalam diamnya, Dian bertanya pada dirinya sendiri, "Apakah aku siap memberikan kesempatan kedua untuknya? Atau apakah aku harus tetap menjaga hatiku agar tidak terluka lagi?"
Namun, dalam keheningan pagi yang masih segar, ada suara kecil dalam hati Dian yang mulai bersuara. Seperti bisikan angin yang lembut, suara itu mengatakan padanya untuk memberikan peluang pada perubahan, seperti pagi yang datang setelah malam gelap.
"Apa yang bisa kulakukan? Bagaimana aku bisa memastikan bahwa dia benar-benar telah berubah?" pertanyaan-pertanyaan itu melingkar dalam pikiran Dian, seperti daun-daun yang melayang di atas permukaan sungai.
Sambil mengamati Bobby yang masih duduk dengan penuh pemikiran, Dian merenungkan perasaannya yang bercampur aduk. Seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti mengalir, begitulah perasaannya yang terus mengalir dan berubah seiring waktu.
"Apa aku siap menerima perubahan dalam hidupku? Apa aku siap memberikan kesempatan kedua untuk cinta yang pernah membuatku terluka?" tanya Dian pada dirinya sendiri, seperti dedaunan yang terbawa arus sungai menuju takdir yang belum terlihat.
Dian merasakan getaran emosi yang begitu dalam, seperti getaran alam yang terasa dalam setiap hembusan angin. Dia merenungkan betapa pentingnya memberikan ruang untuk perubahan dan pertumbuhan, seperti bunga yang tumbuh dari dalam tanah gelap menuju sinar matahari.
Tiba-tiba, seperti matahari yang semakin memancarkan sinarnya di langit, Dian merasakan getaran positif dari dalam hatinya. Dia merasakan bahwa meski takdir mungkin belum sepenuhnya terlihat, memberikan peluang pada perubahan adalah langkah yang perlu diambil.
"Setidaknya, aku tak akan pernah menyesalinya jika memberikan kesempatan kedua. Bukankah hidup sendiri adalah tentang pertumbuhan dan belajar dari pengalaman?" pikir Dian dengan mantap, seperti pohon yang akar-akarnya semakin kuat merangkak dalam tanah.
Saat Dian tenggelam dalam lamunannya yang dalam, suara lembut seorang ibu menyentuh telinganya. "Dian, sayang, sudah waktunya sarapan pagi. Ayahmu sudah menunggu di meja makan. Ayo."
Dian tersentak dari lamunannya dan memalingkan pandangan ke arah ibunya yang tersenyum lembut. Dia merasa seperti terbangun dari dunianya sendiri, seperti bunga yang tiba-tiba tersentak oleh hembusan angin. Dian mengangguk perlahan dan menyapu matanya, mencoba menghilangkan sisa-sisa pikirannya yang terombang-ambing.
"Baik, Bu." kata Dian dengan suara lembut, meresapi kedamaian dan kehangatan yang hadir dalam panggilan ibunya.
Saat Dian mengangguk perlahan, ibunya tersenyum dan mengangkat alis dengan lembut, seolah memberikan kode yang hanya mereka berdua yang mengerti. Dian merasa dadanya berdesir cepat, menyadari apa yang ibunya coba sampaikan. Dia menatap ibunya dengan tatapan campuran antara rasa malu dan kebingungan.
__ADS_1
Ibu Dian memberikan senyuman yang lebih lebar, seolah mengajak Dian untuk berani lebih. "Ayo, sayang, mengapa tidak mengajak Bobby untuk bergabung? Dia juga sudah ada di teras sejak tadi, bukan?"
Wajah Dian memerah, dan dia merasa canggung oleh saran ibunya yang begitu jelas. Namun, dia juga merasakan getaran kecil dari dalam hatinya, seperti semburat cahaya yang memancar di antara keraguan.
"Tapi, Bu..." ucap Dian pelan, suaranya hampir terengah-engah. "Dian tidak yakin..."
Ibu Dian mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Dian dengan penuh kasih. "Sayang, terkadang kita harus memberikan peluang kedua pada orang-orang. Siapa tahu, perubahan itu nyata dan kau bisa menemukan kebahagiaan yang baru."
Dian merasa adanya dukungan dalam kata-kata ibunya. Meskipun perasaannya masih campur aduk, dia merasa semakin kuat untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Dengan langkah ragu namun penuh tekad, Dian melangkah keluar dari rumah menuju teras.
"Bobby," panggil Dian, suaranya lembut namun terdengar tegas.
Bobby yang tadinya terdiam dalam pikirannya, mengangkat kepala dan tersenyum kaget saat melihat Dian memanggilnya. "Ya?"
Dian berjalan mendekati Bobby dengan langkah perlahan, meskipun dadanya masih berdesir cemas. "Maafkan aku kalau aku tadi terlihat sedikit bingung. Ayahku sudah menunggu di meja makan untuk sarapan pagi. Apakah kamu mau bergabung dengan kami?"
Bobby tersenyum hangat, merasa senang dengan undangan yang tak terduga. "Tentu, aku akan sangat senang."
Lalu mereka berdua berjalan menuju meja makan, dan suasana canggung yang tadinya terasa sekarang semakin mendalam. Ayah Dian, yang duduk di ujung meja, tersenyum lebar melihat mereka berdua datang. Ibu Dian pun mengikutinya dengan senyuman penuh kehangatan.
"Selamat pagi, Pak," jawab Bobby sopan.
Dian dan Bobby duduk di meja makan, dan suasana yang tadinya canggung masih terasa di udara. Meskipun berusaha untuk berbicara, kata-kata terkadang terasa terbata-bata dan ekspresi wajah keduanya mencerminkan kekakuan.
Ayah Dian melihat suasana yang masih canggung di meja makan dan dengan bijaksana mencoba mengalihkan perhatian. "Dian, bagaimana dengan teman-temanmu yang lain? Apakah mereka juga sudah bangun?"
Dian sedikit lega dengan pembicaraan baru ini dan menjawab, "Beberapa dari mereka mungkin masih tidur, Yah. Tapi sepertinya beberapa lainnya sudah bangun dan ada di kamarnya masing-masing."
Ayah Dian tersenyum, "Mungkin kamu bisa mengajak mereka untuk ikut sarapan bersama. Siapa tahu, itu bisa menjadi kesempatan untuk lebih menghangatkan suasana pagi ini."
Dian memandang Bobby dengan pandangan singkat, mencari persetujuan. Bobby juga mengangguk setuju dengan senyuman, "Ya, itu mungkin ide yang bagus."
Dian tersenyum penuh semangat, merasa dukungan dari Bobby dan juga keberanian yang mulai muncul dari dalam dirinya. Dia mengangguk setuju pada saran Ayahnya, lalu dengan cepat berdiri dari tempat duduknya. "Aku akan segera kembali," ucapnya.
Tanpa ragu, Dian bergerak menuju kamar teman-temannya dan mulai mengetuk pintu. Beberapa di antaranya langsung merespons dengan suara kaget, namun Dian tetap bersemangat dan tersenyum saat mereka membukakan pintu.
__ADS_1
"Sarapan pagi sudah siap. Ayo, bergabunglah dengan kami di meja makan," ajak Dian dengan penuh semangat.
Ratna dan Rani yang masih berada di dalam kamar melihat kegembiraan dan keberanian Dian. Perlahan-lahan mereka juga ikut tersenyum dan setuju untuk ikut sarapan.
Dian meneruskan langkahnya ke kamar Raka dan Ryan dengan semangat yang tak terbendung. Dia ingin melibatkan semua teman-temannya dalam momen yang hangat dan positif ini. Namun, sebelum ia berhasil mengetuk pintu kamar temannya, tiba-tiba pintu itu terbuka dengan cepat.
Ryan yang muncul dari dalam kamar dengan ekspresi kaget, diikuti oleh Raka yang juga tampak terkejut. Dian tersenyum melihat kejutan ini dan memberi salam sambil tertawa kecil, "Haha, tampaknya aku sudah di depan pintu tepat pada waktunya."
Raka dan Ryan saling pandang, lalu mereka berdua juga tersenyum dan memberi salam balik. "Hai, Dian," sapa Raka dengan riang.
"Hai, Dian," sambut Ryan dengan senyuman lebar.
Dian mengangguk, merasa senang dengan tanggapan positif dari keduanya. "Hai, kakak-kakakku. Dian ingin mengajak kalian sarapan pagi bersama. Mbak Rani dan Ratna juga sudah siap di meja makan."
Raka dan Ryan saling pandang lagi, lalu mereka berdua tersenyum dan mengangguk setuju hampir bersamaan. "Tentu, terima kasih atas undangannya," ucap Raka dengan ramah.
"Ya, terima kasih, Dian," sambut Ryan dengan antusias.
Dian merasa gembira melihat respon positif dari teman-temannya. Semakin banyak yang bisa bergabung, semakin hangat dan menyenangkan sarapan pagi ini. Mereka bertiga berjalan bersama menuju meja makan, di mana Bobby, Ratna, dan Rani sudah menunggu dengan senyuman.
.
.
.
.
.
π»π΅οΈπΈπΊπ·π₯πΉπΌπΉπ₯π·πΊπΈπ΅οΈπ»
** Hai readers, ini karya pertama ku. BenarΒ² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa π like kalian juga ku nanti.
Terima kasih,πππ!
__ADS_1