Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 44 "Satu Hari Sebelum Pernikahan"


__ADS_3

Setelah Raka bertanya pada Ryan dan sampai akhirnya mereka tertawa bersama saat di kantor tadi siang itu.


Raka terus memikirkan tentang keinginan Ryan yang saat itu telah Ryan katakan pada Raka, bahwa Ryan ingin pindah dari rumah Raka.


Sampai akhirnya membuat Raka melupakan janjinya pada Rani yang akan menjemput Rani untuk pulang bersamanya.


Saat Raka sudah berada di kamarnya, Raka langsung mengambil handphonenya yang sedang ia charge itu lalu langsung menelpon Rani.


"Iya hallo, Mas!" Ucap Rani dalam panggilan tersebut.


"Maafkan Mas, Ran! Mas lupa! Kamu sudah pulang apa masih di toko?" Tanya Raka.


"Rani sudah pulang, Mas!" Jawab Rani.


"Maafin Mas yah! Mas beneran lupa!" Ucap Raka.


"Iya, Mas! Tidak apa-apa! Lagi pula Rani hari ini lelah banget, mau istirahat!" Jelas Rani.


"Oh, ya sudah kalau begitu! Tapi kamu beneran gak marah 'kan?" Tanya Raka kembali.


"Iya, Mas! Rani gak marah! Rani ngerti kok, Mas istirahat juga yah!" Sahut Rani.


"Makasih yah!" Ucap Raka mengakhiri panggilan tersebut.


Lalu Raka kembali meletakkan handphonenya pada nakas kemudian dia merebahkan tubuhnya sambil memikirkan kembali keinginan Ryan.


Karena keputusannya setelah hari pernikahan mereka karena esok adalah akhir bulan dan rencana pernikahan Raka dan Rani adalah awal bulan.


Jadi, Raka memikirkan hal tersebut yang membuat ia sedikit agak bingung dalam mengambil keputusannya yang tinggal satu atau dua hari lagi itu.


.


.


.


.


.


.


Di Ruang tengah,


Ratna yang sedang duduk disofa sambil menonton TV itu dihampiri oleh Ryan yang langsung duduk disampingnya.


Namun tiba-tiba Ratna beranjak dari tempat duduknya itu kemudian pindah tempat duduknya di sofa yang lainnya.


Ryan yang melihat Ratna sedang ngambek itu hanya bisa tersenyum sendiri saja sambil mulai menggeser duduknya agar sedikit lebih dekat dengan Ratna.


Ratna yang sedang marah kepada Ryan itu memang belum bicara pada Ryan saat dari pulang kantor sampai sekarang.


"Maafin, Mas yah!" Ucap Ryan yang mencoba mencairkan suasana.


Namun Ratna hanya diam saja dengan wajah yang terkesan tak peduli dengan ucapan Ryan itu.


"Rat, Maafin Mas! Mas ngaku salah! Kamu jangan diam gitu dong…." Ryan berucap kembali kepada Ratna.


Ratna masih saja diam tidak menghiraukan ucapan Ryan kembali.


Lalu tak lama terdengar suara pintu yang tertutup.


Dan Ryan pun menoleh ke arah suara itu dan dilihatnya Raka yang sedang menuruni anak tangga.


Kemudian duduk di sofa satunya lagi yang berhadapan dengan Ratna.


Raka yang melihat Ratna fokus melihat televisi dan seakan tidak memperdulikan kehadirannya mulai merasa ada yang aneh pada kedua sahabatnya itu.


"Tumben duduknya misah! Ada apa nih?" Tanya Raka pada kedua sahabatnya itu.


Ryan hanya menunjukkan ekspresi wajahnya saja yang malu-malu sedangkan Ratna tetap pada sikapnya.

__ADS_1


"Wah… lagi marahan yah! Hahaha… " ucap Raka lalu tertawa.


"Hush…" sahut Ryan yang memberikan isyarat kepada Raka seolah-olah mengatakan jangan menambah masalah.


"Rat, kamu marah sama Ryan yah?" Tanya Raka pada Ratna yang tidak memperdulikan isyarat dari Ryan itu.


Ryan langsung menunjukkan wajah malesnya karena ulah dari sahabatnya itu yang seakan tidak mau mengerti dengan kondisinya sekarang ini.


Sedangkan Ratna tetap berdiam diri saja sambil masih fokus melihat ke arah televisi.


"Jangan marah Rat! Masa, mau dibelikan rumah marah sih!" Lanjut Raka berucap sambil melemparkan senyuman khasnya pada Ratna.


Mendengar itu Ratna langsung melihat ke arah Raka yang tersenyum padanya lalu kemudian menoleh ke arah Ryan.


"Kenapa gak bilang sama Ratna?" Tanya Ratna pada Ryan dengan nada kesalnya.


Raka langsung tertawa bahagia melihat Ratna yang sedang marah itu.


Kemudian Ratna pun melihat ke arah Raka yang sedang menertawakan dirinya dengan wajah yang marah.


"Maaf… maaf… maaf, Rat!" Ucap Raka sambil tertawa itu.


Lalu Ratna menoleh lagi kepada Ryan.


"Masa kejutan harus di kasih tau sih, Rat!" Ucap Ryan dengan nada malu-malu.


Karena Raka masih tertawa kecil Ratna pun kembali melihat ke arah Raka.


"Tega amat sih, Mas! Malah ketawain Ratna. Ratna 'kan sedang marah, Mas!" Kesal Ratna pada Raka.


"Iya… iya maaf, maaf! Lagian, bukan itu maksud Mas. Mas tertawa hanya ingat saat di kantor tadi, saat Ryan menertawakan Mas juga!" Sahut Raka,


"Ternyata Mas tahu alasannya apa sekarang." Lanjut Raka lagi.


"Kalau sahabat sedang marah karena khawatir ternyata lucu." Ucap Raka kembali dan disusul dengan gelak tawa begitu juga dengan Ryan yang sudah tidak kuat menahan tawanya lagi.


Melihat kedua pria itu tertawa bahagia Ratna pun merasa tersihir oleh gelak tawa dari kedua pria yang bersamanya itu.


Kemudian perlahan Ratna mulai melumerkan bibirnya yang dari tadi sempat manyun itu.


Ryan yang menyadari itu langsung memeluk Ratna dari samping sambil tetap tertawa begitu juga dengan Raka yang belum terhenti tertawa.


Ratna yang dipeluk Ryan pun memukul-mukul manja dada Ryan dalam pelukan itu sambil menangis namun juga diselingi dengan tawa bahagianya.


.


.


.


.


.


Esok paginya,


Seperti biasanya mereka sarapan bersama di ruang makan.


"Kita mau berangkat jam berapa, Ka!" Tanya Ryan pada Raka sambil membaca koran dan menikmati kopi paginya.


"Habis makan siang sajalah kaya waktu liburan kita dulu." Jawab Raka.


"Itu tidak terlalu mepet banget, Mas! Waktu itu saja kita sampai malam loh!" Ucap Ratna.


"Yah… mau gimana lagi! Maunya Rani seperti itu kok!" Jelas Raka.


Setelah sarapan mereka pun mulai beranjak dari tempat itu untuk pergi ke kantor.


Didalam perjalanan menuju kantor Raka menelepon Rani.


"Hallo, Ran!" Ucap Raka setelah tersambung dengan Rani.

__ADS_1


"Iya, Mas!" Sahut Rani dalam panggilan tersebut.


"Bagaimana, apa sudah siap semuanya?" Tanya Raka.


"Sudah Mas, ini Rani lagi merapikan pakaian agar nanti bisa langsung berangkat!" Jawab Rani.


"Oh, yah sudah kalau begitu! Nanti habis makan siang, Mas langsung jemput kamu yah!" Ajak Raka.


"Iya Mas! Dian ikut juga 'kan, Mas?" Tanya Rani.


"Kemarin sih bilang ikut, 'kan kamu tahu itu!" Ucap Raka.


"Iya sih, biar memastikan saja, Mas!" Sahut Rani.


"Oh, yah udah! Nanti Mas pastikan lagi saat makan siang ke dia yah!" Ucap Raka.


Lalu panggilan pun berakhir.


.


.


.


.


.


Jam 12.00.


Di kantor,


"Makan siang, dimana nih?" Tanya Ryan pada Ratna.


"Makan bakso! Enak kali yah!" Jawab Ratna.


"Ayo! Kakandamu mana?" Goda Ryan pada Ratna.


"Masih di dalam!" Ucap Ratna.


Lalu tak lama berselang Raka pun keluar dari dalam ruangannya.


"Dah pada kumpul nih! Mau makan apa hari ini?" Tanya Raka pada kedua sahabatnya itu.


"Ratna mau makan bakso katanya." sahut Ryan.


"Oh, ya sudah ayo!" Ajak Raka.


Lalu mereka berjalan bersama menuju lift.


"Dian mana?" Tanya Raka.


"Sudah duluan mungkin, Mas!" Sahut Ratna.


Setelah sampai di depan pintu lift tak lama mereka bertiga pun masuk dan menuruni lantai demi lantai.


"Ting!"


Saat mereka baru saja keluar dari lift, mereka seperti melihat Dian sedang berlari menuju pintu keluar melewati lobby itu.


.


.


.


.


.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻

__ADS_1


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,😁🙏😁!


__ADS_2