
Di rumah Raka,
Dian yang masih berada di balkon seorang diri karena masih ingin membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya.
Dibawah hujan yang deras itu, ia tampak termenung sambil memikirkan tentang masa depannya nanti bila harus bersama Raka nantinya.
Dian memang menyukai Raka tapi bukan dasar cinta, mungkin bisa dibilang kagum saja dengan apa yang dimiliki oleh Raka, baik itu sifat maupun perilaku dari Raka itu sendiri.
Tapi sekarang ia harus memutuskan untuk mengikuti rencana dari Rani yang seharusnya menjadi istri dari Raka dan sekaligus orang yang sudah ia anggap sebagai pengganti dari kakaknya sendiri.
Pikiran Dian sangat kacau dan sangat kalut dalam pilihan ini. Disatu sisi ia tidak berani untuk mengatakannya secara jujur pada kedua orangtuanya dan disatu sisi ia mengetahui bila ia harus gugurkan janin ini adalah sesuatu yang dosa.
Karena bagaimanapun ini adalah sebuah hukuman atas perbuatannya sendiri yang tidak bisa untuk menjaga kehormatannya.
Tapi kenapa harus orang yang telah berbuat baik padanya yang harus ikut menanggung kesalahannya ini.
Ditambah, Dian yang tak habis pikir bagaimana perasaan Rani dan Raka saat ini.
Walaupun dilihat secara kasat mata, mereka tampak biasa-biasa saja tapi belum tentu bagaimana kondisi di dalam hati mereka saat ini masing-masing.
Ini harusnya bukanlah sesuatu keputusan yang mudah, tapi kenapa mereka melakukannya.
"Apa hutang mereka pada ku, sampai mereka harus berkorban sebesar ini…" batin Dian dalam lamunannya.
Saat Dian sedang tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba Dian dikagetkan oleh kilatan cahaya yang sangat terang pada malam hari dan tak lama terdengar suara petir yang sangat memekakkan telinga.
Dian yang dikejutkan oleh kilat dan suara petir itu hanya menyadarkan dari lamunannya tapi tidak membuat Dian beranjak dari tempat itu.
Pikir Dian, apa ia akan langsung dihukum oleh Tuhan.
Bila iya maka ia akan terima itu. Oleh sebab itu Dian tidak beranjak dari tempat ia sekarang karena ia berharap akan lebih tenang bila harus mengakhiri hidupnya sekarang bila sampai ia tersambar petir.
Tak lama berselang setelah kejadian itu, dari arah belakang Dian tiba-tiba ada seseorang orang yang memayungi Dian tanpa bersuara.
Saat Dian menoleh kebelakang, Dian melihat sosok pria yang begitu berseri bagai secercah cahaya yang bersinar dalam kegelapan.
Dian pun dibuatnya terpaku saat itu seolah suaranya hilang dan lidahnya menjadi kaku untuk berkata-kata.
Tapi….
"Sudah main hujan-hujanannya?"
Suara pria itu dengan lembut bertanya pada Dian ditambah dengan senyum khasnya.
Dian yang tak bisa menjawab pertanyaan mudah itu hanya menunduk malu saja.
Lalu pria itu meraih tangan Dian untuk mengajaknya masuk kedalam rumah
Dian yang masih dengan kekaguman pada pria itu, hanya bisa diam dan menuruti ajakan nya.
Sambil berjalan berdampingan di bawah payung yang dibawa oleh pria itu dengan guyuran hujan yang lebat membuat perasaan Dian sedikit merasa nyaman ditambah dengan tangannya yang masih dipegang oleh pria itu yang begitu terasa hangat.
Sampai mereka berdua tiba didalam rumah, pria itu langsung menutup payungnya dan menaruh di sudut dekat pintu, lalu mengambil handuk kecil yang ada disana.
Pria itu langsung menutupi kepala Dian dengan menggunakan handuk kecil itu, Dian yang masih belum bisa berbuat apa-apa seolah terhipnotis dengan perilaku pria yang ia kenali itu. Ya dia adalah Raka pria yang baik dan perhatian.
Setelah Raka mengeringkan rambut Dian yang basah itu, lalu ia menatap dalam-dalam wajah Dian yang berada di depannya.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?"
Tanya Raka yang sambil menatap Dian dengan penuh perhatiannya itu membuat wajah Dian tampak memerah.
Tak berselang lama terdengar suara langkah kaki yang berjalan cepat menghampiri mereka berdua.
Namun langkah kaki itu seakan menghilang setelah terdengar begitu dekat.
Raka menoleh pada sosok yang baru menghampiri ke arah mereka berdua.
"Rat, kamu juga terbangun yah?"
Ternyata suara langkah kaki itu adalah Ratna yang mengkhawatirkan Dian setelah mendengar suara petir yang sangat besar itu.
Suara langkah kaki tadi terhenti karena setelah Ratna sampai dan terkejut saat melihat Raka dan Dian yang saling bertatapan itu.
Namun, sebelum ia sempat memikirkan sesuatu hal yang macam-macam, ia dikejutkan kembali oleh Raka yang melihat ke arahnya sambil bertanya.
"I-iya, Mas!"
Jawaban Ratna dengan sedikit gugup karena setelah melihat kejadian beberapa saat tadi.
Lalu Raka hanya tersenyum saja dan kembali melihat ke arah Dian sambil memegang pundak Dian.
"Kamu ganti baju dulu yah! Setelah ganti, Mas tunggu kamu di kamar yah!"
Setelah mengucapkan itu, Raka langsung pergi dan meninggalkan kedua wanita itu.
"Dian, kamu gak apa-apa 'kan?" Tanya Ratna yang menghampiri Dian setelah Raka pergi.
Dian masih saja sama dengan sikapnya tadi diam dan tidak bersuara, hanya raut wajahnya saja yang berubah.
Lalu Ratna pun mengajak Dian ke kamarnya untuk berganti pakaian yang basah kuyup itu.
__ADS_1
Setelah Ratna membawa Dian kedalam kamarnya, sikap Dian masih sama dan itu membuat Ratna bingung.
Sampai akhirnya Ratna menanyakan apakah Dian ingin mandi kembali atau tidak.
Tapi, tanpa berkata apa-apa Dian langsung berjalan ke arah kamar mandi itu. Sesaat sebelum masuk kamar mandi, Ratna memanggilnya.
"Dian, kamu beneran tidak apa-apa?"
Ratna mengulang pertanyaan yang sama, yang memang belum dijawab oleh Dian semenjak tadi.
Namun kali ini Dian menoleh kearah Ratna dan menggelengkan kepalanya tanpa berkata hanya tersenyum kecil saja lalu ia pun masuk kedalam kamar mandi.
Di Dalam kamar mandi, Dian perlahan membuka pakaian yang basah itu satu persatu mulai terlepas dari tubuh mulusnya.
Lalu ia mulai menyalakan shower dan mandi di air yang keluar itu yang terasa hangat di tubuhnya.
Ia menundukan kepalanya sambil memikirkan perkataan Raka tadi.
"Untuk apa aku disuruh ke kamarnya?" Batin Dian yang bertanya-tanya.
Ratna yang menunggu Dian selesai mandi mempersiapkan pakaian tidurnya yang belum pernah ia kenakan karena terlalu ketat baginya dan Ratna tidak suka itu karena ia suka dengan pakaian yang sedikit agak longgar.
Pakaian tidur itu ia siapkan untuk digunakan oleh Dian nantinya.
Setelah Dian selesai mandi, Ratna langsung menyuruh Dian untuk mengenakan pakaian itu dan Dian tidak menolaknya karena sudah terbiasa dengan pakaian yang agak ketat seperti itu.
Setelah Dian berpakaian dan merapikan rambutnya, Dian lalu berjalan menuju pintu yang membuat Ratna bertanya kembali padanya.
"Kamu mau kemana?"
Dian yang berdiri sambil memegang handle pintu itu karena ingin keluar kamar berhenti saat ditanya oleh Ratna.
"Ke kamar Mas Raka… kamu jangan tidur dulu yah! Tunggu aku!" Jawab Dian lalu melanjutkan kembali membuka pintu dan menghilang dibalik pintu tersebut.
Ratna yang baru teringat dengan ucapan Dian tadi membuatnya memikirkan sesuatu.
"Oh iya yah, tadi Mas Raka memang menyuruh Dian untuk ke kamarnya. Tapi… buat apa yah…" pikiran Ratna.
Dian yang berjalan menaiki anak tangga untuk ke kamar Raka, dengan tatapan yang kosong dan banyak pertanyaan yang memutar di dalam kepalanya.
Sampai tibalah Dian di depan pintu kamar Raka, kemudian Dian mengetuk pintu itu pelan lalu terdengar suara dari balik pintu itu menyuruhnya untuk masuk.
Lalu Dian pun membuka kamar itu dan mulai melangkah kan kakinya memasuki kamar itu secara perlahan.
Dian melihat Raka yang sedang duduk dibibir tempat tidurnya sambil tersenyum, seakan menyambut kedatangannya.
"Sini Dian, duduk sini…" ajakan Raka sambil menepuk bibir tempat tidurnya yang menyuruh Dian agar duduk di sampingnya itu.
Dian pun berjalan menghampiri Raka sambil menundukkan kepalanya, lalu duduk ditempat yang sudah Raka kasih tau itu.
"Bagaimana dengan keputusan kamu, Dian?"
Raka yang langsung bertanya karena tidak mau membuang waktu lagi jika harus menunggunya sampai esok pagi.
Dian yang masih bingung pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dengan posisi yang masih tertunduk.
"Mas tahu, kamu masih tidak habis pikir dengan keputusan Mas dan Rani. Tapi kami sudah memikirkan itu, Dian. Baik dan buruknya akan kami terima tanpa akan menyalahkan kamu nantinya."
Raka yang mencoba menjelaskan kepada Dian tentang keputusannya bersama Rani.
"Tapi kenapa, Mas! Mas dan Mbak sampai rela berkorban seperti itu untuk Dian? Sedangkan ini adalah masalah yang dibuat oleh Dian sendiri, Mas! Kenapa harus, Mas dan Mbak Rani yang ikut terlibat didalamnya? Kenapa, Mas?" Dian yang bertanya sambil mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Lalu Raka pun tersenyum dan mengelus kepala Dian dengan lembut sambil berkata.
"Inilah yang namanya keluarga! Kita akan saling bantu selama kita bisa membantu!"
Mendengar jawaban itu dari Raka, Dian tak kuat menahan air mata kembali dan Dian pun menangis.
Kemudian, Raka yang melihat Dian menangis itu langsung memeluk Dian dengan sangat perhatiannya.
"Entah Dian harus mengucapkan apa sama, Mas! Tapi yang jelas Dian sangat berterima kasih sekali, Mas!" Ucap Dian sambil menangis dalam pelukan Raka.
"Iya, sama-sama…" jawab Raka ringan sambil memeluk dan mengelus kepala Dian.
Kemudian Raka perlahan melepaskan pelukannya dan mulai memegang pipi Dian yang basah dengan air mata itu.
Secara perlahan Raka menyeka air mata Dian yang terbuang dengan sangat perhatiannya.
Lalu dengan lembut Raka bertanya.
"Bagaimana, kamu sudah siap bila besok Mas, kerumah kamu untuk melamar?"
Dian hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang dan memeluk Raka kembali.
"Dian siap, Mas! Apapun yang terjadi nanti, Dian akan menerima itu! Dan kedepannya, bila Mas dan Mbak Rani ingin menikah, Dian akan siap membantu! Ataupun nanti, Mas menceraikan Dian. Dian akan terima itu!" Ucap Dian sambil memeluk Raka dengan Erat.
Raka yang mendengarnya hanya tersenyum saja sambil kembali mengusap kepala Dian dengan lembut dan perhatiannya.
Setelah beberapa lama Dian memeluk Raka dengan eratnya karena rasa senang dicampur dengan wujud terima kasih yang sangat besar jadinya Dian membutuhkan waktu yang lama untuk memeluk tubuh Raka itu.
Raka yang mengerti kondisi Dian saat itu membiarkan hal itu terjadi karena, selain dia berusaha untuk menyakinkan Dian agar mau mengikuti rencana dari Rani.
__ADS_1
Raka juga berusaha agar tidak terlihat sedih dan seperti tidak ada yang memberatkan hatinya.
Namun, dibalik itu semuanya hatinya sangat hancur dan bertolak belakang dengan sikapnya itu.
Semua ia lakukan hanya untuk keinginan Rani, wanita yang ia sangat cintai itu.
Walaupun semuanya tak masuk akal namun ia tidak mau melihat bila kekasihnya itu sampai bersedih kembali.
Jadi, apapun itu ia akan tetap lakukan selama itu permintaan dari kekasihnya.
Dian perlahan melepaskan pelukannya dan mulai menyadari sesuatu dan itu membuatnya malu sendiri.
"Maaf yah, Mas!"
Ucap Dian yang menyadari bahwa tingkahnya sedikit berlebihan karena dia lupa, pernikahan nanti itu bukanlah karena cinta tapi karena niat membantu.
"Iya, tidak apa-apa! Yah sudah, sekarang kamu istirahat yah, besok kita akan kerumah orang tuamu!" Ucap Raka.
"Iya, Mas!" Sahut Dian dan langsung beranjak pergi dari tempat duduknya.
Saat ia membuka pintu, ia kembali berbalik badan dan melihat Raka yang sudah berdiri juga dari tempat duduknya dan sambil meraih sesuatu di atas meja yang ada di dalam kamarnya.
"Mas!" Ucap Dian.
Raka yang menoleh pun langsung menjawabnya.
"Iya!"
"Dian boleh peluk sekali lagi gak? Buat yang terakhir kalinya, Dian tahu walaupun kita menikah nantinya… tapi, itu 'kan hanya untuk membantu Dian saja! Pastinya, Mas gak mungkin memeluk Dian lagi!" Pinta Dian dengan khas kekonyolannya.
Raka hanya bisa tersenyum saja sambil menggelengkan kepalanya lalu ia pun membentangkan kedua tangannya, tanda mengiyakan permintaan dari Dian itu.
Lalu Dian pun tersenyum lebar kemudian berlari ke arah Raka dan langsung memeluk tubuh Raka dengan eratnya lagi.
Untuk menambah rasa senangnya Dian, Raka pun membalasnya dengan memeluk Dian dengan eratnya juga.
Didalam pelukan itu, Dian yang saking senangnya sampai mengeluarkan air matanya kembali dan berkata.
"Bila suatu saat nanti, Mas membutuhkan nyawa Dian, Dian dengan rela akan memberikannya, Mas."
Lalu Dian melepaskan pelukan itu dan berlari keluar kamar Raka tanpa melihat ke arah Raka lagi.
Raka yang mendengar perkataan Dian itu sedikit terkejut dan mulai kembali memasang wajah aslinya yang seperti dalam hatinya yaitu bersedih.
"Aku juga akan lakukan hal itu untuknya" batin Raka.
Kemudian, setelah Dian sampai di kamar Ratna. Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur bersama Ratna.
"Ada apa kamu dipanggil sama Mas Raka?" Tanya Ratna yang penasaran.
"Besok pagi aku ceritanya yah!" Jawab Dian.
"Oh, ya sudah kalau begitu, kita tidur yah!" Ucap Ratna sambil mematikan lampu tidurnya.
.
.
.
.
.
Di lain tempat,
Ryan yang baru saja tiba di tempat kosannya Rani.
"Maaf yah Mas!" Ucap Rani sebelum keluar dari dalam mobil.
"Iya, tidak apa-apa! Mas juga minta maaf yah, Mas sempat emosi tadi!" Sahut Ryan.
Lalu Rani pun keluar dari dalam mobil itu dan kembali berkata kepada Ryan.
"Mas, langsung istirahat yah, besok kita fokuskan dulu ke urusannya Dian. Setelah itu, baru kita bicarakan lagi yah, Mas!"
Ryan hanya menanggapinya dengan anggukan kepala saja.
Setelah Rani menutup pintu mobil dan berjalan memasuki kosannya, Ryan pun melanjutkan kembali laju mobilnya untuk kembali pulang.
.
.
.
.
.
🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻
__ADS_1
** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.
Terima kasih,😁🙏😁!