Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 41 "Dua Hari Sebelum Pernikahan"


__ADS_3

Lalu beberapa saat kemudian Rani mulai mengatakan sesuatu pada Raka.


"Mas… Apa Mas, masih tidak percaya sama Rani?" ucap Rani.


"Mas percaya sama kamu! Kenapa kamu mengatakan itu?" Tanya Raka dengan lembutnya pada Rani.


"Lalu bila Mas percaya sama Rani, kenapa Mas masih mencari tahu keinginan Rani?" Ucap Rani langsung yang begitu mengejutkan Raka.


Raka yang terkejut pun sontak mengalihkan pandangannya kembali dari wajah Rani sambil kedua tangannya menggenggam setir pada kemudi mobilnya.


"Mas… apa Mas, mencintai Rani?" Tanya Rani kembali sambil sedikit mengeluarkan air matanya.


Lalu akhirnya Raka menoleh kembali pada Rani dan saat Raka mengetahui Rani mengeluarkan air mata, Raka segera mencari keberadaan tisu yang biasanya terletak di dashboard mobil.


Saat Raka sedang panik mencari tisu, tangan Rani memegang bahu Raka yang langsung menghentikan pergerakan tubuh Raka dari kepanikannya.


"Mas! Rani menunggu jawaban dari, Mas!" Ucap Rani dengan tatapan sedihnya.


Raka yang langsung terdiam itu pun lantas mencoba kembali menatap wajahnya Rani yang berlinang dengan air mata.


Lalu perlahan tangan Raka menyentuh pipi Rani yang basah oleh air mata, kemudian menyeka nya secara perlahan air mata itu menggunakan ibu jarinya.


"Aku mohon sama kamu, jangan pernah menanyakan itu lagi padaku, Ran! Tanpa Mas jawab, Mas berharap kamu sudah mengetahui jawabannya. Bahwa, Mas ini benar-benar cinta sama kamu.


Dan kenapa Mas masih mencari tahu keinginan kamu, agar Mas bisa membuat kamu bahagia, Ran!


Karena, yang Mas tahu, pernikahan itu adalah sesuatu yang teramat sakral, dan moment yang seharusnya sangat berkesan untuk sepasang kekasih yang saling mencintai.


Tapi, kamu malah seakan-akan ingin menutupinya! Dan Mas belum tahu alasan pastinya, kenapa kamu berkeinginan seperti itu.


Apa kamu terpaksa mencintai Mas? Atau memang ada alasan lain yang mungkin Mas belum pahami, Ran!" Jelas Raka mengutarakan semua yang mengganjal di hatinya.


Lalu Rani meraih tangan Raka yang berada di pipinya kemudian menggenggamnya dengan kedua tangannya.


"Terima kasih banyak, Mas! Mas mau mencintai Rani! Tapi, Rani tidak sedikit pun pernah terpaksa atau merasakan dipaksa untuk mencintai, Mas!


Rani memang sungguh mencintai Mas, apa adanya! Dan untuk keinginan Rani, Rani menganggap itu adalah sesuatu yang bisa membuat Rani bahagia, Mas!


Tapi, bila keinginan Rani itu membuat beban untuk Mas… Rani akan merubah itu semuanya dan mengikuti sesuai keinginan, Mas!" Ungkap Rani dengan lirih.


"Tidak… tidak…" ucap Raka sambil menggelengkan kepalanya.


"Mas, minta maaf! Kita akan jalankan sesuai keinginanmu! Mas, ingin kamu bahagia!" Lanjut Raka.


Lalu mereka pun berpelukan untuk kedua kalinya selama hubungan mereka sampai detik ini.


"Sekali lagi… maafkan Mas yah! Yang tidak memahami kamu!" Bisik Raka dalam pelukannya.


Rani hanya menganggukkan kepalanya saja dalam pelukan Raka.


"Tidak Mas, justru Rani yang seharusnya meminta maaf sama Mas. Karena Rani tidak bisa jujur sama Mas untuk saat ini. Ini semua demi kebahagiaan Mas. Rani berharap, Mas dapat mengerti suatu saat nanti." Batin Rani.


Kemudian mereka saling melepaskan pelukannya masing-masing dan saling melemparkan senyum sambil sesekali menghapus air mata mereka masing-masing.


Lalu saat Raka hendak ingin melajukan mobilnya kembali. Rani tiba-tiba meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Ran?" Tanya Raka khawatir.


"Nggak apa-apa, Mas! Hanya pusing kepala saja, mungkin Rani kecapean!" Jawab Rani.


"Ya sudah, kita cari klinik terdekat saja yah!" Ucap Raka.


"Tidak usah, Mas! Kita ke apotek saja buat beli aspirin!" Sahut Rani.


"Jangan langsung minum obat, setidaknya kamu diperiksa dulu sama dokter!" Saran Raka.


"Tolong Mas! Apotek saja yah, Rani sudah biasa soalnya." Pinta Rani yang mencoba menutupi penyakitnya itu.


Malam ini, Rani memang sudah melewati jam untuk minum obatnya karena tidak bisa untuk meminum obatnya bila didepan Raka.


Akhirnya Raka mengikuti permintaan Rani.


Setelah mereka tiba di sebuah apotek Raka segera turun untuk membelikan obat yang dipinta Rani.


Saat Raka sudah memasuki pintu apotek itu Rani langsung membuka tas miliknya dan mengambil obatnya lalu ia genggam ditangannya.


Beberapa saat kemudian Raka keluar dari apotek tersebut sambil membawakan obat aspirin dan sebuah air mineral kemasan botol untuk Rani.


Lalu Raka mulai memasuki mobil dan memberikan obat aspirin tersebut pada Rani sambil membukakan tutup botol air mineral tersebut.


Kemudian Rani mulai membuka bungkusan obat aspirin tersebut dan mengeluarkan pil obat aspirin itu dari kemasannya, lalu Rani memasukan pil obat miliknya itu kedalam mulutnya.


Sedangkan pil obat aspirin yang dibeli oleh Raka tadi, Rani genggam bersama sampah plastik kemasan obat aspirin tersebut.


Raka, lantas memberikan botol air mineral tersebut untuk membantu Rani menelan obatnya.


"Bagaimana sudah baik 'kan?" Tanya Raka yang khawatir setelah melihat Rani mulai bersandar pada tempat duduknya.


Rani hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum dan memegang tangan Raka.


Raka yang mulai tenang pun kembali melanjutkan kendaraannya lagi untuk segera mengantarkan Rani pulang untuk beristirahat.


Dalam perjalanan, Raka sesekali memperhatikan Rani yang sedang tertidur pulas di tempat duduknya.


Setelah beberapa saat kemudian mereka pun sampai di depan kosannya Rani.


Raka mencoba secara perlahan untuk membangunkan Rani.


Setelah Rani terbangun, Rani langsung turun dari mobil Raka dan tersenyum manis seperti biasanya sambil mengatakan,


"terima kasih banyak yah, Mas."


Raka hanya membalasnya dengan senyuman sambil menganggukkan kepalanya lalu pamit pada Rani kemudian meninggalkan tempat itu dengan hati senang dan tenang setelah melihat Rani kembali sehat itu, pikir Raka.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Esok paginya,


"Pagi…." Sapa Raka pada Ratna.


"Pagi, Mas!" Sahut Ratna.


"Kok sendirian! Ryan mana?" Tanya Raka sambil mengambil roti yang ada meja makan.


"Sudah pergi duluan, Mas!" Jawab Ratna sambil meminum minumannya.


"Loh, kok gitu sih! Ada apa memangnya?" Raka bertanya kembali pada Ratna sambil memakan roti yang sudah dikasih selai itu.


"Tidak ada apa-apa! Dia hanya bilang ada urusan sebentar saja!" Jelas Ratna.


"Oh, gitu! Ya sudah!" Pungkas Raka


Lalu setelah sarapan mereka pun pergi bersama untuk ke kantor.


.


.


.


.


.


Di lain tempat….


Ryan berhenti di depan kosannya Rani lalu segera turun dari dalam mobil dan segera menuju ke kamarnya Rani.


"Ran… Ran… Rani!" Suara Ryan didepan pintu kamar kostnya Rani sambil sedikit menggedor pintu tersebut.


"Iya, tunggu!" Jawab Rani dari dalam kamarnya.


Setelah pintu itu terbuka, Rani langsung menyambut Ryan dengan senyum khasnya namun dengan wajah yang sedikit agak pucat.


Belum sempat Ryan bertanya atau membalas senyuman dari Rani itu, tiba-tiba Rani terjatuh lemas.


.


.


.


.


.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.

__ADS_1


Terima kasih,😁🙏😁!


__ADS_2