Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 47 Batalnya Pernikahan !


__ADS_3

"Dian akan gugurkan kandungan ini, Mas!" Ucap Dian dengan wajah yang tampak lelah dan mata yang begitu sembab.


Sontak semua yang ada tempat itu terkejut mendengarnya.


"Kamu gak boleh sembarang seperti itu, Dian!" Rani yang langsung ikut berdiri setelah mendengar ucapan itu dari Dian.


"Terus Dian harus bagaimana, Mbak! Dian tidak mungkin mengatakan pada orang tua Dian, Dian takut, Mbak!" Dian yang mengatakan sambil mulai menangis kembali dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Rani langsung merespon dengan memeluk tubuh Dian itu dengan penuh perhatiannya.


"Apa Dian harus bunuh diri saja, Mbak! Untuk menutupi aib ini" ucap Dian kembali dalam pelukan Rani.


"Hush, bicara apa kamu itu! Sabar… sabar kamu tenang dulu yah…" sahut Rani sambil mengelus punggung Dian.


Raka yang mendengar dan melihat sikap Dian itu kembali menurunkan emosinya dan mulai menyalakan rokoknya lagi.


Begitu pula dengan Ryan yang kini memilih untuk duduk dan mulai mencerna apa yang sedang dialami oleh Dian tersebut.


Ratna yang melihat kekasihnya ini duduk dan tampak mulai tenang itu, dia pun mulai mendekati Dian dan Rani yang sedang berpelukan itu dan ikut menenangkan Dian seperti yang dilakukan oleh Rani.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di lain tempat,


Terlihat seorang pria yang sedang duduk di salah satu sofa yang terlihat seperti di ruang tengah di dalam sebuah rumah yang cukup besar itu dengan kepala yang tertunduk malu.


Lalu ada seorang Pria paruh baya menghampiri Pria yang sedang tertunduk malu itu dengan wajah yang terlihat begitu emosi.


"Kamu itu bikin malu nama keluarga saja!" Ucap Pria paruh baya itu.


Lalu pria itu mengangkat kepalanya sambil memperlihatkan wajah penyesalannya.


"Maafkan Bobby, Yah! Bobby benar-benar khilaf melakukan itu, Ayah!" Ucap Pria itu kepada Pria paruh baya yang kini ada didepannya yang tidak lain adalah Ayahnya sendiri.


"Plaak…" wajah Pria itu yang tidak lain adalah Bobby menerima tamparan keras dari Ayahnya sendiri.


Bobby nampak menerima tamparan keras itu dari Ayahnya karena memang sudah melakukan sesuatu kesalahan yang besar dalam hidupnya.


"Sudah Pak, jangan emosi dulu ingat kesehatan Bapak!" Ucap seorang wanita tua yang duduk di salah satu sofa tersebut.


"Lagi pula, anak kita ini sudah jujur, Pak! Kita dengarkan dulu sampai habis, keputusan yang akan dia ambil!" Lanjut ucapan dari wanita tersebut yang tidak lain adalah Ibu dari Bobby.


Ternyata, Bobby memilih untuk pulang ke rumahnya setelah meninggalkan Dian sendirian di taman kota tersebut setelah mengetahui Dian hamil.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


Di rumah Raka,


Mereka berlima yang semenjak tadi masih berada di tempat favoritnya Raka. Masih mencari jalan keluar untuk permasalahan yang dialami oleh Dian.


Dian yang kini sedang tertidur disalah satu kursi di tempat itu yang memang untuk bersantai seperti dipantai terlihat pulas dengan wajah yang lelah dan mata yang nampak sembab tersebut.


Sedangkan keempat sahabatnya masih tidak habis pikir dengan apa yang sudah terjadi pada Dian saat ini.


"Kenapa sampai bisa seperti ini sih…" gumam Raka.


Ryan yang duduk tidak jauh dari Raka seolah memikirkan sesuatu.


Sedangkan Rani yang sedang menelepon pamannya karena harus menjelaskan bahwa mereka tidak bisa untuk datang tepat waktu dan meminta agar jadwalnya diundur kembali.


Ratna hanya duduk sambil merenungkan sesuatu.


Lalu tak lama datang Ibu Minah membawakan minuman untuk kelima sahabat itu.


Setelah Ibu Minah meletakkan minuman itu di meja, ia pun lantas kembali lagi masuk kedalam rumah.


"Ya sudah, Paman! Segitu saja dulu yah! Nanti Rani kabarin lagi bila akan berangkat ke sana. Terima kasih yah Paman!" Rani berbicara dengan Pamannya ditelepon.


"Maaf yah, Mas! Sepertinya kita harus undur acara kita dulu!" Ucap Rani pada Raka.


Raka yang semenjak tadi hanya duduk sambil merokok itu memang sedikit mendengarkan apa yang sedang dibicarakan Rani dengan Pamannya saat di telepon tadi.


"Iya tidak apa-apa! Lagi pula ini keinginan mu 'kan…" ucap Raka pada Rani sambil mematikan rokoknya lalu mengambil minumannya yang sudah berada di meja.


Rani hanya diam saja mendengar ucapan dari Raka dan memalingkan wajahnya ke arah Ratna yang sedang diam seolah memikirkan sesuatu.


Lalu Rani beranjak kembali dari tempat duduknya dan mulai menghampiri Ratna.


Ryan yang melihat Rani berjalan menghampiri Ratna, dia pun beranjak dari tempat duduknya lalu pindah tempat duduknya ketempat yang tadi diduduki oleh Rani.


"Bagaimana sekarang, Ka?" Tanya Ryan pada Raka.


"Entahlah, Yan!" Jawab Raka singkat sambil mulai menyalakan rokok barunya kembali.


Mendengar jawaban itu dari Raka, Ryan juga seolah tidak bisa berbuat banyak apa-apa, dan hanya mengeluarkan nafas kasarnya saja sambil mulai menyandarkan dirinya pada kursi yang ia duduki sambil memijit-mijit keningnya.


Raka yang melihat sekeliling tempat favoritnya itu melihat Dian yang sedang tertidur, Rani dan Ratna yang sedang duduk bersebelahan sambil membicarakan sesuatu, dan Ryan yang berada di depannya terlihat seperti sedang orang yang sedang sakit kepala.


Akhirnya dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu rumah.


Ryan yang melihat Raka beranjak dari tempat duduknya langsung bertanya….


"Mau kemana kamu, Ka?"


"Mandi!" Jawab Raka singkat dan berlalu meninggalkan tempat favoritnya itu.

__ADS_1


Rani yang sedang duduk bersebelahan dengan Ratna sambil membicarakan sesuatu, dan memperhatikan Raka yang berjalan ke arah pintu lalu melihat jam tangannya yang memang sudah menunjukkan angka jam 5 sore.


Tak lama berselang Ryan pun mulai beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu, namun kini ia dipanggil oleh Rani.


"Mas, tunggu!"


Lalu Ryan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rani.


"Bentar yah, Rat!" Ucap Rani pada Ratna sambil beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri ke arah Ryan.


"Ada apa?" Tanya Ryan setelah Rani menghampiri dirinya.


Lalu Rani sedikit menarik tangannya Ryan agar mau mengikutinya dan mulai berjalan memasuki rumah.


Ratna yang melihat itu hanya bisa memperhatikan saja kedua sahabatnya itu dari tempat duduknya sambil sesekali melihat ke arah Dian yang masih sedang tertidur pulas itu.


Lalu Ratna melihat jam tangannya yang sudah menunjukan jam 5 sore lewat 15 menit itu, kemudian Ratna juga mulai beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Dian yang sedang tertidur.


"Dian… Dian… bangun yuk! Kita mandi dulu yah…" ajakan Ratna.


Dian perlahan membuka matanya lalu mulai memposisikan duduknya dan melihat ke arah Ratna.


"Ini sudah jam berapa, Rat?" Tanya Dian.


"Jam 5, kita mandi dulu yuk!" Jawab Ratna.


Dian hanya menganggukkan kepalanya lalu mulai beranjak dari tempat duduknya yang dibantu oleh Ratna.


Lalu mereka berdua berjalan bersama memasuki rumah.


Saat mereka berdua ingin menuruni tangga, Ratna melihat Rani dan Ryan yang sedang duduk berhadapan sambil membicarakan sesuatu.


"Kamu sudah bangun, Dian?" Tanya Rani yang melihat Ratna dan Dian berjalan bersama menuruni anak tangga.


"Iya, Mbak!" Jawab Dian.


Lalu Rani beranjak dari tempat duduknya dan menunggu Ratna dan Dian dibawah tangga.


"Dian mau mandi dulu, Mbak!" Ucap Ratna saat sudah sampai lantai satu dan tepat didepan Rani.


"Oh, ya sudah kalau begitu! Mbak buatkan kalian makanan dulu yah!" Sahut Rani.


Lalu Dian dan Ratna pun kembali berjalan dan memasuki kamar Ratna.


Rani yang masih berdiri melihat kondisi Dian itu tadi, tiba-tiba dihampiri oleh Ryan yang sudah beranjak dari tempat duduknya sambil berkata...


"Aku tidak setuju pokoknya dengan rencana mu itu!"


Kemudian Ryan pergi menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya meninggalkan Rani sendiri di tempat itu.


.


.


.


.


.


.


🌻🏵️🌸🌺🌷🥀🌹🌼🌹🥀🌷🌺🌸🏵️🌻

__ADS_1


** Hai readers, ini karya pertama ku. Benar² yang pertama. So please kritik dan saran kalian selalu ku nanti. Jangan lupa 👍 like kalian juga ku nanti.


Terima kasih,😁🙏😁!


__ADS_2