Cinta Sang Istri

Cinta Sang Istri
Episode 34


__ADS_3

Rani pun terkejut mendengar kalimat itu dari Raka.


Lalu Rani pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Raka yang memang tidak jauh darinya.


Kemudian Rani agak sedikit membungkukkan badannya lalu memegang wajah Raka agar lurus dengan wajahnya.


Akhirnya wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup sangat dekat.


"Jadi seperti ini, kalau seorang Raka cemburu…." Ucap Rani dengan tatapan yang dalam ditambah dengan senyum khasnya.


Raka yang pertama kalinya melihat wajah Rani dari jarak sedekat itu pun hanya bisa diam saja sambil menelan saliva nya.


Karena Rani tahu kalau Raka ini sangat grogi bila dekat dengannya apalagi saat di goda atau di rayu, itu sudah pasti membuat Raka keringat dingin jadinya.


Lalu Rani pun tertawa kecil dan mulai menegakkan kembali tubuhnya.


"Tunggu yah, Mas! Rani buatkan dulu!" Rani berucap dengan sangat lembutnya ke Raka.


Lalu mulai berjalan kearah pintu meninggalkan Raka sendiri disana.


"Huuuhh…." Suara nafas kasar Raka yang sedikit bisa ia keluarkan atas kejadian tadi.


'Andaikan aku punya keberanian yang seperti biasanya… tapi kenapa aku itu bodoh sekali sih! Bila di depan dia…' batin Raka.


Lalu Raka pun segera pergi dari sana untuk ke kamarnya untuk sekedar mandi dan berganti pakaian karena semenjak ia datang bersama Dian. Raka hampir tidak sempat untuk memikirkan itu karena masalah yang tiba-tiba saja terjadi.


Beberapa waktu kemudian Raka yang sudah mandi dan berganti pakaian itu pun kembali lagi ke tempat favoritnya itu sambil membuka sebungkus rokok yang masih baru.


Lalu Raka pun duduk kembali di kursi yang memang berada disana hanya saja untuk saat ini kursi itu iya luruskan kembali agar dapat memandang lurus ke arah danau berada.


Tak lama berselang Rani pun datang dengan membawa nampan yang berisikan 2 mangkuk mie rebus dan 2 gelas teh manis dingin.


"Mas, ini mienya sudah matang! Rokoknya dimatiin dulu yah!" Ucap Rani yang sambil menaruh nampan di meja yang berisikan makanan dan minuman untuk mereka berdua.


Lalu Raka pun segera menuruti permintaan dari Rani. Ia segera mematikan rokoknya yang belum lama ia nyalakan itu dan langsung mengambil mangkuk yang berisikan mie rebus itu.


"Hati-hati masih panas, Mas!" Seru Rani pada Raka.


Lalu Raka pun langsung menyantap mie rebus itu dengan lahapnya seakan-akan tidak memperdulikan ucapan dari Rani itu.


Rani yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum manis melihat kelakuan Raka.


Hitungan menit Raka sudah menghabiskan mie rebus itu beserta kuahnya sedangkan Rani baru saja beberapa suapan.


"Kamu lapar, Mas?" Tanya Rani dengan raut wajah bingung karena tidak biasanya Raka serakus itu.


"Iya, maaf yah!" Jawab Raka singkat sambil mengambil minumannya.


"Oh iya, tadi Mas belum sempat makan yah!" Ucap Rani karena baru teringat sesuatu.


"Tidak, tadi sebelum kesini, Mas makan dulu sama Dian karena kasihan melihat wajahnya yang cemberut terus. Eh… ternyata memang lagi ada masalah!" Jelas Raka lalu menyalakan rokoknya.


"Oh, sudah makan yah…." Ucap Rani dengan nada yang sedikit menggoda Raka untuk membalasnya.


"Uhuk… uhuk…" Raka batuk dengar ucapan itu dari Rani.

__ADS_1


"Bukan begitu! Maksudnya Mas…." Ucapan Raka terhenti saat melihat Rani menaruh mangkoknya dimeja yang masih tersisa makanannya yang cukup banyak itu.


Lalu Rani pun meminum minumannya lalu mulai bersandar di kursinya sambil bersedekap.


"Terus, maksudnya gimana!" Ujar Rani yang berpura-pura seakan dia marah sama Raka.


Raka yang melihatnya malah menjadi salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


Karena kelakuan Raka itu… akhirnya Rani tidak kuat menahannya dan Rani pun tertawa lepas melihat kekasihnya yang kebingungan dan juga cemas itu.


"Kok kamu ketawa sih!" Raka berucap dengan ekspresi bingungnya karena melihat Rani yang tertawa lepas itu.


"Aduh… aduh… kamu lucu, Mas! Kalau sedang panik!" Rani coba berbicara dalam tawanya itu lalu tertawa lagi.


Raka yang melihat itu langsung membuang rokoknya dan berdiri dari tempat duduknya kemudian menghampiri Rani.


"Oh… jadi kamu ngerjain, Mas yah! Awas yah kamu!" Ucap Raka sambil menghampiri Rani lalu menggelitik Rani.


"Ampun, Mas… ampun…" Rani berucap namun tetap saja ia masih tidak bisa menahan tawanya.


Dan Raka yang terus menerus menggelitiknya Rani sampai akhirnya mereka jatuh bersama. Rani yang terjatuh dari kursinya menarik tangannya Raka karena sedang menggelitiknya.


Lalu mereka pun terdiam sesaat setelah jatuh karena posisi Rani yang berada tepat di bawah badannya Raka.


Wajah mereka kini kembali dekat lagi namun begitu juga tubuh mereka yang sangat rapat itu.


Raka yang menatap dalam mata Rani yang sangat indah itu… begitu pula dengan Rani yang menatap Raka penuh dengan cinta itu…


Lalu sesaat mata Rani pun terpejam menandakan kepasrahan dia untuk Raka. Namun tanpa disangka Raka malah merebahkan badannya dan menjadi tiduran, tepat disamping Rani.


"Maaf yah! Mas belum bisa untuk sekarang!" Ucap Raka yang menyadari dirinya sedang ditatap oleh Rani.


"Iya tidak apa-apa, Mas! Justru Rani terima kasih sama, Mas! Karena mau menjaga Rani!" Balas Rani kepada Raka dengan senyum manisnya.


"Ya sudah yuk! Kita masuk! Sudah mulai dingin banget nih, nanti kamu sakit lagi!" Raka berkata sambil bangun dari posisi tidurnya lalu berdiri.


Kemudian Rani pun mengikuti Raka berdiri sambil dibantu oleh Raka.


"Itu mienya masih banyak! Tidak dihabiskan?" Tanya Raka.


"Tidak, Mas! Rani sudah kenyang!" Jawab Rani.


Lalu mereka pun berjalan bersama menuju pintu rumah.


"Oh iya Ran! Dian 'kan sedang menginap di kamar Ratna, sedangkan kamar kosong lainnya belum dibersihkan, kamu tidur di kamar, Mas saja yah!" Pinta Raka.


Rani tidak langsung menjawabnya dan hanya menoleh ke arah Raka yang sedang berjalan bersama dirinya.


"Tenang! Mas, tidur disofa saja!" Raka berucap kembali karena Rani yang melihat ke arahnya dan takut salah paham.


Rani pun hanya menanggapinya dengan tersenyum saja.


Lalu mereka berdua pun masuk kedalam kamarnya Raka lalu Raka mengambil selimut baru dari dalam lemarinya dan salah satu bantal di ranjangnya untuk dipakainya tidur di sofa nanti.


Namun Rani pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Raka. Dan itu membuat Raka bingung.

__ADS_1


"Kenapa kamu ikutan juga?" Tanya Raka yang sedikit keheranan dengan ulah Rani.


"Kita tidur sekamar belum boleh, Mas! Tapi 'kan kalau di sofa boleh dong! 'kan berjauhan tidurnya pasti!" Jelas Rani.


Raka yang tadinya mengerutkan dahinya karena heran sekarang Raka tersenyum karena memang benar apa yang dikatakan oleh Rani itu.


"Tapi beneran, kamu tidak apa-apa! Bila tidur di sofa?" Tanya Raka kembali untuk memperjelas niatnya Rani itu.


"Mas saja tidak apa-apa! Masa, Rani nggak sih! Ayo!" Sahut Rani lalu berjalan keluar kamar Raka.


Raka yang melihatnya hanya tersenyum saja.


Lalu akhirnya mereka pun tidur di sofa.


Pagi harinya….


Ratna yang keluar dari kamarnya seperti hari kemarin sebelumnya dia langsung melihat lantai 2 kearah pintu kamar Raka untuk memastikan bahwa pintu itu tertutup rapat.


Lalu Ratna berjalan pelan-pelan dan hendak menaiki anak tangga itu untuk menuju kamarnya Raka. Namun saat hendak naik dirinya dikejutkan oleh Rani yang memanggil namanya.


"Rat! Kamu mau kemana?" Tanya Rani yang mengejutkan Ratna.


Ratna yang terkejut pun langsung menoleh ke arah sofa di ruang tengah tersebut.


"Eh, Mbak, tidur di sofa?" Tanya Ratna balik kepada Rani.


Rani hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum. Lalu Ratna pun menghampirinya dan dikejutkan kembali saat melihat Raka yang masih tertidur di sofa yang arahnya menghadap Rani.


"Kalian tidur disini!" Ucap Rani dengan wajah takjubnya.


"Iya, kamu mau bangunin, Mas Raka 'kan, bangunin saja!" Ucap Rani.


"Yah 'kan sudah ada, Mbak! Mbak saja yang bangunin!" Timpal Ratna.


"Gak apa-apa! Bangunin saja, saya mau mandi dulu yah!" Ucap Rani sambil berdiri lalu berjalan menuju kamarnya Ratna.


Ratna akhirnya duduk sebentar di sofa yang tadi Rani tidurin. Sambil memperhatikan wajah Raka yang sedang tertidur pulas itu. Lalu pikirannya pun melayang.


'kau itu sungguh lelaki yang baik, Mas. Aku sampai tak habis pikir kalian bisa-bisanya tidur bersama di sofa. Pastinya kamu 'kan yang ingin tidur di sofa karena tidak mungkin kamu menyuruh, Mbak Rani untuk tidur di sofa.' batin Ratna dalam lamunannya.


Namun tanpa sangka Ryan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ratna. Ryan melihat Ratna yang sedang senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan Raka yang sedang tertidur di sofa itu.


"Eh, Mas Ryan! Mas, sudah selesai yah! Boleh Rani numpang mandi di kamar, Mas! Soalnya, Dian sedang mandi!" Ujar Rani dengan suara sedikit agak kencang itu menyadarkan Lamunan Ratna dan mengalihkan pandangan Ryan.


"Oh, iya! Pakai saja, Ran!" Jawab Ryan sambil menutup pintu kamarnya dan menuju lantai dasar yang mana Ryan akan bersiap untuk sarapan.


Karena kebiasaan Ryan yang bangun pagi itu jadinya dia yang memang selalu pertama bangun dan bersiap untuk pergi ke kantor.


Kejadian tadi memang saat Ryan yang baru saja keluar dari kamarnya lalu berhenti setelah melihat Ratna.


Begitu juga dengan Rani yang baru saja keluar dari kamarnya Ratna karena kamar mandi Ratna ada Dian yang sedang mandi.


Lalu melihat Ryan yang berdiri mematung dengan pandangan lurus ke ruang tengah karena Rani merasa curiga maka Rani pun berjalan pelan-pelan untuk melihat apa yang sedang dilihat oleh Ryan.


Rani pun sedikit terkejut saat melihat Ratna yang sedang senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan Raka yang sedang tidur itu.

__ADS_1


Namun karena Rani bisa mengontrol kesadarannya, akhirnya Rani pun berusaha untuk mengalihkannya dengan suara yang agak keras sedikit dengan tujuan agar Ratna ataupun Ryan tersadar dari lamunan sesaatnya itu, namun dengan cara yang wajar agar mereka tidak saling curiga.


__ADS_2