
"Hey... hey... hello!" ucap Ryan sambil mengibaskan tangannya ke wajah Raka yang tiba-tiba terdiam seolah memikirkan sesuatu.
"Eh, maaf Yan!" sahut Raka yang sedikit terkejut.
"Jangan bilang, kalau ucapan tadiku itu benar yah?" tegas Ryan untuk memastikan kepada Raka.
"Iya, Yan! Maaf... aku memikirkan hal itu!" jawab Raka sambil menundukkan kepalanya.
"Yah salam..." ucap Ryan sambil menepuk dahinya.
"Itu suatu masalah yang berbeda, Ka! kamu gimana sih?" ucap Ryan yang sedikit agak kesal dengan pemikirannya Raka.
Raka masih saja terdiam sembari menundukkan kepalanya...
"Gini yah, Ka! jatuhnya, kalau kamu sama Rani itu berbeda halnya dengan Ratna atau siapapun juga yang sudah kamu bantu!" ucap Ryan yang mencoba menjelaskan, bahwa prinsipnya Raka tidak harus semuanya dianggap sama.
"Tapikan, sekarang saya sudah tahu... Bagaimana, penderitaan atau masalah yang dialami oleh Rani...
Jadinya saya sedikit ada rasa ingin membantunya untuk meringankan bebannya Yan!" ucap Raka dengan kepala yang masih menunduk.
"Aduh… susah dah..." gumam Ryan sambil berpikir.
"Tapi, Ka! kamu kan, suka dahulukan, sama Rani! setelah kamu tahu tentangnya, baru Rasa ingin membantumu munculkan!
Jadinya itu tidak bertolak belakang dong, karena kamu punya rasa suka dahulu dari pada rasa ingin membantunya!
beda dong berarti? hayooo..." ucap Ryan sambil menyemangati sahabatnya itu karena prinsipnya salah kali ini.
Raka mulai mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sahabatnya itu sambil tersenyum dan berkata...
"kamu, memang tidak mudah menyerah yah!"
"Iyalah, aku kan sahabatmu!" jawab Ryan sambil tersenyum dan mengangkat-angkatkan alisnya tanda menggoda sahabatnya itu.
"Yah sudahlah, aku pikirkan dulu yah! Kita tidur yuk! kepalaku sudah pusing nih!" ucap Raka sambil berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu rumah.
"Yaelah... Cinta pake prinsip sih... pusing dah akhirnya! hahaha..." celetukan Ryan sambil menyusul Raka.
Dan obrolan malam itu pun berakhir dengan Raka yang masih saja memikirkan masalah prinsip hidupnya dan cintanya.
Tibalah keesokan harinya seperti biasanya Ratna yang mencoba membangunkan Raka...
"tok… tok… tok..." suara pintu kamarnya Raka yang diketuk oleh Ratna.
"Mas… Mas Raka!" ucap Ratna yang mencoba memanggil sambil membuka pintu karena belum ada jawaban dari Raka.
Setelah pintu dibuka ternyata Ratna melihat Raka yang sudah membuka matanya tapi masih dalam posisi tiduran dan tidak merespon kehadirannya.
__ADS_1
Akhirnya Ratna mencoba mendekati Raka dan menanyakannya...
"Mas, sakit?" tanya Ratna dengan keraguan.
"Tidak, Rat!" jawab Raka sambil menoleh ke arah Ratna yang sedang berjalan ke arahnya.
"Terus, kenapa Mas! seperti melamun begitu!" Ratna mencoba menanyakan kembali sembari berdiri di dekat Raka.
"Duduk sini, Rat!" ucap Raka sambil ngasih tanda kekasurnya agar Ratna duduk di sampingnya.
"Ada apa, Mas? cerita saja, pada Ratna, Mas!" ucap Ratna dengan perhatiannya sambil duduk disamping Raka yang masih dalam posisi tidur terlentang.
"Rat… Mas, mau tanya ke kamu! bagaimana jadinya, bila sebelum kamu mengenal Ryan.
Mas, mengatakan cinta padamu, Rat!
kira-kira, kamu akan menjawab apa, Rat?" tanya Raka yang sedikit membuat Ratna bingung.
"Mungkin, Ratna akan menjawab 'IYA', Mas!" jawab Ratna dengan malu dan bingung ada apa dengan Raka saat ini.
"Kenapa, kamu akan menjawab 'IYA', Rat?" Raka menanyakan lagi pada Ratna.
"Mungkin, itu jawaban yang terbaik, Mas!" jawab Ratna dengan perasaan yang tak menentu dan pikiran yang macam-macam.
"Berarti, kalau itu jawaban yang terbaik, sama saja dengan terpaksa dong!" tanya Raka kembali.
"Tolong, jawab saja, Rat! Mas hanya mau, tau saja apa jawaban mu! Mas, tidak bermaksud apa-apa!" ujar Raka.
"Maaf yah, Mas! Ratna juga tidak bisa menjelaskannya secara rinci, hanya saja bila Ratna menjawab 'IYA' bukan berarti itu terpaksa, mungkin lebih tepatnya berterima kasih!
Karena kan, Mas tau... Hutang budi itu tidak bisa dibayar! Apalagi Ratna yang saat itu benar-benar hutang nyawa sama, Mas!
Mungkin, jawaban 'IYA' itulah yang terbaik buat Ratna, Mas" jawab Ratna yang mencoba menjelaskan pada Raka.
"Masalah itu, Mas paham Rat! makanya Mas, pernah bilang sama kamu, jangan pernah merasa punya hutang apapun sama, Mas!
Mas membantu kamu yah karena Mas, hanya mau membantu saja Rat! tidak lebih dari itu! walaupun, kamu masih berusaha untuk membalasnya.
Mas sudah cukup, kamu jadi dirimu saja untuk membalas semua kebaikan, Mas! itu saja sudah cukup, buat Mas!" ujar Raka.
"Iya, mas! Ratna, sudah paham sekarang bagaimana prinsip, Mas! Tadikan, Mas tanya ke Ratna.
Bagaimana bila Mas mengatakan cinta pada Ratna! yah itu jawaban terbaiknya adalah 'IYA', Mas!" Ratna mencoba menjelaskan kembali kepada Raka.
"Mas, bingung nih Rat! Bagaimana kamu bisa Bilang 'IYA' sedangkan kamu tidak terpaksa! Okelah, kalau kamu mau menjawab sebagai Rasa terima kasihmu.
Tapi, yang Mas tanyakan sebenarnya adalah, bagaimana dengan cintanya Rat!
__ADS_1
Bukankah itu berarti, secara tidak langsung kamu dipaksa untuk mencintai saya, Rat!" Raka menjelaskan pertanyaannya pada Ratna.
"Kalau soal Cinta, Ratna juga bingung, Mas! jujur, Ratna juga sempat memikirkan hal itu…
Tapi saat kita di pantai saat itu, Mas Ryan bilang pada Ratna agar mencoba untuk belajar mencintai, Mas..." pelan-pelan akhirnya Ratna mengatakan semuanya tentang apa yang pernah ia rasakan dahulu pada Raka.
Mendengar penjelasan dari Ratna, Raka terdiam sesaat...
"Belajar mencintai..." gumam Raka.
"Berarti kalau begitu, Rat! Seandainya, kamu tidak mempunyai hutang apapun pada Mas!
kamu, pastinya akan menjawab 'TIDAK', dong!" ucap Raka dengan nada sedikit agak senang karena dia mulai menyadari jawaban untuk cintanya pada Rani.
"Mungkin, Mas! tapikan, kalau mas tidak membantu Ratna, Ratna juga tidak akan kenal dong sama, Mas!" jawab Ratna dengan nada heran.
"Mas, tidak bertanya ke situ! " ucap Raka sambil bangun dari posisi tidurnya lalu mencubit pipinya Ratna.
"Aww... Sakit tau, Mas! terus, Mas menanyakan apa sih! bingung deh,Ratna!" ucap Ratna dengan wajah yang bingung sambil menggosokkan tangannya ke pipinya yang merah karena dicubit oleh Raka.
Raka yang bergegas berdiri itu lalu mengajak Ratna juga untuk berdiri.
"Malam ini! Mas, sudah memutuskan, untuk mengatakannya langsung, pada Rani!" Raka berkata sambil memegang dua tangan Ratna.
"Mbak Rani... ohh… jadi... dari tadi, Mas bingung masalah itu yah?" ucap Ratna yang baru menyadari sesuatu.
"Bukan dari tadi, tapi dari semalam! hahahaha...". ucap Raka yang begitu senangnya.
"Aduh... Susah juga yah, punya kakak seperti ini ternyata! Makanya, urusan cinta yah cinta saja! Jangan, dicampuri dengan masalah prinsip hidup, yang bikin susah diri sendiri!" Perkataan Ratna yang mulai lega dengan apa telah terjadi.
"Bodo… weee..." Raka menggoda Ratna dan mengajaknya untuk melompat-lompat.
Ratna Pun tertawa bahagia melihat Raka yang begitu senangnya dan dia pun akhirnya ikut melompat-lompat.
"Ada apa nih? kok, kelihatannya pada bahagia begitu!" ucap Ryan yang tiba-tiba dari arah pintu sambil tersenyum melihat kegembiraan Raka dan Ratna.
Raka dan Ratna Pun sedikit terkejut lalu menghentikan lompatannya dan menoleh kearah pintu.
"Sini… sini, Mas!" ucap Ratna kepada Ryan sambil melambaikan tangannya.
Ryan Pun akhirnya berjalan ke arah mereka berdua.
"Nanti malam, Mas Raka, akan mengatakan cintanya, Mas!" ucap Ratna dengan senangnya.
"Oh yah, beneran itu, Ka?" jawab Ryan seakan tak percaya tapi senang sambil menoleh ke arah Raka.
Raka seperti biasanya hanya tersenyum saja tanpa menjawabnya.
__ADS_1
Ryan Pun akhirnya memeluk sahabatnya itu lalu Ratna Pun ikutan memeluk. Mereka bertiga berpelukan dengan wajah yang sangat senang.