Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 21. MENCARI TAHU


__ADS_3

Kanaya menggeliatkan tubuhnya ketika mendengar suara yang cukup mengganggu tidurnya, perlahan ia membuka mata melihat jam dinding yang menunjukkan masih pukul 5 pagi. Ia menoleh kearah sofa, tak ada sosok suaminya lagi yang berbaring disana.


Ketika suara itu kembali terdengar dengan jelas di telinganya, dengan cepat Kanaya bangkit dari pembaringan dan segera turun dari tempat tidur lalu berlari menuju kamar mandi.


Hoek... Hoek... Hoek...


Kanaya mematung di depan pintu kamar mandi, melihat Keenan sepagi ini sudah memuntahkan semua isi perutnya.


Atas rasa inisiatif dan perikemanusiaan, Kanaya berjalan masuk ke kamar mandi dan membantu Keenan dengan memijat tengkuk suaminya itu.


"Kanaya," Ucap Keenan dengan terbata karena terus muntah-muntah.


Kanaya hanya diam saja dengan terus memijat tengkuk suaminya.


Beberapa detik masih belum ada perubahan, Kanaya pun segera berlari kembali masuk ke kamar. Mengambil minyak angin dan segelas air putih.


Dengan cekatan, Kanaya membalurkan minyak angin itu ke tengkuk Keenan hingga ke bagian leher dan dada. Setelah beberapa saat Keenan pun akhirnya berhenti muntah namun sesekali masih merasa mual.


Kanaya pun memberikan air minum pada suaminya.


"Kanaya, terima kasih." Ujar Keenan kemudian mengembalikan gelas yang sudah kosong itu pada istrinya.


Kanaya mengangguk, iapun turut lega melihat Keenan sudah berhenti muntah-muntah. Namun, tak lama kemudian ia kembali dibuat panik ketika Keenan kembali memuntahkan air yang baru saja masuk ke perutnya.


Tak bisa di pungkiri, Kanaya benar-benar merasa kasihan melihat Keenan seperti ini. Setelah yakin jika Keenan tidak akan muntah lagi, iapun membantu memapah tubuh suaminya itu masuk kedalam kamar. Dengan perlahan Kanaya membaringkannya di tempat tidur kemudian menarik selimut menutupi tubuh suaminya.


"Terima kasih, Kanaya." Ucap Keenan.


Dan lagi-lagi Kanaya hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Ini masih gelap, ayo kita tidur lagi." Ajak Keenan, namun istrinya itu hanya bergeming ditempatnya berdiri.


Melihat istrinya hanya diam saja, Keenan bangkit dari pembaringan, ia berpikir Kanaya diam saja karena tidak mau tidur seranjang dengannya.

__ADS_1


"Baiklah, tidurlah disini, biar aku pindah ke sofa."


Baru Keenan akan turun dari tempat tidur, Kanaya lebih dulu mencegahnya.


"Tidak, tidurlah disini. Sebenarnya Aku sudah tidak bisa tidur lagi. Sekarang Aku akan ke dapur membuatkan mu bubur."


"Tidak usah, Kanaya. Tidurlah juga, jam segini Mama pasti sudah ada di dapur. Nanti Mama akan marah melihatmu ke dapur."


Kanaya tersenyum miring mendengar ucapan Keenan. Mana ada mertua yang marah bila melihat menantunya pergi ke dapur, justru mertua akan marah jika menantunya bermalas-malasan pergi ke dapur.


Karena tidak ingin berdebat, Kanaya pun akhirnya naik ke tempat tidur. Namun ia tidur dengan posisi membelakangi suaminya itu.


Meskipun begitu tetap membuat Keenan senang, karena istrinya itu sudah mau berdekatan dengannya. Dan Keenan berharap semoga seiring berjalannya waktu Kanaya bisa menerima dirinya seutuhnya sebagai suami.


.


.


.


Sekitar satu jam menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga.


Arland cukup terkejut melihat kedatangan Damar di perusahaannya, seingatnya hari ini tidak ada janji apapun.


Sebelum Arland bertanya ada apa Damar datang ke perusahaannya, Damar sudah lebih dulu mencetuskan kalimat yang membuatnya cukup terkejut.


"Pertemukan aku dengan wanita itu."


"Wanita?" Kening Arland berkerut dalam sehingga terlihat jelas lipatan tipis yang tersusun rapi. "Wanita yang mana?" Tanyanya.


"Wanita yang mencoba menjebak Bang Keenan." Jawab Damar dengan raut wajah yang datar. Sejak semalam setelah bertemu Kanaya dan Keenan, ia terus memikirkan wanita itu.


"Kenapa kau ingin bertemu dengannya? Dia tidak ada urusannya denganmu."

__ADS_1


"Jelas ada urusannya denganku, karena dia, Aku harus kehilangan wanita yang sangat Aku cintai." Ucap Damar, dan kali dengan sorot mata yang tajam.


Arland terkekeh, "Owh, Kau mendendam rupanya. Tapi Aku sarankan agar Kau tak mengotori tanganmu. Untuk urusan wanita itu biar Aku dan Keenan yang akan mengurusnya setelah Keenan sudah sehat."


"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, kalian terlalu lambat mengurus wanita itu, sekarang tolong beritahu Aku dimana tempat tinggalnya?" Tanya Damar dengan begitu menggebu.


"Oh ayolah, Damar. Kau duduk santai saja dan terima hasilnya. Lagipula Kau mau apa dengan wanita itu? Jangan bilang kau akan membalasnya dengan hal sama yang menimpa Kanaya? Damar, gunakan akal sehatmu."


Bukannya mendengar nasihat Arland, Damar malah menjadi kesal. Ia maju dan langsung menarik kerah kemeja Arland.


"Aku bilang, beritahu dimana tempat tinggalnya!" Sentak Damar.


Arland pun menjadi emosi, ia langsung menarik Damar menuju ruangannya. Mendorong Damar masuk sehingga Damar hampir saja tersungkur ke lantai.


"Jaga batasan mu, ini perusahaan ku! Kau ingin mempermalukan aku didepan karyawan ku, huh!" Sarkas Arland tak terima. Ini adalah pertama kalinya ia membentak Damar.


Sejenak, Damar pun tersadar dengan perbuatannya. Entah kenapa ia bisa marah hanya karena memikirkan wanita itu. Wanita yang tanpa sengaja telah menjadi dalang perpisahannya dengan Kanaya.


"Bang Arland, maafkan Aku." Ucapan Damar pun melemah, ia mengusap wajahnya lalu membawa dirinya duduk di sofa.


Arland pun juga mendudukkan tubuhnya di samping Damar, ia menepuk pundak Damar dengan pelan. Ia tahu apa yang dirasakan oleh Damar saat ini.


"Jika Kau berpikir ingin membalas wanita itu dengan cara yang sama, please Damar buang jauh-jauh pikiranmu itu. Jika kau melakukan hal yang sama Aku hanya khawatir nama besar Erlangga akan tercemar. Kita belum tahu apa motif wanita itu, bisa jadi untuk menghancurkan Erlangga."


Damar menundukkan kepalanya sembari memijit pelipisnya, "Tidak Bang Arland, sebenarnya Aku juga tidak tahu apa tujuanku ingin bertemu wanita itu. Aku juga tidak tahu kenapa sejak semalam Aku memikirkannya." Damar mengusap wajahnya dengan frustasi, meskipun ia sudah memutuskan untuk merelakan Kanaya. Namun, tetap saja hatinya belum sepenuhnya rela.


"Aku mengerti, kau marah padanya. Karena wanita itu Kanaya yang menjadi korbannya."


Beberapa saat hening suasana menjadi hening, baik Damar maupun Arland larut dalam pikirannya masing-masing. Dan tak lama kemudian Damar menegakkan tubuhnya lalu menatap Arland dengan lekat.


"Bang Arland, beritahu Aku dimana wanita itu tinggal. Aku janji tidak akan berbuat yang melampaui batas. Aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran atas perbuatannya itu. Kalian juga belum tahu kan apa motif wanita itu? Biar aku yang mencari tahu."


Arland berpikir sejenak, dan beberapa saat kemudian ia pun mengangguk lalu memberitahu alamat tempat tinggal wanita itu, dengan syarat agar Damar mengingat janjinya untuk tidak berbuat hal yang bisa merugikan dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah mendapatkan alamatnya. Damar pun bergegas pergi.


__ADS_2