
Rizal yang sedang membaca koran di balkon kamar, fokusnya teralihkan pada ponselnya yang berdering diatas meja. Ia lantas mengernyitkan dahi nya ketika melihat nomor penelpon yang berasal dari nomor telepon kantor polisi. Ia lantas mengangkat panggilan itu, mungkin saja polisi mau menginformasikan tentang kasus Zara, pikirnya.
Setelah mengangkat panggilan itu, Rizal benar-benar dibuat terkejut karena polisi memberitahukan bahwa Zara baru saja meninggal dunia. Zara mencoba melarikan diri dari tahanan dan tertabrak mobil saat polisi melakukan pengejaran.
Rizal langsung saja memutuskan sambungan telepon itu kemudian bergegas menuju rumah sakit yang telah diberitahukan oleh polisi. Semarah apapun dirinya pada Zara, ia tetap merasa kehilangan mendengar mantan istrinya itu telah meninggal dunia karena bagaimanapun juga Zara pernah mengisi hatinya dan pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Saat diperjalanan, Rizal menghubungi Vania memberitahukan bahwa Zara telah meninggal dunia.
Sama seperti Rizal, Vania pun turut merasa sedih dan kehilangan. Selama ini ia sudah menganggap Zara seperti ibu kandungnya sendiri. Meskipun Zara sudah dengan tega menculik dan membuatnya hampir dilecehkan tetapi tidak sedikitpun ia menaruh dendam di hatinya. Vania malah berdoa semoga pintu hati Zara terbuka dan berhenti membenci dirinya.
"Ada apa?" Tanya Damar yang melihat Vania tampak bersedih setelah menerima telepon dari papanya. Saat ini mereka masih berada di ruang perawatan Kanaya sedang makan siang bersama.
"Mama Zara meninggal, dia kecelakaan saat mencoba melarikan diri." Ujar Vania, ia mengusap sudut matanya yang berair.
Damar, Keenan dan Kanaya juga terkejut mendengar kabar duka itu. Mereka tidak menyangka jika akhir hidup Zara akan mengenaskan seperti itu.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makanannya, Vania pun berpamitan pergi ke rumah sakit dimana jasad Zara berada, dengan ditemani oleh Damar.
Setelah Vania dan Damar pergi, Keenan pun menghubungi papa dan mamanya memberi tahu tentang kabar duka itu.
Sesampainya di rumah sakit tersebut, Vania dan Damar langsung menuju kamar mayat.
Melihat kedatangan Vania, Rizal langsung memeluk putrinya, mereka berdua menangis didepan jasad Zara. Mengingat kebersamaan mereka dengan Zara selama ini.
Rizal pun meminta kepada polisi untuk memulangkan Zara kerumahnya sebelum dilakukan pemakaman. Selain itu, Zara juga sudah tidak punya siapapun lagi, papanya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu karena terkena serangan jantung saat perusahaannya mengalami kebangkrutan.
.
.
.
__ADS_1
"Mama yang tenang di sana ya, meskipun Mama Zara bukan Mama kandungku tapi aku sangat menyayangi Mama seperti Mama kandungku sendiri." Ucap Vania dengan terisak, air matanya tak hentinya mengalir memandangi foto Zara di atas pusara.
Rizal memeluk putrinya itu menenangkan, meskipun ia tidak menangis namun dari dalam hatinya ia benar-benar merasa bersedih dan kehilangan. Untuk yang kedua kalinya ia memakamkan wanita yang pernah mengisi hatinya.
Berbeda dengan Vino, meskipun Elza pernah menjadi bagian dari hidupnya, tetapi tidak ada sedikitpun kesedihan di hatinya saat ikut mengantarkan mantan istri pertamanya itu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Seluruh rasa di hati Vino telah mati untuk Elza sejak dulu saat wanita itu menghancurkan hati dan perasaannya hanya karena dendam kepada mamanya. Terlebih setelah beberapa tahun, Elza kembali muncul mengusik keluarganya.
"Mas, jangan seperti itu." Tegur Tania mengusap lengan suaminya yang nampak terlihat senang menatap pusara Elza.
"Dia memang pantas mati, sepanjang hidupnya hanya membuat kekacauan di mana-mana." Ucap Vino dengan lantang, ia sangat sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Namun, ia tidak tahu jika ucapannya itu membuat Vania dan papanya semakin merasa sedih. Sebenci itukah Vino kepada Zara?
.
.
.
__ADS_1
MAMPIR JUGA YUK KE KARYA OTHOR YANG SEDANG MENGIKUTI LOMBA, MOHON DUKUNGAN NYA YA 🙏