Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 24. MENCURI C!UMAN


__ADS_3

Mendapat kabar jika Damar tidak datang ke kantor dan nomornya tidak bisa dihubungi, mau tidak mau Keenan pun menguatkan tubuhnya yang lemah untuk pergi ke kantor karena ada klien penting yang akan datang untuk menandatangani kontrak kerjasama.


Kanaya pun turut ikut dengan alasan ingin memantau keadaan suaminya, meskipun sebelumnya Keenan sudah melarang namun tetap saja ia ingin ikut meskipun sebenarnya ia merasa enggan. Kanaya berharap, hari ini ia masih bisa bertemu Damar dengan ikut ke kantor.


Setelah urusannya dengan klien sudah selesai, Keenan menghampiri Kanaya yang menunggu di ruangannya.


Saat masuk kedalam ruangannya, ternyata Kanaya sedang tertidur di sofa. Keenan pun merendahkan tubuhnya bersimpuh di samping istrinya itu.


Memandangi wajah lelap Kanaya yang terlihat sangat menggemaskan saat tertidur membuat Keenan tersenyum.


Tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya istrinya, kemudian Keenan mendekatkan bibirnya melabuhkan ciuman singkat di kening Kanaya lalu turun ke bibir.


Dan ciuman ini adalah pertama kalinya selama ia menjadi suami Kanaya. Keenan terkekeh karena merasa sudah seperti pencuri, mencuri ciuman istrinya.


"Kanaya, aku ingin mengatakan sesuatu. Apa kamu akan percaya jika Aku bilang, Aku sudah jatuh cinta padamu. Dan asal kamu tahu, Kamu adalah wanita pertama yang membuat Aku jatuh cinta."


Keenan tersenyum miring, karena kalimat itu hanya berani ia ungkapkan disaat Kanaya tidak bisa mendengarnya. Ingin mengatakan langsung Kanaya pasti tidak akan percaya. Terlebih istrinya itu belum bisa menerima dirinya dan mungkin juga masih membencinya.


Keenan dengan betahnya terus memandangi wajah Kanaya, karena hanya disaat Kanaya tertidur lah ia bisa memandangi wajah istrinya dengan sepuasnya.


Melihat belum ada tanda-tanda Kanaya akan bangun, Keenan pun mengulurkan tangannya mengusap perut Kanaya, juga sesekali mengecup perut yang masih rata itu.


"Sayang, tumbuh yang sehat ya didalam perut Mama. Maaf karena Kamu hadir dengan cara seperti ini, Papa tidak sengaja melakukannya. Tapi Papa akan sangat menyayangimu dan Mamamu juga. Papa akan selalu menjaga dan menyayangi kalian berdua."


Beberapa saat kemudian akhirnya Kanaya bangun, dengan cepat Keenan beranjak dan segera pergi duduk di kursi kebesarannya. Kanaya akan marah jika melihatnya berada dekat istrinya itu.


"Kamu sudah bangun, apa Kamu lapar?"


Bukannya menjawab, Kanaya malah balik bertanya yang membuat hati Keenan mencelos.


"Apa Bang Damar sudah datang?" Tanya Kanaya sembari beranjak bangun.


"Belum, apa kamu ingin bertemu dengannya?" Tanya Keenan dengan mengulas senyum tipis meskipun hatinya terasa perih.


"Tidak, Aku hanya bertanya." Jawab Kanaya, dan tentunya ia berbohong karena tujuannya ikut ke kantor karena memang ingin bertemu Damar.


"Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali tapi nomornya tidak bisa dihubungi" Ujar Keenan.


"Mungkin dia sedang menenangkan diri, tidak mudah merelakan orang yang kita cintai bersama orang lain." Ucap Kanaya seolah ia lupa berbicara dengan siapa.


Keenan tersenyum miris, dadanya benar-benar terasa sesak.


"Apa kau lapar? Aku akan pesan makanan." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Tidak usah, nanti makan dirumah saja." Ujar Kanaya.


"Baiklah kalau begitu sekarang kita pulang, urusanku juga sudah selesai."


.


.


.


"Aku minta maaf, karena kedatangan ku hari ini Kau jadi tidak bisa melihat Papa mu hari ini." Ujar Damar.


"Tidak masalah, masih ada hari esok. Tapi kedatangan mu hari ini membuat Aku sedikit lega karena akhirnya beban yang aku simpan sendiri bisa aku ungkapkan dengan bebas."


"Ini lucu, tadinya Aku ingin balas dendam padamu tapi Aku malah jadi pendengar yang budiman." Kekeh Damar. "Apa kau perlu bantuan?" Tanyanya.


"Bantuan apa?"


"Siapa tahu kau ingin balas dendam pada Mama sambung mu."


"Tidak perlu, asalkan Papa ku bahagia saja itu sudah lebih dari cukup. Lagi pula Aku takut dia akan benar-benar nekat mencelakai Papa jika tahu aku akan membalasnya."


"Kau baik hati sekali."


Wanita murahan!


Kalimat yang membuat hatinya teramat perih.


"Apa aku boleh tahu siapa nama mu?" Tanya wanita itu kemudian.


"Damar Pratama, panggil saja Damar." Jawab Damar sambil tersenyum tipis. "Jika Kau tidak keberatan silahkan sebutkan nama mu juga." Lanjutnya.


"Vania Wirawan, tapi panggil saja Vania atau Vani, seperti yang sudah aku ceritakan aku sudah tidak bisa menggunakan nama belakang Papa ku lagi." Jawabnya dengan sendu.


"Jangan sedih, suatu saat Papa mu akan tahu kebenarannya dan Kamu akan kembali pada Papa mu." Ucap Damar mencoba menghibur.


Vania tersenyum, "Terima kasih." Ujarnya.


"Ngomong-ngomong, nama mu hampir sama dengan nama Mama ku, Vani Erlangga."


"Oh ya?"


Damar mengangguk.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, kini giliran Damar yang terkejut saat tatapannya tertuju pada jam dinding. Waktu menunjukkan hampir jam dua belas siang.


"Astaga, Aku lupa. Bagaimana ini?"


"Damar, ada apa?"


"Aku lupa jika hari ini akan ada klien yang datang ke kantor untuk menandatangani surat kontrak kerjasama." Jawab Damar, ia mengeluarkan ponselnya dan ternyata ponselnya mati, pantas saja sejak tadi tidak ada yang menghubunginya.


"Lalu sekarang bagaimana?"


"Aku juga tidak tahu. Vania, maaf sekarang Aku harus pergi." Damar beranjak dari atas lantai begitupun dengan Vania.


"Baiklah hati-hati di jalan, sepertinya hari ini kita sama-sama rugi. Aku ketinggalan waktu untuk bisa melihat Papa ku, dan Kau sepertinya akan mendapat masalah."


Damar hanya menanggapinya dengan senyuman kecut, kemudian ia bergegas pergi dari apartemen Vania.


Setelah menutup pintu yang baru saja dilewati oleh Damar, Vania menghela nafas panjang sembari mengayun langkah menuju kamarnya. Karena hari ini ia ketinggalan waktu untuk bisa melihat Papa nya, iapun memutuskan untuk tidur kembali karena setiap malam ia harus bekerja di cafe dan pulang larut malam.


Vania tidak pernah membayangkan akan hidup seperti ini, dulu sebelum Papa nya menikah lagi, ia bak seorang putri raja yang selalu di manja. Dan setelah kehadiran wanita yang menggantikan posisi almarhumah mama nya kehidupan Vania benar-benar jungkir balik. Yang dulu nya memiliki segala fasilitas, kedudukan yang tinggi di perusahaan papanya sebagai wakil direktur. Dan kini ia harus bekerja sebagai pelayan untuk membiayai hidupnya sehari-hari.


.


.


.


Sementara itu Damar yang baru saja tiba di kantor langsung menuju bagian resepsionis untuk menanyakan klien itu apakah datang atau tidak.


"Klien yang akan menandatangani kontrak kerjasama itu menunggu Pak Damar selama hampir satu jam, karena Pak Damar tidak bisa dihubungi dengan terpaksa Kami menghubungi Pak Keenan memintanya datang."


"Jadi, semuanya sudah ditangani oleh Bang Keenan?"


"Iya Pak Damar, tadi Pak Keenan datang bersama Istrinya, dan mereka baru saja pulang."


Damar mengucapkan syukur dalam hati karena urusan kerjasama sudah ditangani oleh Keenan. Namun, entah kenapa hatinya serasa tersentak mendengar jika Keenan datang bersama istrinya. Damar tidak bisa membohongi hatinya jika masih begitu sulit melepaskan Kanaya meskipun ia sudah mengatakan mengikhlaskan kekasihnya itu untuk kakak sepupunya.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2