Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 50. SUARA ITU


__ADS_3

Di kantor polisi...


"Kebetulan Pak Rizal masih ada di sini," ujar seorang polisi seumuran Rizal yang baru saja keluar. "Tim kami sudah melacak keberadaan mobil Saudari Vania, dan kami akan segera menuju lokasi." Lanjut nya.


Mendengar penuturan polisi, Rizal tersenyum senang meski sebenar nya ia tetap merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Vania.


Tanpa membuang waktu, mereka semua berangkat menuju lokasi di mana mobil Vania berada.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari tiga puluh menit, tim polisi beserta Rizal dan keluarga Erlangga pun tiba di lokasi mobil Vania berada, di jalanan yang memang cukup sepi dan jarang di lalui pengendara. Terlihat kaca mobil Vania pecah di bagian samping kemudi.


Melihat keaadan mobil putri nya, Rizal benar-benar merasa khawatir dan takut. Terlebih saat berlari menghampiri mobil Vania tidak ada siapa pun di dalam nya.


"Pak, bagaimana ini Putri saya tidak ada di sini?" Rizal sudah hampir menangis tidak menemukan keberadaan putri nya.

__ADS_1


Vino mendekati, mengusap pungggung Rizal guna menenangkannya. "Jangan khawatir Vania akan baik-baik saja." Ucapnya


"iya, Om, Kak Vania pasti akan baik-baik saja." Sahut Kanaya. Tetapi, ia pun turut merasa khawatir dengan keadaan Vania saat ini. Melihat kondisi mobil Vania, itu sudah cukup meyakinkan jika Vania memang di culik. Jika hanya ingin merampok, mobil Vania tidak akan berada di tempat ini.


Rizal hanya bisa mengangguk lemah tanpa ada lagi kalimat yang sanggup terucap. Kehilangan bayi nya masih sangat membekas di ingatan, ia benar-benar tidak akan sanggup jika putri nya yang lain juga akan menghilang dari nya.


Di saat yang lain nya tengah larut dalam fikiran dan kesedihan masing-masing. Tim polisi justru sedang mengamati lokasi sekitar. Jalanan yang berupa tanah itu memperlihatkan dengan jelas jejak ban mobil yang di perkirakan berasal dari ban mobil yang membawa Vania. Dan jika di lihat hanya ada satu jejak mobil yang melintas di jalanan tersebuttersebut dengan satu arah.


Tim polisi pun bergegas masuk ke dalam mobil untuk mengikuti jejak ban mobil tersebut. Begitu pun dengan yang lain nya bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing, membuntuti di belakang mobil polisi.


Sementara itu, di tempat Vania di sekap...


"Lepaskan aku! Siapa yang menyuruh kalian membawa aku ke tempat ini dan apa mau kalian sebenarnya?" Namun, itu hanya bisa Vania ucapkan dalam hati. Nyatanya, suara yang ia keluarkan hanya terdengar seperti dengungan nyamuk.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ponsel salah satu pria yang menculik Vania, berdering.


Lantas laki-laki itu pun segera mengangkat panggilan telephone begitu melihat nama bos mereka yang tertera di layar ponselnya.


"Sebentar lagi aku akan sampai di sana, kalian belum apa apa-apakan wanita itu kan?" Tanya seseorang di seberang telephone.


"Belum, bos. Tadi aku hanya memberi nya tamparan yang cukup keras karena dia berisik sekali." Jawab pria bertubuh tegap itu sambil melirik Vania.


"Bagus. Setelah aku datang dan menyelesaikan urusanku dengan nya, kalian bisa bermain-main dengan nya sepuas kalian." Tawa renyah di seberang telephone memutus sambungan telephone itu..


Vania yang dapat mendengar suara di seberang telephone benar-benar merasa ketakutan. Siapa orang itu, dan urusan apa yang akan di selesaikan dengan nya?


Tapi tunggu, Vania rasa nya mengenal suara itu.

__ADS_1


__ADS_2