
Waktu terus berjalan, setiap harinya Kanaya masih selalu ikut ke kantor, Keenan pun tak pernah melarangnya. Namun, ia merasakan ada perubahan pada suaminya semenjak ia mengucapkan kalimat, 'Tolong jangan paksa aku!' Sejak hari itu Keenan tampak tak lagi perhatian padanya, berbicara pun sudah jarang padahal suaminya itu tak akan ada habisnya terus berusaha mendekati dan menanyakan hal apapun yang diinginkannya.
Meskipun tak ada pekerjaan di kantor maupun di luar kantor, Keenan tetap menyibukkan diri didalam ruangannya. Memeriksa beberapa berkas yang terkadang sudah ia periksa. Mengecek data perusahaan padahal sudah dilakukan oleh Damar. Rasanya ia rindu sekali mendekati istrinya lagi meskipun ia tahu akan mendapatkan penolakan, rasanya ingin sekali menanyakan apa saja yang diinginkan oleh istrinya itu meskipun ia tahu akan mendapatkan jawaban 'tidak ada'. Namun, mengingat beberapa hari lalu Kanaya mengucapkan kalimat yang begitu menekankan, Keenan pun sadar jika ia benar-benar tidak diinginkan. Ia juga mulai merasa jika kesabarannya selama ini menghadapi sikap Kanaya hanyalah sia-sia. Namun, yang Keenan tidak ketahui, jika Kanaya merasakan kehilangan dengan perubahan sikapnya yang seperti ini.
Tanpa Keenan sadari, entah sudah berapa puluh menit Kanaya terus menatapnya yang sedang fokus pada layar laptopnya. Meskipun raut wajahnya datar, namun jika Keenan melihatnya ia bisa tahu jika dimata istrinya tersirat kerinduan akan perhatiannya.
Tok... tok... tok...
Kanaya langsung mengalihkan tatapannya dari Keenan saat terdengar ketukan dibalik pintu ruangan, bersamaan dengan Keenan yang mengangkat pandangannya ke arah pintu.
"Masuk," ucap Keenan, kemudian kembali menatap layar laptopnya.
Sementara itu, raut wajah Kanaya berubah kesal karena tak sedikitpun Keenan melihat kearahnya.
Pintu ruangan pun terbuka dari luar, dan ternyata itu adalah Damar. Ketika melangkah masuk, Damar melirik sebentar kearah Kanaya yang duduk di sofa kemudian mempercepat langkahnya lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Keenan.
Keenan pun menutup laptopnya, kemudian mengangkat pandangan menatap Damar.
"Ada apa, Damar?" Tanyanya.
"Tadi Pak Rizal menelpon ku, katanya dia sudah telepon Bang Keenan tapi tidak aktif." Jawab Damar.
Keenan pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas dan ternyata ponselnya mati. "Oh iya handphone Bang Keenan memang mati." Keenan pun mengisi daya ponselnya.
"Apa Pak Rizal bilang, kenapa dia menelpon Abang?" Tanya Keenan.
"Pak Rizal mengundang Bang Keenan sekeluarga untuk makan malam dirumahnya." Jawab Damar.
Keenan nampak berpikir dengan melirik ke arah Kanaya sebentar. Kemudian kembali menatap Damar, "Baiklah, nanti Bang Keenan telepon Pak Rizal balik. Oh ya, sepertinya Kamu dan Vania juga harus ikut." Ucapnya.
"Tapi, Bang...
__ADS_1
"Begini, Damar. Undangan Pak Rizal Rizal ini adalah kesempatan untuk kita dan kali ini Bang Keenan mohon bantuan Kamu dengan berpura-pura menjadi calon suami Vania agar kita juga bisa mengajak Vania tanpa dicurigai oleh Pak Rizal."
Damar cukup terkejut dengan permintaan kakak sepupunya itu, namun ia sebisanya untuk terlihat biasa saja. "Tapi bagaimana dengan Mama sambungnya Vania?" Tanyanya.
"Justru itu Bang Keenan ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat Vania ada bersama kita. Dan Bang Keenan juga ingin melihat bagaimana reaksi Pak Rizal saat mengetahui Putri yang telah diusirnya itu adalah calon bagian dari keluarga kita. Apakah Pak Rizal akan mengakui Vania adalah Putrinya dihadapan kita, atau justru sebaliknya." Jawab Keenan.
Damar pun berpikir sejenak, kemudian menjawab. "Baiklah, Bang, nanti aku akan bicarakan juga dengan Vania." Ujarnya.
"Iya, dan usahakan agar Vania bersedia untuk ikut."
Damar mengangguk lalu berpamitan keluar dari ruangan Keenan. Dan kali ini Damar terus saja melangkah keluar tanpa menoleh atau melirik sedikitpun kearah Kanaya. Membuat mantan kekasihnya itu benar-benar merasa kesal karena dua laki-laki saudara sepupu itu sepertinya sudah pada menjauhi dirinya.
Setelah Damar keluar dari ruangannya, Keenan langsung menyalakan ponselnya dan segera menghubungi Arland. Sudah menganggap sahabatnya itu juga bagian keluarganya, maka Keenan pun juga akan mengajak Arland untuk ikut serta dalam undangan pak Rizal.
"Bagaimana, apa Kau juga akan mengajak Om Vino dan Tante Tania?" Tanya Arland diseberang telepon.
"Hem, sepertinya kau benar. Jika ingin masalah ini cepat terpecahkan maka Aku harus melibatkan orangtuaku, jika Mama sambung Vania memang mengenal keluargaku maka dia akan terkejut melihat kedatangan Mama dan Papaku." Jawab Keenan.
"Baiklah, sore nanti Aku akan langsung ke rumahmu, kita berangkat bersama-sama saja." Ujar Arland, dalam hati ia berharap semoga gadis tengik itu tidak diajak.
Keenan kembali fokus pada layar laptopnya, tanpa melihat kearah istrinya yang sudah bagaikan patung duduk seorang diri tanpa siapapun yang mengajaknya berbicara.
Kanaya sangat jenuh dengan situasinya saat ini. Iapun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas mini selempang nya. Membuka galeri melihat semua foto-foto kenangannya bersama Damar, entah sadar atau tidak ia menarik satu-persatu foto-foto itu ke kolom delete hingga habis tak bersisa. Setelah itu ia memasukkan kembali ponselnya kemudian merubah posisi duduk dengan satu tangan ia sandarkan pada sandaran sofa menumpu kepalanya.
Gerakannya itu ternyata diam-diam diamati oleh Keenan, melihat duduk istrinya seperti orang tak nyaman Keenan pun akhirnya menghampiri.
Kanaya cukup terkejut karena tiba-tiba saja Keenan sudah duduk disampingnya. Namun, entah karena memang sudah sikapnya yang terlanjur seperti itu atau masih tentang ego, Kanaya tampak cuek saja ketika sang suami menyentuh kepalanya.
"Kenapa? Kamu sakit kepala?" Tanya Keenan
"Enggak!" Jawab Kanaya dengan ketus.
__ADS_1
"Terus?"
"Aku bosan!"
"Mau pulang?"
Kanaya langsung melirik suaminya, pertanyaan Keenan benar-benar membuatnya kesal. Ia berpikir jika suaminya itu mengusirnya pulang.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kanaya langsung saja beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana?"
"Mau pulang!"
"Tunggu sebentar, aku akan antar." Keenan pun beranjak dari tempat duduknya hendak mengambil ponselnya di atas meja kerjanya.
"Gak usah antar, aku bisa pulang sendiri! Aku bukan anak kecil yang harus diantar-antar. Dan mulai besok aku juga tidak mau ikut ke kantor lagi!"
Belum mencapai meja kerjanya, Keenan dengan cepat berbalik kearah Kanaya. Menatap istrinya itu dengan lekat.
"Kanaya Kau kenapa? Dari nada bicaramu sepertinya kau sedang marah. Aku salah apa lagi?" Keenan pun perlahan melangkah kembali mendekati istrinya.
"Aku salah apa lagi, Kanaya? Padahal beberapa hari ini aku sudah berusaha untuk tidak mengganggu mu, tapi Kau masih saja seperti ini." Ucap Keenan dengan lirih.
"Oh, jadi kau memang sengaja mendiami aku, begitu?"
Keenan mengerutkan keningnya, ia memang sengaja beberapa hari ini tak lagi terus mendekati Kanaya dan tak juga menanyakan ini dan itu agar tidak membuat Kanaya terus-terusan merasa kesal, namun kenapa istrinya itu masih saja marah?
.
.
__ADS_1
.