
Masih dirumah sakit, Rizal duduk termangu di depan ruang perawatan orang yang baru saja mengakui sebuah peristiwa dua puluh tahun silam. Dan orang tersebut telah meninggal dunia beberapa saat lalu setelah mengakui perbuatannya, namun hati Rizal masih belum merasa lega karena belum mengetahui apa tujuan Herman melakukan hal tersebut.
Di sampingnya, Vino pun duduk nampak memikirkan sesuatu. Ia juga tak habis pikir jika mantan mertuanya itu bisa melakukan hal yang tak berperikemanusiaan, memisahkan anak dan orangtuanya selama bertahun-tahun lamanya.
"Menurutku, mungkin dia memiliki dendam denganmu." Ujar Vino tiba-tiba tanpa melihat kearah Rizal.
"Dendam?" Rizal pun kembali terdiam mencoba mengingat sesuatu. Namun, seingatnya ia tidak pernah memiliki masalah dengan Herman hingga menjadi mertuanya. Selama ini mereka hanya sekedar rekan bisnis saja. Hanya pernah sekali Herman menyingung soal perusahaannya yang berkembang pesat, apa mungkin karena itu? Apa dia iri?
Rizal mengusap wajahnya dengan kasar, percuma berpikir dengan keras ia tidak akan menemukan jawaban apapun. Terlebih orang yang menculik bayinya maupun Herman sendiri selaku pelaku utama telah tiada.
Tak ingin ambil pusing, Rizal pun berpamitan pada Vino untuk pulang. Tak ingin membuatnya pusing sendiri dengan memikirkan masalah ini. Toh putrinya yang hilang juga sudah ditemukan.
Sesampainya di rumah, hati yang mulanya runyam seketika menghangat ketika melihat kedua putri dan menantunya bercanda tawa bersama diruang keluarga. Cucu cantiknya pun tampak sesekali tertawa seolah ikut bercanda.
Melihat papanya telah datang, Vania beranjak dari tempat duduknya lalu berlari kecil menghampiri papanya. Menanyakan siapa yang ingin bertemu papanya dirumah sakit. Namun, Rizal mengatakan hanya temannya, ia tidak ingin membuat putri sulungnya itu ikut memikirkan masalah tersebut.
__ADS_1
Hari beranjak sore, Kanaya dan Keenan pun berpamitan pulang. Seperti permintaan Keenan, Kanaya menolak dengan halus permintaan papanya yang meminta mereka untuk menginap. Kanaya mengatakan akan menginap dilain waktu saja.
Sampai di rumah tepat pukul tujuh malam. Kanaya langsung menuju kamar untuk menidurkan bayinya, dan setelah putri kecilnya tertidur iapun mengajak suaminya untuk makan malam.
"Gak makanan pembukaan dulu nih," goda Keenan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kayak udah pengalaman aja." Sindir Kanaya sembari menyajikan makanan ke piring suaminya.
Keenan terkekeh, ia menarik pinggang istirnya duduk di pangkuannya. Dengan gerakan cepat ia mengecup bibir ranum sang istri sebelum si empunya melayangkan kalimat protesnya. Namun, nyatanya Kanaya malah tersenyum yang membuat Keenan semakin gencar melakukan aksinya.
Kanaya tertawa lalu turun dari pangkuan suaminya.
"Sok-sokan mau makanan pembuka, perut aja keroncongan. Nanti belum apa-apa udah capek duluan." Ejek Kanaya.
Keenan hanya nyengir kuda lalu menarik piring yang telah terisi dengan makanan itu kehadapan nya.
__ADS_1
"Ya udah deh, makan dulu. Isi tenaga yang banyak biar kuat sampai pagi." Ujarnya lalu menyuapi mulutnya dengan makanan.
Kanaya hanya menggeleng kepalanya melihat suaminya makan dengan cepat seperti orang yang sudah tiga hari tidak makan.
"Pelan-pelan makannya, Bang, nanti keselek." Tegur Kanaya.
Keenan hanya tersenyum dengan terus melanjutkan makannya hingga makanan dalam piringnya habis tak bersisa.
Duduk dengan gelisah menunggu istrinya selesai makan, sudah beberapa kali ia berganti posisi duduk namun Kanaya masih tak kunjung selesai makan.
"Kenapa sih, Bang? Kayak orang bisulan aja."
"Kamu tuh makannya yang cepet dong."
Kanaya tak menanggapi, ia hanya tersenyum tipis sambil mengunyah makanan dalam mulutnya dengan pelan. Tentu saja ia sengaja, melihat Keenan yang nampak sudah tak sabaran membuatnya ingin tertawa.
__ADS_1