Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 77. KABAR BAHAGIA


__ADS_3

"Ya ampun, Bang." Kanaya memekik kaget, ketika baru saja menyelesaikan makannya dan akan membawa piring kotor ke dapur tetapi Keenan sudah lebih dulu mengangkat tubuh nya persis memikul karung beras menuju kamar.


Sesampainya di kamar, dengan pelan Keenan membaringkan istrinya di tempat tidur disusul dirinya yang langsung mengungkung tubuh sang istri di bawahnya.


"Aku sangat menginginkan mu sekarang, jadilah istriku seutuhnya," bisik Keenan, kemudian mengecup daun telinga Kanaya sehingga istrinya itu menggelinjang merasa geli.


Dan tanpa di sangka Kanaya pun melakukan hal yang lebih dari pada Keenan. Ia menarik tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat, kemudian juga berbisik.


"Aku akan memberikan semuanya, asalkan setelah ini Bang Keenan berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku dan putri kita apa pun yang terjadi."


Keenan tersenyum mendengar ucapan Kanaya di telinga nya, ia membalas pelukan istrinya lebih erat.


"Tanpa kau meminta aku untuk berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua, tidak akan pernah." Ucap Keenan dengan suara seraknya, ia sendiri mulai terbakar dengan gairah nya.


Mereka pun melepas pelukan nya. Sejenak saling menatap diiringi senyum di wajah kedua nya. Dan beberapa saat kemudian mereka saling melepas pakaian nya lalu menarik selimut menutupi tubuh polos mereka.


.


.


.


Keenan terbangun ketika mendengar suara bayinya menangis, ia meraih ponselnya diatas meja lalu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi, bayinya itu pasti sedang haus.

__ADS_1


Sebelum turun dari tempat tidur, Keenan melabuhkan kecupan di kening istrinya yang masih tertidur pulas. Terlihat dari wajahnya istrinya itu sangat kelelahan karena bagaimana tidak, semalam ia terus mengulang hingga beberapa kali dan membuat Kanaya langsung tertidur setelahnya. Benar-benar luar biasa, secara sadar ia merasakan indahnya mereguk madu surgawi.


Keenan terkekeh mengingat sebelum memulai Kanaya sempat berteriak lagi karena masih merasa takut, namun karena sedikit paksaan persis saat kejadian dikamar hotel malam itu dan perlahan Kanaya mulai tenang setelah merasakan sensasi luar biasa ditubuhnya.


"Terima kasih, Sayang." Ucap Keenan sembari mengusap puncak kepala istrinya lalu segera turun dari tempat tidur untuk mengambil bayinya didalam box bayi.


"Cantiknya Papa haus ya, tapi Mama lagi bobok gimana dong?" Keenan sedikit bingung, ia merasa tak tega membangunkan istrinya namun tak ada juga susu formula yang tersedia untuk ia berikan kepada bayinya sebagai ganti ASI nya.


Dan akhirnya Keenan pun membawa bayinya menuju tempat tidur membaringkan di samping Kanaya lalu menepuk pelan bahu istrinya membangunkan.


"Sayang, bangun, si cantik haus nih."


Perlahan kedua mata Kanaya pun terbuka, dan tatapannya langsung tertuju pada sang suami yang membuatnya merasa malu mengingat pergulatan panas mereka semalam.


Di saat Kanaya sedang menyusui bayinya, terdengar dering ponsel Keenan yang mengalihkan perhatian keduanya.


Keenan meraih ponselnya di atas nakas dan keningnya mengkerut melihat nama penelpon.


Damar, ada apa menelpon sepagi ini? Batin Keenan kemudian mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


"Siapa yang telepon, Bang?" Tanya Kanaya.


"Damar," ujar Keenan lalu mengusap keatas icon berwarna hijau dilayar ponselnya.

__ADS_1


"Bang Keenan sudah bangun?" Tanya Damar di seberang telepon.


Keenan terkekeh, "Kalau belum bangun, mana mungkin Bang Keenan angkat telepon kamu.


Di sana Damar pun terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ada apa nelepon pagi-pagi buta begini? Ini masih jam 4 tau."


"Bang, ada yang mau aku omongin." Ujar Damar, suaranya terdengar gugup dan Keenan tahu ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh adiknya itu.


"Apa?" Tanya Keenan lalu mengaktifkan pengeras suaranya.


"Bang, aku ingin melamar Vania, bagaimana menurut Abang?" Ujar Damar.


Keenan dan Kanaya nampak terkejut mendengarnya, mereka tidak menyangka jika Damar akan melamar Vania karena yang mereka tahu hubungan Damar dan Vania hanyalah sebatas teman saja.


"Yah bagus sih menurut Abang, tapi kamu beneran serius nih mau melamar Vania? Karena kalian berdua kan hanya berteman tidak ada hubungan yang spesial."


"Iya Bang, kami memang hanya berteman. Tapi aku rasa, aku mulai menyukai Vania dan alangkah lebih baiknya jika aku langsung melamarnya saja dan tidak perlu berpacaran lagi." Ujar Damar, ia tidak ingin kisahnya bersama Kanaya terulang lagi jika hanya mengikat hubungan hanya dengan status pacaran.


"Abang mendukung kamu, Damar, jadi kapan rencananya kamu akan melamar Vania?"


"Besok."

__ADS_1


__ADS_2