Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 46. VANIA HILANG?


__ADS_3

"Udah ya jangan nangis lagi, aku minta maaf. Aku gak bermaksud mengingatkan kamu tentang itu." Ucap Keenan sambil mengusap air mata istri nya, setelah beberapa saat menenangkan istri nya akhirnya Kanaya berhenti menangis.


"Aku juga minta maaf, karena masih saja belum bisa melupakan kejadian malam itu." Ujar Kanaya dengan sesenggukan.


Terkadang Kanaya bingung dengan diri nya sendiri, ia sudah ingin belajar mencintai suaminya namun jika teringat dengan kejadian yang menimpa nya di kamar hotel waktu itu selalu membuat emosinya meledak. Seharus nya ia bisa berdamai dan menerima kenyataan jika apa yang menimpa nya waktu itu adalah sebagian dari takdir nya menuju masa depan, terlebih sekarang telah hadir sang buah hati antara dirinya dan Keenan yang mungkin adalah pertanda bahwa dirinya dan Keenan memang berjodoh, hanya saja mereka di pertemukan dengan cara yang cukup mengenaskan.


Keenan kembali memeluk istrinya sembari mengusap rambut panjang yang tergerai itu. Tatapan kedua nya tertuju pada bayi cantik yang masih tertidur dengan pulas nya di tengah-tengah ranjang, sama sekali tidak terganggu dengan suara tangisan mama nya.


"Selagi aku masih hidup, aku akan selalu menjaga, menyayangi dan mencintai kalian berdua. Apapun akan aku lakukan untuk kalian." Lagi dan lagi Keenan menghujani pucuk kepala istri nya dengan kecupan sembari menyesap aroma nya yang begitu menyegarkan di indra penciuman nya.


"Boleh aku mengatakan sesuatu?" Ujar Kanaya sambil mendongakkan kepala nya menatap suaminya.


"Tentu saja boleh, mau mengatakan apa?" Tanya Keenan.

__ADS_1


Kanaya nampak tersenyum samar, sebenar nya sudah beberapa hari ia ingin mengatakan ini pada suaminya namun, entah kenapa ia masih merasa ragu.


Baru saja Kanaya membuka mulut untuk berbicara, ponselnya berdering yang membuat tatapan nya seketika teralihkan pada benda pipi nya yang berdering di dekat bayi nya.


Sejenak Keenan dan Kanaya tersenyum melihat bayi mereka yang sama sekali tidak terganggu dengan dering ponsel yang cukup nyaring.


"Dasar putri tidur." Kekeh Keenan.


Kanaya pun mengurai pelukannya kemudian mengambil ponsel nya. Ia langsung menatap Keenan melihat nama yang tertera di layar ponsel nya.


"Bang Damar yang telephone." Ujar Kanaya dengan lirih, ia takut Keenan akan marah jika Damar menelpon nya. Setelah beberapa bulan ini adalah pertama kali nya Damar kembali menghubungi nya setelah mereka memutuskan hubungan.


"Ya udah angkat saja." Ucap Keenan dengan datar. Sungguh demi apapun hingga sampai saat ini ia masih cemburu pada Damar. Bagaimana tidak, Kanaya memanggil Damar dengan sebutan abang sementara dirinya tidak, bahkan terkadang Kanaya menyebut nama nya saja.

__ADS_1


Kanaya pun mengangkat panggilan itu dengan mengaktifkan pengeras suara agar Keenan juga dapat mendengar nya. "Iya, halo, Bang Damar ada apa?"


[Kanaya, Bang Keenan di mana? Kenapa ponsel nya tidak aktif?] Di seberang sana suara Damar terdengar khawatir.


Mendengar itu lantas Keenan mengalihkan tatapan nya pada ponsel nya yang berada di atas nakas yang memang sengaja ia matikan karena tidak ingin terganggu.


Tanpa menjawab, Kanaya langsung saja memberikan ponsel nya pada Keenan.


"Iya Damar, ada apa?" Dapat Keenan dengar helaan nafas Damar setelah mendengar suara nya.


[Bang Ken, aku sudah telephone Om Rizal dan ternyata Om Rizal juga lagi nyariin Vania. Kata Om Rizal, Vania sempat telephone minta tolong tapi ponselnya tiba-tiba mati. Sekarang Om Rizal berada di kantor polisi, aku juga mau menyusul ke sana.]


"Apa, Damar, maksud nya gimana? Apa Vania hilang?"

__ADS_1


Mendengar ucapan suaminya, Kanaya benar-benar terkejut apa lagi sejak tadi ia memang memikirkan Vania.


__ADS_2