Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 22. AKAN MENJAGA KALIAN


__ADS_3

"Astaga," Kanaya terkejut saat bangun ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Bisa-bisanya ia menuruti perintah Keenan untuk tidur lagi, dan lihatlah sekarang ia jadi bangun kesiangan.


Kanaya hendak turun dari tempat tidur, namun gerakannya terhenti sejenak melihat Keenan yang masih tertidur dengan pulas. Laki-laki itu terlihat sangat tampan saat tertidur, wajahnya sangat polos seperti bukan penjahat yang memperkosanya. Yah, meski sebenarnya Kanaya sendiri tahu jika kejadian malam itu hanya sebuah kecelakaan namun tetap saja ia menganggap Keenan seorang penjahat.


Beberapa saat, Kanaya masih menatap wajah laki-laki yang telah menjadi suaminya itu. meskipun ia masih belum bisa menerima, namun Kanaya akui jika Keenan adalah laki-laki yang baik, terbukti dalam tiga bulan ini bagaimana cara Keenan memperlakukannya, dan bagaimana kesabaran Keenan menghadapi semua sikapnya. Namun, karena ego dan rasa bencinya membuatnya menutup semua fakta itu.


Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman dengan masih menatap wajah lelap suaminya.


"Meski dia dan Bang Damar hanya sepupu, tapi mereka sama-sama tampan."


Namun, beberapa saat kemudian Kanaya pun tersadar dengan apa yang baru saja diucapkannya.


'Duh, kenapa aku jadi menyamakan dia dengan Bang Damar.'


.


.


.


Setelah selesai mandi, Kanaya berdiri didepan meja rias, menatap dirinya dari pantulan cermin sembari mengusap perutnya.


Usia kandungannya ternyata sudah delapan Minggu, tetapi ia sama sekali tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan didalam rahimnya. Ia jadi teringat dengan ucapan Keenan kemarin.


'Jika dipikir, bayi kita ini sangat menyayangimu, Kanaya. Lihatlah, dia tidak membuatmu merasakan kehadirannya, akulah yang merasakannya dan rasanya benar-benar menyiksa. Kepalaku selalu terasa pusing dan mual, bahkan setiap pagi aku sampai muntah-muntah.'


Kanaya tersenyum kecut, entah bagaimana jika ia yang merasakan semua apa yang dirasakan oleh Keenan dua bulan ini.


Air mata Kanaya pun menetes, karena sempat berpikir untuk menggugurkan kandungannya sendiri. Sungguh ia adalah wanita paling jahat jika sampai melakukan hal tersebut.


"Maafkan Mama, Nak. Mama janji akan menjaga dan merawat Kamu dengan baik."


Tanpa Kanaya sadari, ternyata Keenan sudah bangun. Laki-laki itu tersenyum mendengar ucapan istrinya.


"Bukan hanya Kamu, tapi Aku juga. Aku akan menjaga kalian berdua dengan penuh kasih sayang."


Kanaya terkejut mendengar suara Keenan, ia segera mengusap air matanya lalu berbalik.


"Kamu sudah bangun rupanya."


"Kanaya, bisa tolong bantu Aku ke kamar mandi? Aku ingin buang air kecil."


"Pergi saja sendiri!" Ujar Kanaya dengan ketus.

__ADS_1


"Kalau aku bisa pasti Aku akan pergi sendiri ke kamar mandi. Tapi aku tidak bisa Kanaya, kaki ku rasanya lemas sekali untuk berjalan, aku takut jatuh." Ujar Keenan dengan memasang wajah memelas.


"Jangan beralasan!"


"Aku tidak beralasan Kanaya, tolong bantu Aku ke kamar mandi. Nanti kalau Aku ngompol disini Kau juga yang akan kerepotan membersihkannya."


Mau tidak mau, akhirnya Kanaya pun membantu Keenan pergi ke kamar mandi dengan perasaan kesal karena lagi dan lagi ia harus bersentuhan dengan suaminya itu.


Dalam hati Keenan bersorak senang, ia memeluk pinggang Kanaya dengan erat seolah takut terjatuh.


'Maaf aku sudah membohongi mu, sebenarnya kakiku baik-baik saja. Tapi hanya dengan begini aku bisa berdekatan denganmu. Aku akan selalu mengambil perhatianmu agar lama kelamaan kau akan terbiasa dengan kehadiranku.' Ujar Keenan dalam hati.


.


.


.


.


Di tempat lain.


Damar baru saja sampai di alamat yang diberikan oleh Arland. Sebuah apartemen mewah yang letaknya ternyata tidak jauh dari perusahaan Erlangga.


Dengan pelan, Damar mengetuk pintu itu hingga beberapa kali akhirnya terbuka.


Seorang wanita yang kira-kira seusia dirinya, keluar dengan penampilan yang sepertinya baru bangun tidur.


"Kamu siapa?" Tanya wanita itu sambil menguap, sebenarnya ia masih mengantuk namun karena harus pergi ia pun bangun. Dan saat akan mandi, ia mendengar suara ketukan dan segera membukanya.


Sementara Damar masih diam saja tidak menjawab, hingga wanita itu kembali bertanya.


"Hei Aku tanya kamu siapa? Dan mau cari siapa?"


Masih tidak ada jawaban membuat wanita itu kesal dan hendak menutup pintu, namun ia terkejut saat laki-laki dihadapannya itu tiba-tiba saja menerobos masuk dan menutup pintu dengan keras.


"Hei apa yang kau lakukan? Keluar dari sini atau aku akan teriak!"


Baru membuka mulut untuk berteriak, Damar sudah lebih dulu maju dan membekapnya kemudian menariknya masuk kedalam sebuah kamar.


Wanita itu tentu sangat ketakutan, laki-laki yang tidak dia kenal tiba-tiba saja menerobos masuk kedalam apartemennya, dan sekarang membekap dan menyeretnya kedalam kamar.


Wanita itu terus meronta berusaha melepaskan diri, namun tangan yang membekapnya tak sebanding dengan tenaganya. Hingga tubuhnya terguncang saat dilempar begitu saja ke atas tempat tidur.

__ADS_1


Wanita itu segera bangun dan langsung meraih sebuah vas bunga dari atas meja. Memecahkan vas itu dan mengarahkannya pada Damar untuk mengancam.


"Kalau kau berani maju, aku akan melukaimu!"


Namun, keningnya mengkerut saat melihat laki-laki itu hanya bergeming ditempatnya berdiri malah sambil tertawa dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Sebenarnya kau siapa? Kenapa masuk ke apartemen ku?" Tanyanya dengan nada bergetar karena ketakutan.


Dengan santainya, Damar membawa dirinya duduk di sebuah kursi kayu kemudian menyandarkan kepalanya dengan masih tertawa.


"Lepaskan benda itu, nanti akan melukai tanganmu." Ucap Damar.


"Kau pikir aku bodoh, huh!"


"Hei, ayolah santai saja, aku ini bukan penjahat."


"Aku tidak percaya! Jika kau orang baik, mana mungkin kau berada disini, masuk kedalam apartemen orang sembarangan."


"Karena tujuanku memang kesini, bertemu denganmu." Ucap Damar sembari menegakkan posisi duduknya, ia menatap wanita itu dengan lekat.


"Jangan bercanda, Aku tidak mengenalmu."


"Kita memang tidak saling mengenal, tapi perbuatanmu lah yang membawa ku kemari." Ujar Damar.


"Perbuatan apa? Aku tidak pernah merasa berurusan dengan mu."


"Oh ya? Coba kau ingat-ingat lagi, apa yang kau lakukan malam itu di sebuah Hotel tiga bulan yang lalu."


Wanita itu sedikit menunduk mencoba mengingat, dan beberapa saat kemudian ia mengangkat kepalanya menatap laki-laki itu dengan menyelidik.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa tahu tentang itu?"


"Aku?" Damar menunjuk dirinya sendiri. Kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah mendekati wanita itu.


"Jangan mendekat, atau aku akan melukaimu!" Wanita itu berjalan mundur dengan masih mengarahkan pecahan vas bunga itu pada laki-laki yang tidak ia tahu siapa sebenarnya.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2