Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 25. AW?


__ADS_3

"Kanaya, apa kau ingin pergi jalan-jalan ke sesuatu tempat dulu sebelum kita pulang?" Tanya Keenan setelah berada di perjalanan.


"Enggak." Jawab Kanaya dengan singkat, sejak mobil melaju ia selalu melempar pandangan ke luar jalanan di sampingnya.


"Atau ada yang ingin kau beli, makanan? Biasanya Ibu hamil suka makan yang asem-asem seperti rujak." Tanya Keenan lagi.


"Enggak, antar Aku pulang saja." Jawab Kanaya.


"Baiklah, kita pulang." Keenan mengalah.


"Ke rumah ku." Ujar Kanaya yang membuat Keenan langsung menghentikan laju mobilnya.


"Kanaya, apa maksudmu? Kau ingin tinggal di rumahmu lagi?"


"Tidak, ada yang ingin Aku ambil."


"Ouh," Keenan pun bernafas lega, ia pikir Kanaya ingin pulang tinggal dirumahnya sendiri.


Keenan pun kembali melajukan mobilnya.


.


.


.


Setelah mobilnya terparkir di pelataran rumah istrinya, Keenan bergegas turun dari mobil kemudian membuka pintu di samping Kanaya. Ia mengulurkan tangan untuk menyambut istrinya turun, namun Kanaya turun dari mobil begitu saja seolah tak melihat tangan yang terulur padanya.


Membuat Keenan hanya bisa menghela nafas panjang kemudian mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam rumah.


Di dalam kamar, Kanaya memunguti semua barang-barang pemberian Damar dan memasukkan ke dalam kardus.


Di ambang pintu, Keenan memperhatikan dengan wajah datar. Seharusnya ia senang melihat Kanaya memasukkan semua benda pemberian Damar ke dalam kardus, namun entah kenapa perasaannya masih saja tak tenang ketika mengingat saat di kantor Kanaya menanyakan Damar.


Setelah memastikan tak ada lagi yang tersisa, Kanaya menutup kardus itu kemudian mendorongnya ke bawah tempat tidur.


Sebenarnya Kanaya ingin membuang semua barang-barang itu mengingat perkataan Damar yang telah merelakan dirinya bersama Keenan, namun sejujurnya dihatinya masih ada sebuah harap agar suatu hari nanti masih bisa bersama Damar.


Kanaya mengedarkan pandangannya di dalam kamar, mencari sesuatu yang entah dimana ia menaruhnya. Kanaya mendongakkan kepalanya, dan tatapannya tak sengaja tertuju pada sebuah kotak kayu tua yang berada di atas lemari.


Kanaya tidak tahu apa isi dari kotak kayu itu, karena ibu dan ayahnya selalu melarang setiap kali ia ingin melihat isinya.

__ADS_1


"Ayah, Ibu maafkan Aku. Sekarang Aku ingin melihat apa yang sebenarnya kalian sembunyikan didalam kotak itu."


Kanaya pun mencoba untuk mengambil kotak itu, namun tinggi badannya tak bisa mencapai atas lemari yang cukup tinggi. Ia pun mencari sesuatu untuk bisa mencapai kotak itu.


"Kanaya jangan," cegah Keenan, ketika Kanaya mengambil kursi dan hendak menaikinya.


"Apa yang kau lakukan?" Keenan menarik tangan Kanaya menjauh dari kursi itu. "Bagaimana kalau kau jatuh? Kau akan membahayakan bayi kita!" Tanpa sadar Keenan memarahi istrinya.


Kanaya pun terdiam dengan kepala menunduk. Itu memang salahnya, ia sama sekali tidak berpikir saat akan memanjat kursi itu, akan membahayakan kandungannya sendiri bila ia terjatuh.


"Kanaya, maaf, aku tidak bermaksud memarahi mu." Ucap Keenan ketika tersadar telah memarahi istrinya. "Kamu ingin mengambil apa? Biar Aku yang mengambilnya." Tanyanya.


"Kotak kayu itu." Jawab Kanaya sembari menunjuk ke atas lemari.


Keenan pun meraih kotak itu, karena tingginya memang standar iapun bisa mengambilnya tanpa harus memanjat kursi.


"Ini apa?" Tanya Keenan setelah meletakkan kotak kayu itu di atas lantai.


"Tidak tahu, Ayah dan Ibu selalu melarang Aku membukanya."


"Jadi sekarang Kau ingin melihat isi kotak ini?" Tanya Keenan lagi.


"Iya, tapi Aku tidak tahu dimana kuncinya." Jawab Kanaya.


Kanaya mengangguk, dan Keenan pun keluar dari kamar lalu pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka gembok.


Tak lama kemudian, Keenan kembali ke kamar dengan membawa palu.


Kanaya pun menjauh ketika Keenan berusaha membuka gembok itu dengan memukulnya menggunakan palu.


Beberapa kali mencoba, dan akhirnya gembok itupun terlepas. Kanaya kembali mendekat lalu segera membuka isi kotak kayu itu.


Di dalamnya ternyata hanya sepasang pakaian bayi dan juga sarung bayi. Kemudian ada lagi sebuah kotak perhiasan, Kanaya membukanya dan isinya adalah kalung yang memiliki dua huruf kapital yang berdampingan dan juga gelang bayi.


Kanaya mencari lagi, namun tidak ada lagi yang lainnya ia temukan didalam kotak kayu itu.


"Isinya hanya seperti ini, tapi kenapa Ayah dan Ibu selalu melarang Aku membukanya." Ucap Kanaya dengan lirih.


"Mungkin itu adalah milikmu saat masih bayi, jadi Ayah dan Ibu menyimpannya dengan baik." Ujar Keenan. "Jadi sekarang Kau juga harus menyimpannya dengan baik, jika bayi kita nanti perempuan. Dia bisa memakainya untuk yang pertama kali, pakaian Mama nya sendiri." Lanjutnya sambil tersenyum.


Namun, Kanaya tak mengindahkan ucapan suaminya, dan mungkin juga ia tidak mendengarnya karena tatapannya terus tertuju pada dua huruf kapital induk kalung itu.

__ADS_1


"AW?"


.


.


.


Karena tak menemukan barang yang di cari, akhirnya Keenan dan Kanaya pun pulang dengan hanya membawa isi dari kotak kayu itu. Pakaian dan perhiasan bayi yang menurut Keenan adalah milik istrinya saat masih bayi.


"Boleh Aku yang menyimpannya?" Ujar Keenan ketika sudah berada didalam kamar mereka.


Kanaya pun memberikannya pada Keenan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Setelah pakaian dan perhiasan bayi itu berada ditangannya, Keenan membawanya menuju sebuah kotak besi yang merupakan brangkas tempatnya menyimpan beberapa dokumen penting.


Kanaya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya, ada-ada saja menyimpan benda seperti itu didalam brangkas.


"Biar tidak hilang, dan Aku berharap bayi kita perempuan dan dia bisa memakainya nanti." Ujar Keenan yang seolah tahu isi pikiran istrinya.


Melihat Kanaya hanya diam saja, Keenan pun mendekati istrinya dan Keenan tersenyum karena Kanaya tak berusaha menghindar lagi seperti biasanya.


"Kau kenapa, kelihatannya murung?"


"Tidak apa-apa, Aku hanya tidak habis pikir saja dengan Ayah dan Ibu."


"Ck, ternyata dari tadi Kau memikirkan itu rupanya." Meski takut akan didorong seperti yang sudah-sudah, namun Keenan tetap memberanikan diri untuk memeluk istrinya. Dan sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak padanya, Kanaya hanya diam saja saat sebelah tangannya sudah melingkar di pinggang istrinya itu.


"Sudah, tidak usah dipikirkan lagi. Sekarang sebaiknya Kau istirahat, Aku tidak mau Kau sampai sakit karena jika Kau sakit nanti akan berpengaruh pada bayi kita."


Kanaya pun mengangguk kepalanya, dan ia hanya menurut saja ketika Keenan membawanya menuju tempat tidur.


"Aku pijitin ya?" Tawar Keenan, ketika Kanaya sudah berbaring di tempat tidur.


Dan lagi-lagi Kanaya hanya mengangguk kepalanya tanpa mengucapkan apapun yang membuat Keenan tersenyum senang. Entah istrinya itu sadar atau tidak, Keenan tidak perduli. Yang penting hari ini ia bisa dengan bebas menyentuh istrinya tanpa harus mendapatkan amukan lagi.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2