
Usai berbelanja perlengkapan bayi, Keenan dan Kanaya pun memutuskan untuk langsung pulang. Sementara Damar dan Vania kembali ke kantornya masing-masing.
Di perjalanan, tiba-tiba saja Kanaya merasa lapar. Keenan pun memutar arah menuju restoran yang sudah terlewati beberapa menit lalu.
Sesampainya di restoran itu, dengan antusias Keenan memesan beberapa menu makanan untuk istrinya dan tentunya yang baik untuk ibu hamil.
"Silahkan dinikmati." Ucap pelayan setelah meletakkan pesanan diatas meja.
Keenan menanggapinya dengan anggukan, dan setelah pelayan itu pergi, iapun mengambil sendok untuk menyuapi istrinya.
Gerakan tangan Keenan yang hendak menyuapi istrinya terhenti ketika seseorang memanggil namanya dengan cukup keras.
"Keenan."
Keenan dan Kanaya serentak menoleh ke asal suara, terlihat seorang wanita yang berjalan menghampiri meja mereka.
"Hai Keenan, gak nyangka bisa ketemu kamu disini." Wanita itu tersenyum pada Keenan, kemudian melirik Kanaya dengan tatapan tak suka.
"Maaf, siapa ya?" Keenan rasanya pernah melihat wanita ini, namun ia lupa pernah melihatnya dimana.
"Gara-gara kita tidak jadi menikah, kau jadi melupakan aku." Wanita itu sedikit berdecak kesal sembari memasang raut cemberut.
Deg...
Mendadak duduk Keenan jadi tak nyaman, ia sudah mengingat wanita ini sekarang, ia adalah Vera, wanita yang dulu akan dijodohkan dengannya.
__ADS_1
Kanaya yang tadinya berpikir jika wanita itu adalah teman Keenan, begitu terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu.
Banyak pertanyaan kini menggerayangi pikirannya. Apa sebelum kejadian malam itu Keenan akan menikah dan membatalkan lalu menikahi dirinya?
"Aku pikir kamu membatalkan pernikahan kita karena menikahi wanita yang lebih berkelas, ternyata tidak. Kelihatannya dia tidak ada apa-apanya dibandingkan aku. Kalau dilihat usianya masih sangat muda, kurasa dia melakukan hal picik untuk menjadi Istri seorang Keenan Erlangga." Wanita itu menatap Kanaya dengan remeh, namun seketika terdiam ketika melihat tatapan Keenan yang menghunus tajam.
"Saya rasa anda sangat berlebihan. Bagaimana anda bisa mengatakan jika saya membatalkan pernikahan, sementara kita saja belum pernah bertemu sebelumnya."
Mendengar ucapan Keenan yang begitu formal membuat wanita yang bernama Vera itu terdiam, karena memang begitulah adanya. Ia dan Keenan memang belum pernah bertemu sebelumnya, hanya melihat dari selembar foto saja.
"Satu hal lagi yang saya ingatkan! Jangan pernah menghina Istri saya! Istri saya memang tidak sebanding dengan anda soal materi, tapi anda sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan Istri saya dalam hal cinta! Saya rasa orang seperti anda tidak akan pernah mengerti cinta karena yang anda kedepankan hanyalah tentang harta dan tahta." Ucap Keenan dengan lantang sehingga mengundang perhatian orang-orang disekitarnya.
Vera benar-benar merasa malu, terlebih ia telah menjadi perhatian banyak orang yang diantaranya terlihat berbisik-bisik sambil terus menatapnya.
Setelah Vera pergi, Kanaya langsung saja melayangkan pertanyaan pada Keenan dengan raut wajah yang datar. Pembelaan suaminya sama sekali tak mengindahkan tentang perkataan wanita itu sebelumnya.
"Jadi dia adalah calon Istrimu? Kamu membatalkan pernikahan kalian hanya karena kejadian malam itu?"
"Tidak, Kanaya. Kejadiannya tidak seperti itu. Kami hanya baru akan dijodohkan, dan tadi adalah pertama kalinya kami bertemu. Sebelumnya baru melihat foto saja." Keenan menjelaskan.
Namun, sepertinya penjelasannya tidak membuat Kanaya terlihat lega. Istrinya tampak cemberut.
"Tapi sama saja, kau membatalkan perjodohan itu karena aku kan?"
Keenan terdiam dengan menghela nafas, ia bingung harus menjawab bagaimana. Pertanyaan Kanaya, itu benar. Ia memang membatalkan perjodohan itu karena lebih memilih untuk bertanggung jawab pada Kanaya. Namun, rasanya tak mungkin ia mengatakan yang nantinya akan membuat Kanaya berpikir jika ia juga terpaksa dalam pernikahan ini padahal sama sekali tidak tidak. Sejak awal kejadian malam itu ia memang sudah berniat akan bertanggung jawab, kemudian tiba-tiba saja papa nya membahas tentang perjodohan itu.
__ADS_1
"Benar kan?"
"Kanaya, makanannya sudah hampir dingin, ayo dimakan." Keenan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jawab!" Kanaya tak mengindahkan ucapan suaminya.
Dan pada akhirnya Keenan pun mengangguk pelan. Membuat Kanaya langsung mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Aku mau pulang!"
"Tapi kau belum makan."
"Aku udah gak lapar, aku mau pulang!"
"Oke baiklah," Keenan pun mengalah, setelah meletakkan beberapa lembar uang ratusan di atas meja ia hendak membantu istrinya berdiri namun Kanaya menepis tangannya.
Dengan sedikit kesusahan sambil memegangi perut buncitnya, Kanaya beranjak dari tempat duduknya kemudian langsung saja melangkah keluar dari restoran.
Di belakang, Keenan membuntuti istrinya dengan perasaan tak nyaman. Yakin, setelah ini Kanaya akan kembali ke mode lama.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Kanaya terus melempar pandangan ke jalanan disampingnya. Tak memperdulikan Keenan yang terus mengajaknya berbicara. Ia merasa marah tetapi tidak tahu kepada siapa?
Kepada Vera, yang sudah merendahkannya?
Atau kepada Keenan, yang ternyata membatalkan perjodohannya dengan Vera karena dirinya? Atau marah kepada dirinya sendiri, yang belum sepenuhnya bisa berdamai dengan keadaan? Entahlah!
__ADS_1