Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 59. MALU


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun Kanaya dan Keenan masih saja tidur dengan pulas nya di atas ranjang pasien, membuat kedua perawat yang sudah ketiga kalinya datang akhirnya memutuskan untuk membangunkan sepasang suami istri karena sudah waktunya Kanaya untuk di periksa.


Sementara Damar dan Vania yang masih duduk dengan santainya di sofa, membiarkan saja dengan apa yang dilakukan oleh kedua perawat itu berusaha membangunkan Keenan dan Kanaya.


Kedua perawat itu mencoba menepuk pelan bahu Keenan dan Kanaya, namun yang terjadi sepasang suami istri itu bukannya bangun malah semakin mengeratkan pelukan mereka.


"Sus, apa bisa biarkan saja mereka berdua tidur sebentar lagi." Seru Damar.


"Tapi Pak, ini sudah jam 10 dan pasien seharusnya sudah di ganti perban nya jam 7. Pasien juga harus melakukan beberapa pemeriksaan." Sahut salah satu perawat itu.


Dan lihatlah, bahkan suara Damar dan perawat yang cukup keras bersahutan didalam ruangan dan terdengar menggema bahkan sama sekali tidak membuat sepasang suami istri itu merasa terganggu.


"Sus, coba buka tirai nya, siapa tau mereka akan bangun bila terkena sinar matahari." Ujar Damar lagi memberi saran.


Salah satu perawat itupun melangkah menuju jendela kemudian menyingkap tirai nya. Sinar matahari menerobos begitu saja menyinari ruangan manakala tirai itu telah terbuka. Jendela yang berada di sisi ranjang pasien membuat sinar matahari yang masuk tepat mengenai sepasang suami istri yang masih tertidur itu.

__ADS_1


Perlahan Keenan mengerjapkan mata saat merasakan silau matahari mengenai wajahnya. Ia membuka sedikit matanya kemudian mengangkat sebelah tangannya menutupi wajah Kanaya dari sinar matahari tanpa menyadari jika didalam ruangan itu telah berada Damar, Vania dan dua orang perawat.


"Kamu juga belum bangun rupanya." Ucap Keenan tersenyum menatap wajah bantal istrinya.


Ketika Keenan mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Kanaya, dari sofa Damar segera berdehem dengan cukup keras sehingga mengagetkan Keenan yang hendak mencium kening istrinya.


"Damar, Vania?" Ucap Keenan terkejut kala tatapannya tertuju ke arah sofa.


Dua perawat yang berdiri di belakang Keenan menutup mulut mereka dengan telapak tangan menahan tawa.


"Sudah hampir siang loh ini, Bang. Emangnya semalam ngapain aja sampai bangun kesiangan begini?" Tanya Damar sambil menahan senyum, di sampingnya Vania sudah menutupi sebagian wajahnya dengan tas tangan miliknya menyembunyikan tawa yang tak dapat ia tahan namun tidak bersuara.


"Selamat pagi menjelang siang, Pak. Apa bisa turun sebentar? Soalnya kami harus memeriksa dan mengganti perban di perut Ibu Kanaya." Ujar salah satu perawat itu sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sungguh ia tidak tahan ingin tertawa melihat tampang Keenan yang sudah seperti maling yang tertangkap basah.


"I-ya," jawab Keenan dengan gugup kemudian turun dari ranjang pasien. Sementara Kanaya masih tertidur.

__ADS_1


Saat Keenan akan melangkah, perawat memangilnya. "Pak, sekalian tolong di bangunkan Ibu Kanaya nya, soalnya harus sarapan juga dan minum obat."


Keenan hanya mengangguk lalu mencoba membangunkan istrinya.


Perlahan kedua mata Kanaya terbuka, ia tersenyum saat tatapannya tertuju pada sang suami. Senyum yang sangat manis dimata Keenan. Andai saja di ruangan ini tidak ada siapapun pasti ia akan langsung kembali melahap bibir ranum itu.


"Kanaya, suster mau periksa dan ganti perban kamu." Ujar Keenan.


Kanaya menoleh menatap dua perawat yang telah berdiri di samping ranjangnya lalu tersenyum. Dua perawat itupun membalas senyuman Kanaya.


Saat kedua perawat itu tengah mengganti perban di perut Kanaya, Keenan melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka, ia melirik Damar dan Vania yang duduk di sofa masih nampak menahan tawa menatapnya. Keenan pun mempercepat langkahnya masuk ke kamar mandi, satu kata yang terucap dalam hatinya sekarang. Malu.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2