Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 43. BAYI CANTIK


__ADS_3

Kedua mata Keenan tampak berkaca-kaca ketika baru keluar dari ruangan bersalin, melihat tak hanya ada papa dan mama tetapi semua keluarganya sudah berkumpul di depan ruangan. Anin dan Aryan yang masih mengenakan seragam sekolah. Bara dan Vani beserta Damar putra mereka dan juga Vania. Tak ketinggalan juga Arland yang datang bersama kekasihnya.


Namun, dari banyaknya orang-orang yang ada dihadapannya saat ini, Keenan lebih memilih menghampiri sang mama. Membenamkan diri kedalam pelukan wanita yang telah melahirkannya itu. Melihat bagaimana perjuangan Kanaya dalam proses persalinan beberapa saat lalu, Keenan tak hentinya mengingat sang mama yang telah melahirkannya. Ternyata tidak mudah perjuangan seorang ibu melahirkan buah hatinya bertaruh dengan nyawa.


"Ma, Keenan sudah jadi Ayah." Ucapnya lirih dengan sedikit terisak didalam pelukan mama nya.


Tania pun tersenyum sambil mengusap pelan puncak kepala putranya itu, "Selamat ya, Nak. Mama turut bahagia. Semoga Tuhan selalu melimpahkan keberkahan dan kebahagiaan pada keluarga kecilmu."


Vino pun mendekati istri dan putranya itu. "Keenan, selamat ya Nak. Sekarang kamu sudah jadi seorang Ayah. Sekarang tanggung jawab kamu akan lebih besar." Ujarnya sambil menepuk pelan pundak putranya itu.


Anin dan Aryan pun ikut menghampiri. "Bang Keenan selamat ya sudah jadi Ayah, keponakan kami laki-laki atau perempuan?" Tanyanya serentak.


Keenan pun mengurai pelukannya dari tubuh sang mama, kemudian berbalik menatap Anin dan Aryan.


"Keponakan kalian perempuan." Jawab Keenan, ia mengusap dengan pelan rambut panjang Anin kemudian berpindah mengacak rambut Aryan dengan gemas. "Selamat juga ya buat kalian berdua sekarang sudah jadi Aunty dan Uncle." Ucapnya sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Bang, apa kita sudah boleh menjenguk Adik bayi?" Tanya Aryan dengan mata berbinar menataap kakak ipar nya itu.


"Nanti ya setelah dipindahkan ke ruangan bayi." Jawab Keenan.


Damar dan Vania, beserta Bara dan juga Vani pun mendekati Keenan memberikan selamat. Dan saat Arland bersama kekasihnya juga mendekati Keenan, Anin langsung mengajak Aryan untuk menjauh.


"Wah jadi ini Pacar Kamu, Arland?" Tanya Keenan.


"Iya." Jawab Arland sambil merangkul pinggang kekasihnya.


Di depan pintu ruangan bersalin, Anin yang bersandar pada pintu memutar bola matanya merasa jengah melihat pemandangan itu. Jika saja Arland tidak membawa pacarnya itu, pasti ia sudah membuat si om brewok nya itu kebakaran jenggot karena ulahnya.


Beberapa saat kemudian, Kanaya pun telah dipindahkan ke ruangan perawatan.


Keluarga yang lainnya sudah berpamitan pulang usai menjenguk Kanaya dan bayinya. Tinggal menyisakan Tania dan Vino yang saat ini berada di kantin rumah sakit.

__ADS_1


"Dia cantik sekali." Ucap Kanaya sambil mengusap-usap pelan pipi putri kecilnya yang sedang ia susui, menggunakan ibu jari nya.


"Tentu, Mama nya saja juga cantik kok, jadi wajar kalau Putri nya juga cantik." Ucap Keenan. "Apa kau bahagia, Kanaya?" Tanya nya nya kemudian.


"Sangat, aku sangat bahagia. Tidak ada lagi yang aku inginkan di dunia selain terus bersama Putri ku ini." Jawab Tania. Setelah merasa lebih baik pasca persalinan, senyum terus menghiasi wajah nya.


"Sama aku juga dong, Papanya." Cetus Keenan nampak cemberut, sebab Kanaya tidak menyebutnya dalam keinginannya.


Kanaya terkekeh, "Iya sama kamu juga." Ujarnya kemudian kembali menatap putri kecilnya yang masih menyusu dengan lahapnya.


Andai saja ayah dan ibunya nya juga masih ada saat ini, lengkap lah sudah kebahagiaan nya. Memiliki suami yang tampan dan penyayang, serta seorang putri yang cantik. Dan juga Aryan, sang adik yang menjadi sumber kekuatannya selama ini menjalani kerasnya hidup.


Melihat wajah istrinya yang sedikit nampak murung, Keenan pun mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu. "Jangan sedih, kita doakan saja Ayah dan Ibu mu tenang di alam sana, dan aku yakin mereka disana pasti bahagia melihat Kamu juga bahagia." Ujarnya sambil mengusap punggung istrinya.


Kanaya mengangguk sambil tersenyum tipis. Tatapan keduanya kembali tertuju pada bayi cantik yang masih menyusu dengan lahapnya.

__ADS_1


__ADS_2