Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 44. PULANG


__ADS_3

"Sayang, jangan di habisin ya, sisain juga buat Papa." Ujar Keenan terkekeh, ia dengan jail nya menoel-noel hidung putri nya, membuat bayi cantik yang menyusu dengan anteng nya itu menggeliat.


"Jangan gitu ih nanti dia nangis." Tegur Kanaya sambil menepuk pelan punggung tangan suaminya.


"Habis nya dia rakus banget, nanti aku gak di sisain lagi." Ucap Keenan masih dengan aksi nya mengganggu putri nya yang sedang menyusu itu.


"Jauh-jauh sana. Ingat ya, puasa!"


Seketika Keenan mengadu sakit sambil mengusap lengannya yang terkena cubitan sang mama yang entah sejak kapan masuk kedalam ruang rawat Kanaya, tidak ia sadari.


'Mama gak tahu aja, aku tuh sejak awal nikah udah puasa.' Ucap Keenan dalam hati.


Vino yang berdiri di samping sang istri, terkekeh geli melihat putranya. Ia jadi teringat dirinya dulu saat Tania melahirkan putranya itu.


"Sabar ya gak akan lama kok, hanya 40 hari." Ucapnya menahan senyum.

__ADS_1


Keenan pun menanggapi nya dengan senyuman, 'Jangankan 40 hari, Pa. 9 bulan udah aku tahan setiap malam.' Batinnya. Senyum kecut terbit diwajahnya, mengingat beberapa malam belakangan ia sudah sering mencobanya. Namun, saat akan melakukan penyatuan istrinya selalu berteriak ketakutan padahal saat pemanasan Kanaya terlihat biasa saja.


"Cucu Nenek yang cantik ini apa sudah ada nama, hum?" Tanya Tania sambil mengusap pelan pipi bayi cantik itu.


"Belum, Ma. Nanti saja kalau sudah pulang." Jawab Keenan. "Sebenarnya aku juga pengennya bayiku memakai baju Kanaya saat bayi sebagai pakaian pertamanya. Tapi karena tadi aku panik dan buru-buru, aku jadi lupa membawanya." Lanjutnya.


"Baju Kanaya saat bayi?"


"Iya, Ma. Ternyata Ibu dan Ayahnya Kanaya masih menyimpan baju Kanaya saat masih bayi. Ada kalung dan gelang nya juga." Ujar Keenan.


Tania menganggukkan kepalanya, ia merasa kagum pada mendiang kedua besannya itu. Ia saja sudah tak menyimpan satupun pakaian bayi Keenan dan Anin. Semuanya diberikan ke panti asuhan.


Keesokan hari nya Kanaya dan bayinya sudah di perbolehkan pulang. Arland yang menggantikan Damar untuk mengantarkan Kanaya dan Keenan pulang sudah tiba dirumah sakit sejak beberapa jam lalu.


Di rumah utama, Anin dan Aryan dengan antusias menyiapkan box bayi di dalam kamar kakak nya, dengan di hiasi berbagai macam mainan yang tergantung di atas nya seolah si bayi cantik itu sudah bisa melihat.

__ADS_1


Mendengar suara klakson mobil, Anin dan Aryan bergegas keluar dari kamar kakak nya itu untuk menyambut kedatangan sang keponakan pertama yang juga adalah cicit pertama di keluarga Erlangga.


Anin yang tadi nya begitu semangat untuk menyambut kedatangan si bayi cantik, seketika menghentikan langkah nya di ambang pintu saat melihat sosok laki-laki yang beberapa hari ini membuat suasana hatinya sedikit tidak baik.


Arland yang baru saja turun dari mobil sambil menyugar rambutnya ke belakang yang membuat nya tampak mempesona di mata gadis yang sedang berdiri di ambang pintu dan tampa ia sadari terus menatap nya.


Anin terus menatap rekan kerja sekaligus sahabat Kakak nya itu hingga tanpa ia sadari Keenan dan Kanaya yang menggendong bayinya sudah berdiri di dekatnya.


Hingga Anin tersentak kaget ketika Aryan menarik tangannya.


"Kak Anin, lihat dedek bayinya cantik banget." Seru Aryan.


Anin pun mengalihkan tatapannya pada si bayi cantik yang berada dalam gendongan Kanaya. Gadis itu menundukkan kepalanya mencium pipi keponakannya.


"Wah cucu Nenek sudah datang rupanya, selamat datang sayang." Tania dengan senang nya langsung mengambil alih menggendong cucu cantiknya itu dan langsung membawa cucunya masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2