
Tak lama setelah Keenan dan Kanaya sampai di kantor polisi, Vino pun sampai. Pria paruh baya itu melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi sehingga bisa menyusul anak menantunya.
"Loh, Papa juga nyusul ke sini?" Keenan dan Kanaya yang baru saja turun dari mobil, terkejut melihat papa nya yang juga baru saja turun dari mobil.
"Semakin banyak yang mencari Vania, akan semakin cepat di temukan. Sebaiknya kau hubungi juga Arland." Jawab Vino dengan santainya kemudian melangkah masuk ke dalam kantor polisi sambil meregangkan otot-otot tangan nya seolah akan memasuki arena pertarungan yang siap mematahkan tulang-tulang musuh nya.
Beberapa polisi yang mengenal Vino, menyapanya dengan ramah dan Vino pun membalas dengan senyuman. Sesampainya di ruangan di mana pak Rizal masih melakukan laporan, Vino langsung mendududukkan tubuh nya di samping pria yang seumuran dengan nya itu. Di belakang nya berdiri Keenan, Kanaya serta Damar.
Tampak sekali kecemasan di wajah Rizal, namun melihat kedatangan Vino besert anak menantunya ia langsung menghela nafas lega seolah bala bantuan telah datang.
Vino menepuk bahu Rizal untuk menenangkan nya. "Vania pasti akan baik-baik saja dan akan segera di temukan."
__ADS_1
Setelah selesai membuat laporan, mereka semua keluar dari ruangan.
.
.
.
"Terima kasih atas perhatian kalian semua." Ucap Rizal setelah berada di luar kantor polisi. "Jika tidak ada kalian, aku akan benar-benar merasa sendirian." Lanjut nya dengan wajah sendu nya. Mendengar suara teriakan Vania yang meminta tolong dalam panggilan telephone yang hanya berdurasi lima detik membuat nya benar-benar ketakutan. Bayang-bayang saat kehilangan bayi nya kembali terlintas, ia takut jika Vania juga menghilang seperti bayi nya yang hingga saat ini tidak tahu di mana keberadaan nya.
"Terima kasih." Kedua mata Rizal berkaca-kaca menatap Kanaya, entah kenapa bila melihat menantu Erlangga itu ia bagai melihat mendiang istri nya. Mata nya sangat mirip.
__ADS_1
"Kanaya, berapa usia kamu sekarang?" Tanya Rizal tiba-tiba entah sadar atau tidak.
"Satu bulan lagi genap 20 Tahun, Om." Jawab Kanaya.
Rizal termangu. Kanaya, bukan hanya tatapan mata nya yang sangat mirip dengan Riska mendiang istri nya, tetapi Kanaya juga seusia dengan putri nya yang hilang. Alisya Wirawan nama nya, satu bulan lagi usianya juga genap dua puluh tahun. Andai saja putri nya itu tidak hilang, pasti sekarang sudah sebesar Kanaya.
"Ada apa, Om?" Tanya Kanaya.
"Gak apa-apa, Om cuma teringat dengan Adik nya Vania yang hilang. Om sangat takut kalau Vania juga..
" Kak Vania pasti akan baik-baik saja, Om." Sela Kanaya, wanita yang telah menjadi seorang ibu itu mendekati Rizal dan berdiri tepat di hadapan pria paruh baya itu. Kanaya tahu bagaimana rasa nya kehilangan, sangat menyakitkan bila orang-orang yang kita cinta tak berada di dekat kita lagi.
__ADS_1
Dengan jarak sedekat ini, Rizal bisa melihat kedua mata Kanaya yang memang sangat mirip dengan mendiang istri nya.
Kanaya yang tadi nya mendekati Rizal untuk menenangkannya, justru merasakan sesuatu yang lain. Ia merasa sangat dekat dengan lelaki paruh baya di depan nya ini.