
Keenan tergelak mendengar pengakuan Kanaya tentang apa yang membuat istrinya itu kesal dan mengatakannya tidak peka. Sepanjang jalan sepulang dari makan siang bersama Damar dan Vania di resto, Kanaya mendiaminya dan saat ditanya kenapa istirnya itu malah mengatainya tidak peka.
"Ya ampun, kau itu menggemaskan sekali. Kenapa tidak bilang kalau ingin disuapi." Keenan mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas.
Kanaya cemberut ditertawakan, menyesal ia memberitahu suaminya. "Sudah ku bilang itu hanya hal sepele tapi kau memaksa ingin tahu!" Ketus nya.
"Oke baiklah, kalau begitu sekarang kita ke dapur aku akan menyuapi mu."
"Gak usah, aku udah gak mau lagi."
"Serius udah gak mau lagi?"
"Iya, lain kali saja." Jawab Kanaya namun wajahnya masih saja cemberut.
"Baiklah, kalau begitu sekarang aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ujar Keenan.
Kanaya mengangguk, kemudian mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, begitupun dengan Keenan.
"Kau sudah dengar sendiri kan kalau malam ini kita di undang Pak Rizal makan malam dirumahnya?"
Kanaya mengangguk.
Keenan menggenggam sebelah tangan istrinya dengan erat, "Sebenarnya Aku sudah ingin menutup masalah penjebakan yang dilakukan Vania itu, tapi setelah aku pikir lagi bagaimana jika terjadi hal lainnya lagi karena mungkin saja Mama tiri Vania itu memiliki dendam dengan keluarga ku. Untuk membuktikannya maka malam ini kita harus mengajak Papa dan Mama untuk ikut, tapi Kanaya aku mengkhawatirkan mu."
Kanaya mengerutkan keningnya, "Aku kenapa?" Tanyanya.
"Agar semuanya bisa segera terungkap kita butuh bantuan Papa dan Mama, tapi dengan kata lain kita harus memberitahu mereka tentang apa yang sebenarnya telah terjadi antara kita berdua," Keenan menghentikan kalimatnya, ia menatap istirnya dengan sendu.
Kanaya tersenyum, ia mengerti apa yang sedang dikhawatirkan oleh suaminya ini.
"Aku gak apa-apa kok, lagipula sampai kapan masalah ini akan kita sembunyikan dari mereka. Mungkin mereka akan kecewa karena pernikahan kita tidak seperti yang mereka bayangkan, tapi aku yakin Mama dan Papa akan mengerti." Ucap Kanaya, namun iapun sebenarnya khawatir jika kedua mertuanya tahu bagaimana beberapa bulan ini ia memperlakukan Keenan dengan tidak baik.
"Terima kasih Kanaya, sekarang aku akan menemui Papa dan Mama. Dan sekarang kau bersiaplah, setelah aku bicara dengan mereka kita langsung pergi ke butik langganan Mama. Aku ingin malam ini Istriku tampil lebih cantik." Memberanikan diri, mengecup pipi istrinya secepat kilat kemudian bergegas keluar dari kamar.
__ADS_1
Kanaya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil memegangi pipinya, namun tak lama kemudian kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Hal menyebalkan seperti inilah yang ia rindukan saat Keenan mendiami nya.
.
.
.
Malam hari...
Di ruang keluarga semua sudah bersiap, tinggal menunggu kedatangan Damar dan Vania, mereka akan segera berangkat menuju kediaman Pak Rizal. Arland sudah datang sejak beberapa saat lalu, namun laki-laki tampan yang mendapat julukan om brewok itu tak turun dari mobilnya karena malas sekali bertemu si gadis tengik yang selalu membuatnya emosi hanya dengan melihatnya saja.
Tania tak lepas terus menggenggam tangan menantunya sembari menunggu kedatangan Damar dan Vania, dan tindakannya itu tak memberi ruang pada putranya untuk mendekati istrinya. Setelah Keenan memberitahu apa sebenarnya yang telah terjadi dibalik pernikahan anak menantunya ini. Justru yang dipikirkan Tania adalah Kanaya sendiri, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Kanaya malam itu yang pasti sangat terpuruk. Namun, ia juga tidak bisa menyalahkan Keenan karena itu terjadi bukan atas kehendak putranya. Pantas saja ia melihat sesuatu yang ganjal pada Kanaya saat awal pernikahan, dan ternyata seperti itu kejadiannya... Namun, lagi, terlintas pertanyaan bagaimana anak menantunya menjalani rumah tangga beberapa bulan ini?
Sementara yang ada dalam pikiran Vino, ia sangat tidak sabaran untuk segera bertemu dengan mama sambungnya Vania, orang yang menjadi dalang atas perbuatan terlarang yang dilakukan oleh putranya. Otaknya sudah dipenuhi tentang, akan ia apakan wanita itu nantinya. Kedua tangannya terkepal erat memikirkan hal itu.
"Mas, tolong disana nanti jangan terpancing emosi, tetap bersikap dengan tenang." Ujar Tania menegur suaminya, ia tahu betul bagaimana sifat Vino.
"Hem," Dan Vino hanya menjawabnya dengan deheman. Setelah tahu apa motif mama sambung Vania ingin menjebak putranya, ia tidak akan memberi ampun pada wanita itu tidak perduli siapapun dia. Ia tak akan melepaskan dengan mudah orang yang telah mengusik keluarganya.
Tanpa sadar Tania langsung melepas genggamannya pada Kanaya ketika melihat wanita yang datang bersama Damar. Ia perna melihat wanita itu di sebuah pusat perbelanjaan bersama seseorang dari masa lalu suaminya.
Tania pun mendekati suaminya dan membisikkan sesuatu. Yang seketika membuat Vino tampak marah namun Tania berusaha menenangkannya.
Dengan tak sabar Vino mengajak untuk segera berangkat menuju kediaman pak Rizal.
.
.
.
.
__ADS_1
Vania mati-matian menahan rasa yang berkecamuk di dada ketika mobil yang ditumpanginya telah berhenti di pelataran rumah masa kecilnya. Tatapannya tertuju pada pagar besi yang menjulang tinggi itu, masih terekam jelas bagaimana papanya mengusirnya dirinya saat itu.
"Ayo turun, "Vania terkesiap, ia tidak menyadari jika Damar telah membuka pintu mobil disampingnya.
"Jangan takut." Vania mengangguk lalu menyambut uluran tangan Damar.
Kanaya yang melihat itu dengan cepat mengalihkan tatapannya ke arah lain, bohong rasanya jika tak ada lagi perasaan untuk Damar. Namun, karena keputusan mantan kekasihnya itu sendiri dan juga dirinya sendiri yang telah bertekad untuk bisa menerima keadaan. Maka Kanaya akan berusaha menghapus segala rasa yang ada.
Pak Rizal yang melihat kedatangan tamu nya dari lantai atas bergegas turun untuk menyambut.
Dengan senyum hangat ia menyambut kedatangan keluarga Erlangga, namun senyumnya seketika surut saat tatapannya tertuju pada sosok yang tak ingin lagi dilihatnya.
Vania langsung menunduk ketika tatapannya bertemu dengan papanya, ia bisa melihat masih ada kebencian yang begitu besar dimata papanya.
Keenan pun maju dan memperkenalkan satu persatu keluarga nya. Semuanya bisa melihat raut terkejut pak Rizal saat Keenan mengatakan bahwa Vania adalah calon istrinya Damar. Namun, laki-laki paruh baya itu hanya diam saja seolah tidak mengenal Vania membuat Vino benar-benar kesal. Ayah macam apa yang dengan tega mengusir putrinya sendiri tanpa mencari tahu kebenarannya.
Tidak ingin berlama-lama dalam situasi yang serasa mencekam dirinya sendiri, pak Rizal pun mengajak para tamunya untuk masuk kedalam rumah. Menuntun keluarga Erlangga itu menuju ruangan yang sudah tersedia berbagai menu makanan di sana.
Setelah semuanya telah duduk di kursi masing-masing, pak Rizal berpamitan untuk memanggil istirnya.
Vino dengan tak sabar ingin segera bertemu dengan istri pak Rizal itu, bahkan tangannya terus terkepal seakan sedang menunggu lawan tarung. Sekali lagi Tania memperingati suaminya agar tidak terpancing emosi dan Vino hanya menanggapinya dengan senyuman.
Tak lama kemudian pak Rizal pun kembali bersama istrinya.
Deg...
Kedua mata Vino terbelalak saat melihat siapa wanita yang bersama pak Rizal itu. Begitupun dengan Tania, ia hampir tak mempercayai penglihatannya saat ini. Ternyata dugaannya benar. Keduanya menatap wanita disamping pak Rizal itu tanpa berkedip, sementara yang di tatap malah memasang wajah angkuhnya.
"Perkenalkan, ini Istri saya, Zara." Pak Rizal dengan bangganya memperkenalkan sang istri.
.
.
__ADS_1
.