Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 65. MENEMUI KANAYA


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Vania langsung mencari keberadaan papanya untuk memberitahu apa yang ditemukannya hari. Sebelum meninggalkan kediaman Erlangga, ia sempat memotret bayinya Kanaya dan akan memperlihatkan pada papanya.


Rizal yang sedang berada diruang keluarga menonton televisi, tersenyum melihat kedatangan putrinya. Ia melambaikan tangannya agar Vania segera mendekat. Setelah kepergian Zahra, tidak ada lagi yang ia miliki selain putri sulungnya itu.


Dengan cepat Vania melangkah mendekati papanya dan langsung mendudukkan tubuhnya di samping sang papa.


Dengan nafas yang sedikit memburu, Vania langsung saja menyerahkan ponselnya pada papanya.


Rizal yang merasa bingung, menatap ponsel itu dan Vania bergantian dengan kening berkerut.


Setelah mengatur nafasnya yang sedikit tersengal, Vania pun mulai berbicara.


"Pa, tadi aku ambil foto bayinya Kanaya, coba deh Papa lihat. Baju dan perhiasan bayi yang dipakai bayinya Kanaya sama persis dengan milik Alisya, Pa. Aku juga udah periksa dibalik induk kalungnya ada nama Papa dan Mama."


Mendengar penuturan putrinya, lantas Rizal segera membuka galeri foto di ponsel Vania.

__ADS_1


Seketika kedua mata Rizal membulat setelah melihat foto bayinya Kanaya.


"I-ni bagaimana bisa perhiasan bayi itu ada pada Kanaya? Kalung dan gelang milik Alisya tidak ada sama nya karena Papa memesannya secara khusus." Rizal tak lepas menatap foto bayinya Kanaya, lebih tepatnya terus menatap perhiasan yang dipakainya. Ia memesan gelang dan kalung itu secara khusus untuk Alisya atas permintaan mendiang istrinya.


"Pa, awalnya Kanaya berpikir itu adalah miliknya saat bayi karena ia menemukannya di dalam kotak tua milik orangtuanya. Tapi setelah aku memperlihatkan jika perhiasan bayi itu sama dengan milik Alisya, Kanaya jadi berasumsi jika mungkin saja kedua orangtuanya dulu membelinya dari seseorang." Ujar Vania.


Dengan cepat Rizal mengangkat pandangan menatap putrinya, "Kalau begitu sekarang ayo bawa Papa menemui orangtuanya Kanaya, kita harus tanya dimana mereka mendapatkan perhiasan bayi itu." Ujar Rizal terlihat antusias.


"Tapi Pa, kedua orangtuanya Kanaya sudah meninggal dunia." Ucap Vania dengan lirih, seandainya kedua orangtuanya Kanaya masih ada, mereka pasti bisa memberitahu di mana mereka mendapatkan perhiasan bayi itu.


Rizal langsung membuang nafasnya dengan berat, satu-satunya petunjuk untuk menemukan keberadaan putrinya hilang lagi dan lagi tidak menemukan titik akhir.


Beberapa saat terus menatap foto bayinya Kanaya, tiba-tiba Rizal dengan cepat kembali menegakkan posisi duduknya ketika mendapati sesuatu dari foto itu yang baru ia sadari.


"Ada apa, Pa?" Tanya Vania yang melihat papanya nampak terkejut.

__ADS_1


"Vania, coba kamu perhatikan foto bayinya Kanaya dan foto Alisya." Ujar Rizal sambil menunjukkan foto bayinya Kanaya lalu foto Alisya yang masih bayi.


Vania pun ikut memperhatikan kedua foto bayi tersebut, namun ia bingung kenapa papanya terlihat senang padahal sudah jelas Kanaya bukanlah Alisya.


"Coba kamu perhatikan baik-baik, bayinya Kanaya sangat mirip dengan Alisya." Ujar Rizal.


Seketika Vania mengalihkan tatapannya kearah papanya. Kemudian kembali menatap kedua foto bayi itu dengan saksama, dan Vania pun akhirnya menyadari memang ada kemiripan dengan kedua foto bayi itu.


"Pa...


"Mungkin saja kedua orangtuanya Kanaya bukanlah orangtua kandung Kanaya." Ucap Rizal menatap putrinya. "Sekarang juga Papa harus menemui Kanaya." Lanjutnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2