Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 39. MAU KULIAH?


__ADS_3

"Kak Kanaya." Panggil Anin.


Kanaya yang tadinya hendak ke kamar, membalik badannya kemudian menghampiri Anin yang memanggilnya.


"Kenapa, Anin?"


"Lihat ini," Anin memperlihatkan tiga lembar brosur dari tiga Universitas berbeda. "Menurut Kak Kanaya, yang mana yang bagus?"


Kanaya menatap satu persatu brosur itu dengan saksama, kemudian menunjuk salah satu diantaranya sambil tersenyum. Brosur, universitas yang dulu sangat diidamkan nya. Namun, kini hanya tinggallah angan.


"Apa ini adalah Universitas impian Kak Kanaya?"


Kanaya hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.


"Apa kak Kanaya mau kuliah? Ayo kita kuliah bareng." Ajak Anin dengan antusias.


Namun, Kanaya menggeleng dengan tegas. "Kakak pikir itu sudah gak mungkin." Ucapnya dengan lirih.


"Kenapa gak mungkin? Kalau Kak Kanaya mau kuliah, nanti Anin yang bilang sama Bang Keenan pasti dibolehkan."


"Bukan itu, Anin. Kamu lupa kalau sebentar lagi ponakan mu akan lahir?"


"Iya juga sih," Anin menggaruk pelipisnya. Dan di detik berikutnya. "Tapi kan setelah lahiran Kak Kanaya bisa kuliah, terus nanti bayi Kak Kanaya bisa memakai jasa baby sitter atau kalau enggak biar Mama yang jagain sampai Kak Kanaya pulang kuliah, gimana?" Anin masih mencoba membujuk kakak iparnya.


Dan lagi, Kanaya menggeleng kepalanya. "Enggak, Anin. Kakak mau mau fokus mengurus bayi Kakak aja, lagian Kakak juga udah gak kepikiran buat kuliah."


Anin mengangguk dengan lesu, seandainya kakak iparnya ini mau kuliah ia akan punya teman nantinya. Karena biasanya akan sulit mendapatkan teman di masa-masa ospek.

__ADS_1


Keenan yang baru masuk, langsung bergabung dengan istri dan adiknya.


"Boleh kok kalau kamu mau kuliah, biar Anin juga ada temannya biar gak bolos dan keluyuran." Ujar Keenan sembari merangkul pinggang istrinya. "Dan dia, biar kita gantian aja jagain nya." Sambungnya sambil mengusap perut buncit istrinya.


"Tuh kan dibolehin sama Bang Keenan."


Namun, Kanaya kembali menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku gak mau kuliah. Aku gak mau waktu ku sampai terbagi untuk dia." Kanaya pun mengusap perutnya. "


"Yah Kak Kanaya, ayo dong kuliah bareng Anin." Anin mengerucutkan bibirnya.


Kanaya menanggapinya dengan senyuman. "Pokoknya Anin yang semangat kuliah nya. Kejar cita-cita dan buat keluarga kita bangga sama Anin."


Anin pun tersenyum, ia mendekati kakak iparnya lalu memeluknya dan sebelumnya menepis dengan kasar tangan Keenan yang merangkul pinggang Kanaya.


Membuat Keenan mendengus kesal.


"Tumben nanyain, kangen ya?" Keenan terkekeh.


"Ish Bang Keenan, cuma nanya aja kok." Anin mengerucutkan bibirnya. "Biasanya kan, tuh si Om Brewok selalu bareng sama Bang Keenan, ya jadi heran aja gitu kok akhir-akhir ini udah jarang kelihatan tuh orang." Lanjutnya dengan mimik wajah yang kesal.


"Alah bilang aja kangen." Keenan masih mengolok adiknya. "Mau tau kenapa Arland akhir-akhir ini udah jarang bareng Bang Keenan lagi?" Tanyanya kemudian.


Anin tak menjawab, namun dari lirikan matanya sangat ingin tahu.


"Oh ya udah kalau gak mau tahu, Kanaya ayo kita ke kamar." Keenan merangkul istrinya hendak ke kamar. Namun, dengan cepat Anin mencegahnya.


"Nanti dulu perginya, Bang Keenan belum kasih tahu." Ujar Anin.

__ADS_1


"Kirain gak kau mau tahu."


"Hem, sekarang kasih tahu kenapa si Om Brewok udah jarang sama Bang Keenan lagi?" Tanya Anin sembari tersenyum tipis.


"Karena sekarang Arland udah punya pacar, dan sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktunya sama pacarnya itu. Dan juga katanya sih beberapa bulan lagi mereka akan menikah." Jawab Keenan.


Tiba-tiba saja raut wajah Anin berubah mendengar jika laki-laki yang ia sebut dengan Om Brewok itu ternyata sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi akan menikah.


"Oh baguslah kalau gitu, akhirnya si bujang lapuk akan melepas masa lajangnya." Anin terkekeh, namun di detik berikutnya raut wajahnya kembali datar.


"Bang Keenan, Kak Kanaya, Anin ke kamar dulu ya." Gadis yang sebentar lagi akan memasuki perguruan tinggi itu membalikkan badannya kemudian dengan langkah cepat berjalan menuju kamarnya.


Keenan dan Kanaya pun juga pergi ke kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Anin menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar yang baru saja ia tutup.


"Karena sekarang Arland udah punya pacar, dan sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktunya sama pacarnya itu. Dan juga katanya sih beberapa bulan lagi mereka akan menikah."


Ucapan Keenan beberapa saat lalu kembali terngiang. Anin menggeleng kepalanya, mencoba menepis sesuatu yang hinggap di pikirannya.


"Ah gak mungkin. Aku tuh cuma sedih aja karena nanti udah gak bisa gangguin dan buat dia kesal lagi." Anin bermonolog. Namun, sejujurnya ia juga tidak mengerti perasaan apa ini, tiba-tiba saja ia merasa sedih.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2