Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 67. TES DNA


__ADS_3

Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Kanaya menyetujui saran papa mertuanya untuk melakukan tes DNA bersama Rizal. Kanaya juga tidak mau masalah ini menjadi beban pikiran untuknya sendiri menganggap dirinya bukanlah anak ayah dan ibunya.


Setelah mengambil rambut Kanaya untuk dijadikan sampel DNA, Rizal dan Vania langsung saja menuju rumah sakit.


"Dok, berapa lama hasil DNA akan keluar?" Tanya Rizal kepada dokter yang akan melakukan tes DNA tersebut.


"Sekitar dua atau tiga hari, Pak." Jawab dokter itu. "Kami akan langsung mengabari Pak Rizal begitu hasil DNA telah keluar." Lanjutnya.


Rizal mengangguk, setelah mengucapkan terima kasih pada dokter itu iapun berpamitan pulang.


Sepanjang jalan, Rizal tampak tak tenang. Bahkan ia meminta Vania yang mengemudikan mobil sementara ia duduk disampingnya putrinya dengan tatapan lurus ke depan.


"Pa, panggil Vania, namun papanya itu hanya meliriknya sekilas tanpa berbicara.


Rizal tak sabar menunggu hasil tes DNA tersebut keluar. Jika Kanaya memang bukan Alisya putrinya yang hilang, setidaknya ia bisa mendapatkan petunjuk dari perhiasan bayi tersebut. Namun, sayangnya orang yang memiliki jawaban dari ini semua telah tiada.


Sementara itu, dikediaman Erlangga.

__ADS_1


Aryan terus menempel pada kakaknya seolah tidak ingin dipisahkan.


Aryan memang hanya seorang bocah berumur delapan tahun, tetapi ia cukup mengerti dengan apa itu tes DNA dan apa tujuan melakukan tes DNA tersebut. Terlebih mengingat Kanaya yang pernah mendapatkan donor darah dari pak Rizal.


Hal ini mengingatkannya pada kejadian satu tahun yang lalu saat kedua orangtuanya masih hidup.


Ayah pernah mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor darah. Namun, baik ibu maupun Kanaya tidak bisa mendonorkan darah karena memiliki golongan darah yang berbeda. Hanya Aryan yang memiliki golongan darah yang sama dengan ayah namun sayangnya tidak bisa menjadi pendonor karena masih terlalu kecil. Alhasil, ibu dan Kanaya harus mencari donor darah untuk Ayah.


Aryan berpikir, jika Kanaya memang bukanlah kakak kandungnya, bagaimana dirinya nanti? Memikirkan itu membuat Aryan merasa bersedih jika harus kehilangan Kanaya.


"Kak Kanaya Kakaknya Aryan kan? Bukan anaknya om Rizal?" Akhirnya Aryan mengeluarkan keresahannya.


Kanaya terkekeh sambil mengacak rambut adiknya itu dengan gemas, "Iya dong, Kak Kanaya ini ya kakaknya Aryan." Ucap Kanaya.


Namun, Aryan tidak merasa lega mendengarnya.


Melihat adik iparnya itu yang masih nampak murung Keenan pun mendekatinya.

__ADS_1


"Dengar Aryan, mau kak Kanaya ini anaknya siapapun tapi kak Kanaya ini tetap punya kita berdua. Tidak ada yang bisa mengambil kak Kanaya dari kita." Ujar Keenan meyakinkan adik iparnya itu.


Dan tetap saja itu tidak membuat Aryan tampak senang. Bocah tampan itu tetap saja masih tampak murung.


"Ayolah Aryan, kenapa kamu jadi gak bersemangat gini sih? Kalau kamu begini, bagaimana kamu bisa menjaga kak Kanaya agar tidak diambil orang. Ayo dong semangat!" Keenan berusaha menghibur adik iparnya.


Meski Keenan sendiri sebenarnya turut memikirkan hal ini. Namun, ia tidak perduli siapapun orangtuanya Kanaya sebenarnya baginya Kanaya tetaplah miliknya. Istri dan ibu dari anaknya.


Keenan merangkul kedua kakak beradik itu dengan erat, memberikan kehangatan pada keduanya agar pikirannya teralihkan dari permasalahan yang terjadi dalam beberapa hari ini.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2