
Pagi pukul tujuh, Vania sudah rapi dengan setelan kantornya. Yah, hari ini ia akan kembali ke perusahaan papa nya.
Di depan cermin, Vania tersenyum menatap pantulan dirinya.
Selama tiga bulan terpisah dengan papa nya, tinggal di apartemen dan bekerja sebagai pelayan cafe saat malam hari. Kini Vania telah kembali pada kehidupannya semula. Terbangun di pagi hari dengan begitu segarnya, semalam tidurnya sangat nyenyak setelah kembali pada kasur empuknya.
Vania segera mengalihkan tatapannya kearah pintu kamarnya ketika terdengar suara ketukan. Iapun mengambil tas nya kemudian melangkah ke arah pintu.
"Papa," ucapnya ketika baru saja membuka pintu.
Rizal tersenyum melihat putrinya yang telah rapi dengan setelan kantornya. "Vania, ayo cepat sarapan. Di luar Damar udah nungguin Kamu dari tadi."
"Damar?" Vania mengerutkan keningnya, Damar datang kerumahnya sepagi ini, mau apa?
"Katanya sih mau jemput Kamu, tapi kebetulan banget hari ini Papa ada meeting di perusahaan Erlangga dan Papa minta kamu yang gantikan Papa ya. Karena hari ini dan beberapa hari kedepannya mungkin Papa akan sibuk bulak balik kantor pengadilan agama."
"Jadi Papa serius mau pisah sama Mama Zara?" Vania nampak terkejut, meski mama sambungnya itu memang kurang baik tapi ia bisa melihat cinta yang begitu besar dimata papanya.
Rizal hanya menjawabnya dengan anggukan kecil, "Ya sudah cepetan sana sarapan, gak enak Damar udah nungguin."
"Em, aku nanti sarapan di kantor aja Pa." Ucap Vania lalu mencium punggung tangan papanya. Setelah itu ia bergegas menghampiri Damar di ruang tamu.
Vania langsung mendudukkan tubuhnya di samping Damar sambil menatap laki-laki itu dengan sebelah alis yang terangkat, "Gak di apartemen gak disini kamu selalu nyamperin aku pagi-pagi. Mau jadi supir aku atau jadi pengawal aku?" Vania terkekeh melihat wajah Damar yang cemberut.
"Enggak dua-duanya!"
"Terus?"
"Ya temenan aja." Jawab Damar.
"Oh," Vania mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Temenan aja gitu?" Tanyanya lagi.
"Iya."
"Kenapa?"
"Ya karena kamu orangnya asyik."
"Asyik kan yang mana, aku atau mantan mu?"
Damar berdecak kesal, "Kamu bilang aku harus move on, tapi kamu sendiri yang selalu mengingatkan aku dengannya."
__ADS_1
Vania terkekeh. "Sorry." Ucapnya. "Oh ya, kamu kesini pagi-pagi ada apa?" Tanyanya kemudian.
"Ya mau jemput kamu lah, Papa kamu udah bilang kan kalau hari ini ada meeting?"
Vania mengangguk. "Memangnya, meeting sepagi ini?"
"Ya sebenarnya tiga jam lagi sih, tapi aku jemput kamu sekarang karena mau ajak sarapan bareng." Jawab Damar.
"Wah kebetulan banget aku memang belum sarapan." Seru Vania dengan antusias kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Melihat Damar yang masih duduk iapun menarik tangan laki-laki itu melangkah ke luar rumah.
"Memangnya kamu mau ajak aku sarapan dimana? Terus menu nya apa? Jangan yang berminyak ya, gak bagus pagi-pagi makan yang begituan. Mending bubur ayam aja deh nyaman di perut harganya juga bersahabat. Kamu gak akan bokek walaupun aku makan sepuluh mangkok. Oh ya perginya pakai mobil aku aja ya, mobil kamu biar disini saja. Nanti kamu ambil kalau antar aku pulang."
Sepanjang langkah Vania terus berceloteh, membuat Damar tersenyum. Ia jadi teringat dengan Kanaya yang sama persis dengan Vania. Suka berceloteh panjang lebar saat berjalan.
.
.
.
"Tanya apa?" Tanya Tania, sementara Vino fokus pada koran yang dibacanya.
"Tadi malam Papa bilang sama Pak Rizal, kalau Papa dan Mama kenal dengan Istrinya Pak Rizal. Sebenarnya kalian ada permasalahan apa sehingga dia mau menghancurkan nama baik Erlangga?" Tanya Keenan.
Vino yang tadinya fokus membaca koran, langsung menatap putranya. Sementara Tania menghela nafas dengan panjang. Mungkin memang sudah seharusnya anak-anak mereka tahu tentang kisah masa lalunya dulu.
"Kasih tahu tuh." Vino mencolek lengan istrinya.
"Mas aja yang kasih tahu."
"Kamu aja."
"Mas aja."
Keenan dan Kanaya hanya bisa melongo melihat kedua orangtuanya itu berdebat saling menyuruh.
"Kamu aja."
"Oke, aku yang kasih tahu." Ujar Tania pada akhirnya, karena ia tahu suaminya itu tidak akan mau mengalah.
__ADS_1
Tania pun menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya dengan perlahan. Ingin menceritakan masa lalu, seperti akan mengikuti ajang kompetisi saja. Deg-degan. Terlebih ia akan bercerita kepada Putranya sendiri, yang mana Keenan juga berperan pada masa lalunya itu. Mengandung sang putra hanya sekedar menyewakan rahimnya demi biaya pengobatan ayahnya kala itu.
"Keenan, sebenarnya Zara itu, adalah mantan Istri pertama Papa kamu. Sebenarnya namanya Elzara." Ujar Tania, akhirnya kalimat itu terucap juga setelah beberapa saat mengatur deru nafasnya.
Bukan hanya Keenan, Kanaya pun ikut tercengang mendengarnya. Mereka pikir, Tania adalah satu-satunya wanita dalam hidup Vino melihat bagaimana harmonisnya dua paruh baya itu.
"Mantan Istri pertama Papa? Jadi Mama?"
Tania mengangguk pelan, dan kembali menghela nafasnya dengan panjang. "Mama hanya Istri kedua." Ucapnya dengan lirih, disertai senyum tipis.
Kedua mata Keenan tak berkedip menatap mama nya, ia benar-benar hampir tak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Wanita yang selalu di bangga-banggakan oleh papa nya, yang katanya adalah wanita terhebat dan tak ada duanya ternyata adalah istri kedua.
"Jangan menatap Mama mu seperti itu." Tegur Vino. Dan Keenan pun beralih menatap papanya.
Vino meraih tangan istrinya, menggenggamnya dengan erat kemudian berkata. "Meskipun Mama mu ini Istri kedua, tapi dia yang terbaik. Papa mendapatkan semuanya dari Mama mu yang tidak pernah Papa dapatkan dari Istri pertama Papa."
"Pa," Hanya kata yang terucap dari bibir Keenan. Kenyataan jika Mama nya adalah istri kedua membuatnya hampir tak bisa berkata-kata.
"Tapi asal kamu tahu, jika tak ada Mama mu mungkin hingga saat ini Papa tidak akan mempunyai keturunan. Tidak akan ada kamu dan Anin." Lanjutnya, yang membuat Keenan semakin tercengang.
"Maksud Papa?"
Vino menghela nafasnya sembari menatap putranya dengan lekat, kemudian menceritakan bagaimana awal mula hubungannya dengan Tania.
Semua bermula karena Elza, istri pertama Vino yang selalu menuduhnya tak bisa mempunyai keturunan sehingga Vino mencari wanita untuk ia sewa rahimnya untuk membuktikan jika ia tidak seperti yang dikatakan Elza.
Tania yang bekerja di perusahaannya sebagai cleaning servis, menerima tawarannya untuk menyewakan rahimnya karena saat itu juga sedang membutuhkan biaya pengobatan ayahnya.
Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang terjadi selama proses perjanjian pinjam rahim itu.
Vino memenjarakan Elza atas perbuatannya yang sudah mempengaruhi teman-temannya untuk menganiaya Tania yang saat itu sedang hamil besar. Kemudian Bara (papa nya Damar) menemukan fakta, bahwa Elza memang sengaja membuat dirinya tidak hamil, saat itu jugalah Vino menceraikannya yang masih berada didalam penjara.
Benih-benih cinta pun mulai tumbuh diantara Vino dan Tania hingga pada akhirnya Vino sendiri membatalkan perjanjian pinjam rahim itu dan meminta Tania menjadi Istri yang sesungguhnya. Merawat anak yang dikandung Tania bersama-sama.
.
.
.
__ADS_1