
Beberapa saat lalu setelah berada dalam suasana tegang melamar Vania secara dadakan, kini Damar merasa lega karena Vania menerima lamarannya namun... Terlihat sedikit keraguan diwajahnya.
Dan disini ia dan Vania berada sekarang, disebuah taman yang dulu sering ia datangi bersama Kanaya.
Beberapa saat keduanya masih hening, larut dengan pikiran masing-masing.
Melihat dari ekspresi Vania yang sejak tadi terus diam entah apa yang dipikirkannya, membuat Damar berpikir jika mungkin saja Vania hanya terpaksa menerima lamarannya karena tidak ingin mengecewakan orangtuanya ataupun papanya sendiri.
"Vania," panggil Damar.
Vania menoleh dengan sedikit mengembangkan senyum diwajahnya, dan itu malah terlihat seperti senyum yang dipaksakan dimata Damar. Terlebih sejak tadi Vania hanya diam saja tidak seperti biasanya akan banyak bicara jika mereka sedang berdua.
"Apa tadi kamu hanya terpaksa menerima lamaran ku? Jika iya, tidak apa-apa kalau sekarang kamu ingin membatalkannya." Ujar Damar lalu menundukkan kepalanya.
Vania mengerutkan keningnya, jadi Damar berpikir ia terpaksa menerima lamarannya?
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Apa aku kelihatannya terpaksa?" Tanya Vania.
Damar pun kembali mengangkat pandangannya menatap Vania, "Aku tidak tahu, tapi dari tadi kamu diam...
__ADS_1
"Dan kamu berpikir kalau aku terpaksa menerima lamaran Kamu, iya?" Sela Vania.
Damar mengangguk pelan yang membuat Vania terkekeh.
Justru aku terkejut kenapa kamu tiba-tiba melamar aku secara mendadak seperti ini, karena selama ini hubungan kita tidak ada yang spesial kita hanya berteman." Ujar Vania.
"Iya, kita memang hanya berteman dan juga tidak pernah ada ungkapan apapun diantara kita berdua. Tapi jika boleh jujur, kedekatan kita selama ini perlahan membuat aku merasa nyaman dan seiring berjalannya waktu aku menyadari jika aku menyukai kamu."
Vania tercengang mendengar penuturan Damar, ternyata selama ini bukan hanya dirinya yang merasa nyaman dengan kedekatannya bersama Damar, tetapi Damar sendiri ternyata juga merasa nyaman bersamanya.
"Aku pikir perasaanku bertepuk sebelah tangan, ternyata bersambut." Vania terkekeh lagi.
Vania mengangguk, Damar pun tersenyum. Ternyata selama ini mereka memiliki perasaan yang sama, nyaman dan pada akhirnya saling menyukai.
"Tapi aku ingin memastikan satu hal sebelum kita melangkah lebih jauh." Ujar Vania.
"Apa?" Tanya Damar.
"Tentang perasaanmu dengan Adikku, aku tidak ingin nanti ragamu bersamaku tapi hati dan pikiranmu masih tertuju padanya."
__ADS_1
Damar menggeleng pelan kepalanya sembari terkekeh, "Jika aku masih memikirkannya tidak mungkin aku melamar wanita lain." Ujarnya.
"Kan serius?"
Damar mengangguk, "Semua perasaanku padanya telah hilang, melihatnya bahagia aku juga turut senang sekaligus bangga pada diriku sendiri. Karena selama ini aku menjaga dengan baik jodoh Kakakku." Ucapnya terkekeh.
Vania pun terkekeh, tidak ada yang mengetahui bagaimana takdir seseorang akan berjalan. Karena dirinya, Damar dan Kanaya berpisah. Dan kini dirinya yang menjadi menggantikan posisi Kanaya di hati Damar. Sementara Kanaya sendiri sudah berbahagia bersama suami dan buah hatinya. Dan orang yang telah menjadi penyebab kisah ini terjadi telah beristirahat dengan tenang di alamnya yang baru.
Vania mengangkat pandangan menatap langit sambil tersenyum seolah sedang melihat seseorang diatas sana, jika boleh jujur ia sangat berterima kasih pada almarhumah mama Zara, karena dia sekarang dirinya telah dipertemukan dengan sosok laki-laki yang akan menjadi pendamping hidup nya.
'Terima kasih Mama Zara.'
.
.
.
SEKILAS INFO 🤠"KETULUSAN CINTA SEORANG ISTRI" Yg othor hapus karena ada saran revisi, sudah othor publish ulang dgn judul baru 👇👇👇
__ADS_1