
"Kanaya, kamu masih memikirkan tentang kejadian di restoran tadi?" Tanya Keenan setelah berada didalam kamar, istrinya itu kembali mendiaminya.
"Pikir saja, bagaimana aku tidak kepikiran? Seharusnya kamu sudah menikahi dia dan tentunya pasti akan bahagia jika saja kamu tidak menikahi aku. Aku bisa melihat dari matanya jika dia mencintai kamu, aku jadi merasa bersalah karena sudah menjadi penghalang diantara kalian berdua."
Keenan terkekeh mendengar celotehan panjang lebar istrinya. Laki-laki itu menarik pinggang sang istri, memeluknya dengan erat. "Jadi, kau cemburu jika dia mencintai aku, hum?"
"Aku tidak sedang bercanda!" Kanaya berusaha melepaskan diri dari pelukannya suaminya, namun usahanya itu sia-sia karena Keenan tidak akan melepaskannya.
"Menikah itu nasib, Kanaya, dan mencintai itu takdir. Kamu, Aku dan siapapun bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat di rencanakan cinta itu untuk siapa. Dengar Kanaya, belum tentu aku bahagia jika menikah dengan Vera, karena sama sepertimu dia pun adalah orang asing dalam hidupku. Tapi aku yakin, pertemuan kita bukan hanya sebuah kebetulan ataupun yang kau anggap kesialan."
Kanaya terpaku dalam pelukan suaminya, jangankan berusaha untuk melepaskan diri, bergerak saja ia tidak memiliki ruang. Keenan memeluknya dengan sangat erat.
"Mencintai dan dicintai memang menjadi harapan bagi setiap orang, namun pada akhirnya, hanya tiga hal yang berarti: seberapa banyak kau mencintai, seberapa lembut kau menjalani hidup, dan seberapa ikhlas kau melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untukmu. Dal hal yang paling sulit dalam mencintai, adalah memulainya. Terutama membuka hati, setelah membereskan yang lama. Kenangan dengan pasangan memang tidak bisa dengan mudah hilang. Hal itulah yang membuat hati belum bisa menerima datangnya orang baru disaat masih mengharapkan kasih dari orang yang lama. Jadi, hanya waktu yang bisa memberi kabar kapan hati dapat menerima cinta dari seorang yang baru. Tapi aku yakin, Kanaya. Di bagian sudut hatimu telah terukir namaku, hanya saja kau tidak menampakkan itu karena kau selalu mengedepankan egomu. Dan satu hal yang harus kau ingat bahwa aku mencintaimu, jangan hanya lihat cintaku dari mataku, tapi rasakan dari hatiku yang paling dalam ini. Letakkan tanganmu di dadaku, maka kamu akan merasakannya."
__ADS_1
Keenan mengangkat sebelah tangan Kanaya dan meletakkan di dadanya.
Kanaya pun sontak mengangkat pandangan menatap suaminya, ketika merasakan degup jantung suaminya dari telapak tangannya yang menempel di dada Keenan.
Tanpa berpikir panjang, Kanaya langsung saja melingkarkan kedua tangannya di pinggang Keenan, memeluk dan meletakkan kepalanya di dada sang suami. Mendengarkan degup jantung suaminya yang bagaikan sebuah irama cinta yang merdu.
Kanaya bukannya tidak tahu bagaimana perasaan Keenan beberapa bulan ini padanya, hanya saja karena kejadian yang mengawali pertemuan mereka membuatnya sulit untuk menerima dan berdamai dengan keadaan. Mungkin Keenan benar, pertemuan mereka ini bukan hanya sekedar kebetulan ataupun kesialan yang menimpanya, melainkan memang sudah menjadi jalan takdirnya.
"Ajari aku mencintaimu."
"Kanaya, kau bilang apa tadi? Coba katakan lagi?"
"Aku bilang, ajari aku mencintaimu." Ujar Kanaya mengulang kalimatnya.
__ADS_1
"Sungguh, Kanaya aku tidak salah dengar kan?" Keenan rasanya tak percaya mendengar penuturan istrinya.
"Tidak Keenan Erlangga. Seperti kamu yang mencintai aku, aku juga ingin belajar mencintai kamu."
Keenan tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya saat ini, tak ada sepatah kata pun yang sanggup ia ucapkan dan yang bisa dilakukannya hanyalah mengecup seluruh bagian wajah istrinya serta memeluknya dengan erat.
Meski bukan ungkapan cinta yang terlontar dari bibir istrinya, tetapi Keenan sangat merasa bahagia. Istrinya mengatakan ingin belajar mencintainya sudah membuatnya sangat senang. Dan ia yakin seiring berjalannya waktu cinta untuknya akan segera tumbuh di hati istrinya.
.
.
.
__ADS_1