Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 41. MAU LAHIRAN


__ADS_3

Rasanya, Keenan tak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya meskipun Kanaya sudah meminta dilepaskan karena merasa sesak. Namun, Keenan hanya melonggarkan pelukannya sedikit tanpa ingin mengurai.


"Kanaya, kamu kenapa?" Tanya Keenan saat mendengar istrinya yang meringis seperti kesakitan.


"Gak tahu. Tiba-tiba aja pinggul ku rasa nya nyeri." jawab Kanaya.


Mendengar itu, Keenan pun langsung mengurai pelukannya.


"Kita ke Dokter aja ya, aku khawatir kamu kenapa-kenapa." Ujar Keenan sambil membantu mengelus-elus pinggul istrinya.


"Gak usah. Mungkin ini efek menjelang mau lahiran, nanti nyeri juga bakal hilang sendiri." Ujar Kanaya sambil tersenyum. "Tuh kan udah gak nyeri lagi." Sambung nya saat sudah tak merasakan nyeri lagi di pinggul nya.


"Beneran udah gak sakit lagi?" Tanya Keenan memastikan.


Baru Kanaya akan menjawab 'iya', tiba-tiba pinggul nya terasa nyeri lagi dan semakin sakit menjalar ke perut nya.


"Aduh, sakit lagi. Perut ku juga sakit." Kanaya semakin meringis yang membuat Keenan semakin khawatir.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apa pun lagi Keenan langsung mengangkat tubuh Kanaya keluar dari kamar, ia tahu jika keluhan yang di rasakan Kanaya adalah tanda-tanda akan melahirkan. Beberapa hari ini ia sering membaca artikel di mbah Gugel tentang ciri-ciri akan melahirkan.


"Mama, Papa...!"


Vino dan Tania yang sedang bersantai di ruang keluarga, segera berlari begitu mendengar teriakkan Keenan yang menggema.


"Keenan ada apa? Kenapa Kanaya di gendong?"


"Ma, Kanaya kesakitan sepertinya sudah akan melahirkan."


Mendengar itu, Vino langsung saja berlari keluar rumah untuk menyiapkan mobil.


.


.


.

__ADS_1


Sesampai nya di rumah sakit, Kanaya langsung di bawa ke ruangan bersalin. Dokter menyarankan agar Keenan menemani istri nya selama proses pembukaan sampai waktu nya akan benar-benar melahirkan. Meski merasa takut, Keenan memberanikan diri menemani Kanaya.


Melihat istrinya yang terus merintih, tanpa sadar Keenan menitihkan air mata nya. Ia jadi teringat wanita yang sudah melahirkan nya, ternyata sebesar ini pengorbanan seorang ibu melahirkan anak nya bertaruh nyawa. Begitu pun dengan Kanaya, ia menggumamkan memanggil sang ibu di sela-sela rintihan nya menahan sakit. Andai saja ibu dan ayahnya masih ada.


"Sakit banget. Aku rasa nya gak kuat." Kanaya mencengkeram tangan Keenan dengan erat kala rasa sakit kembali terasa, dan melonggarkan cengkeraman nya saat sakit mulai mereda. Begitu seterusnya.


"Sabar ya, Dokter bilang sudah pembukaan lima dan itu arti nya sudah setengah jalan. Aku mohon kamu harus kuat untuk melahirkan anak kita, aku akan selalu di sini menemani kamu." Keenan balas menggenggam tangan Kanaya, sambil terus mengecup kening istrinya yang sudah di basahi keringat.


"Sakit banget. Aku gak kuat.'' Mata Kanaya sudah sembab dan memerah karena menahan sakit.


Mendengar istrinya yang terus mengeluh sakit dan merasa tidak kuat, Keenan sangat terguncang.


Tidak kuasa menemani Kanaya yang melahirkan dalam kondisi seperti ini.


"Kanaya, kita lakukan operasi caesar saja ya, aku gak tega lihat kamu kesakitan seperti ini." Ucap Keenan pada akhir nya, ia benar-benar tak kuasa mendengar rintihan istrinya.


Namun, dengan cepat Kanaya menggelengkan kepala nya. "Enggak, Aku gak mau di caesar." Ucap Kanaya dengan sedikit terengah karena menahan sakit.

__ADS_1


"Tapi aku gak tega lihat kamu kesakitan seperti ini, kalau di caesar kamu gak akan merasakan sakit seperti ini." Ucap Keenan berusaha membujuk istrinya.


"Enggak, Aku akan tahan sakit nya sampai anak kita lahir. Aku tidak mau di caesar, aku takut."


__ADS_2